Kuketemukan dirimu di lirihnya kemarau fajar, saat cahaya jatuh tanpa tergesa,
langit terbuka perlahan, dan perbukitan seolah berbisik tanpa suara.
Biru merendah, alam seperti menyimpan rahasia yang hanya kau dengar,
hidupmu tak riuh, tapi tertata sunyi, hadir tanpa harus bersandar pada gempar.
Menakar waktu dari terang yang singgah, bukan dari apa yang dipamerkan,
memilih dalamnya diam, tak dituturkan.
Kau tak terpikat gemerlap yang dipinjam, tapi pada langit yang bernapas pelan,
dengan mata yang sabar, merengkuh dunia tanpa perlu penegasan.
Lautmu yang dalam tampak sunyi di permukaan, namun menyimpan arus hangat tempat kembali jadi tujuan.
Kau bilang harimu berpendar, namun belum benar usai, melainkan jalan yang terus kau rajut, tempat ragu dan makna saling menyelami.
Dan aku, dari jauh, membaca yang tak kau ucapkan, menemukan sesuatu yang tumbuh lirih, pelan-pelan menjelma perasaan.
![[PUISI] Pelan](https://image.idntimes.com/post/20260506/pexels-2160611684-37116957_6dc854b4-ae45-4fea-aaf0-38073b3bc492.jpg)