Pagi yang segar
lama tak kuhirup —
tinggal harap
yang tak lagi hidup.
Dan kau,
yang memecahkan piring-piring
di saat laparmu,
membiarkan bisingnya
berserakan di lantai
sementara langkahku
tertatih,
menusuk tajam
di telapak kaki sendiri.
Malam,
jadi ladang mimpi buruk:
sepi menerkam,
jeritan memekik
tanpa satu pun yang peduli.
Lalu kini kau datang,
menjanjikan cahaya baru —
tapi,
bagaimana dengan waktu-waktuku
yang sudah lebih dulu
kau buat padam?
![[PUISI] Padam yang Tak Kau Lihat](https://image.idntimes.com/post/20250626/pexels-fotios-photos-1545494_3691fb61-607b-48db-869f-e1e7e65ad2b7.jpg)