Kita pernah jadi sebutan paling dekat,
aku dan kamu tanpa sekat.
Kini tinggal kata yang tersesat,
mencari makna yang terlewat.
Dulu namamu kupanggil terang,
sekarang diganti sunyi yang panjang.
Dalam kalimat yang patah-patah hilang,
kau berubah jadi “pernah” dan “kenang”.
Aku belajar memilih kata ganti,
agar rindu gak terus mengulangi.
Kau kusebut diam-diam di hati,
sebagai jeda yang tak kembali.
Pada akhir baris kututup cerita,
kehilangan tak lagi bernama.
Cukup satu kata sederhana,
diam yang paham segalanya.
