Terlalu banyak insan melihat di balik tirai
Ternyata sedang menunggu sang mentari
Pada keteguhan hatinya yang kerap menyinari
Yang kerap menyimpan perih hati dengan lihai
Sorak suaranya yang tidak pernah didengar
Cerdasnya nalar dianggap sebagai ancaman
Tidak bisa dikendalikan ditandai sebagai sosok yang kasar
Badannya yang lemah hanya menjadi bahan bantingan
Kini, perempuan
Membuka matanya, untuk lahir pergi dari rasa suram
Dari langkahnya, tumbuh jalan yang belum pernah ada
Dan dari suaranya yang dahulu dibungkam,
Kini menggema menjadi arah bagi banyak jiwa
Hari pagi pun belajar darinya
Bahwa untuk menyinari dunia
Tak perlu menjadi sempurna
Cukup berani untuk tetap menyala
![[PUISI] Perempuan yang Menyalakan Pagi](https://image.idntimes.com/post/20260422/pexels-muhammad-taufiq-2151601143-32173149_4056de2e-fc52-41fb-95c4-da266ae59c42.jpg)