Mama masih bekerja sebagai guru
Raut muka yang siangnya diharuskan ceria
Saban malamnya justru menyembunyikan pilu
Pujaan hati mama, ayah
Tak lagi mengenal nama perempuan setia itu
Ia benar-benar kehilangan ingatan masa mudanya
Meski bahu bidangnya beringsut kuyu
Aku tetap berharap, kebahagiaan mau memihak
Pria yang setulus hati dirawat dengan cinta mama
Sebab rumah yang sediakala indah
Perlahan tampak asing diliputi sunyi senyap
Tersisa hanya mama dan si bungsu yaitu aku
Juga raga ayah yang tak bisa diajak banyak bicara
Mas Bayu, si tengah, sudah mangkat lebih dulu
Sementara mbak Miranti, kakak sulungku
Saat ini sibuk menjalani peran sebagai calon ibu
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Keluh si Sulung
![[PUISI] Keluh si Sulung](https://image.idntimes.com/post/20220508/pexels-media-5790716-1651984093127-875bf25e14e68fece8cbc1b552312854-8a4595eab395acba9c8b2ddf3afa10c5.jpeg)
ilustrasi pasangan lansia duduk bersama (pexels.com/Vlada Karpovich)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editor’s Picks
Editorial Team
EditorBintan Rahayu Anisah
Follow Us