Ayah,
adalah karang di samudra tak bernama,
berdiri kukuh menantang badai
meski tubuhnya digerus ombak usia.
Kau bagaikan pagi yang setia,
datang tanpa diundang, pergi tanpa jeda,
meninggalkan jejak-jejak ketulusan
pada langkah-langkah kami yang kadang ragu.
Di punggungmu, kulihat peta harapan,
di matamu, terpantul jutaan doa
yang diam-diam kau anyam di tiap malam
demi mimpi-mimpi kami yang melayang.
Ayah,
engkau tak pernah meminta mahkota,
tak pula mengeluh tentang letihnya jiwa.
Namun dalam bisik angin,
aku tahu, kau adalah cahaya senja
yang menuntun kami pulang
meski senyummu terkadang tak terbaca.
Biar lelahmu larut di ujung senja,
biar jejakmu terpatri di cakrawala,
kami, anak-anakmu, merangkai asa
dari tiap napasmu yang tak pernah reda.
![[PUISI] Karang di Samudra Tak Bernama](https://image.idntimes.com/post/20241113/pexels-josh-willink-11499-69096-5b377336e377e8611469c3affdbe9bd9-e90359fcbcc28728fbbf086f68a69b72.jpg)