Ia menjahit lukanya dengan sabar
Benang keberanian di tangannya tipis
Namun setiap tusukan jarum waktu
Perlahan menutup robek di hatinya.
Dunia sering memberi luka tanpa alasan
Tanpa permisi, tanpa penjelasan
Namun ia menolak menjadi serpihan
Ia memilih menyusun dirinya kembali
Di matanya ada hujan yang tertahan
Tapi juga langit yang luas
Sebab ia tahu tangis bukan kelemahan
Melainkan sungai menuju keteguhan
Dan saat lukanya akhirnya mengering
Ia tidak berubah menjadi dingin
Ia justru menjadi hangat
Seperti tangan yang pernah disembuhkan
![[PUISI] Perempuan yang Menjahit Lukanya Sendiri](https://image.idntimes.com/post/20260116/pexels-kseniachernaya-5806947_6f23ed7d-7500-4e91-8321-091de012b678.jpg)