Di balik labirin kain yang melipat hangat,
kunyalakan cahaya kecil untuk menjarah sunyi dari rahim malam.
Sepuluh jemariku menjelma siluet-siluet ganjil yang merambat,
kelinci-kelinci bayangan yang menertawakan dunia yang kian padam.
Pada dinding kain yang kusam, mereka merayakan sebuah pesta rahasia,
berdansa lincah mengikuti detak jam yang berdebu dan sia-sia.
Tiada lagi gentar, tiada lagi pecahan duka yang tersisa,
hanya tawa yang meledak, tersembunyi rapat dalam saku semesta.
Saat binar senter mulai meredup ke peraduan,
kusimpan rahasia ini dalam lipatan-lipatan hening yang tenang.
Biar esok dunia kembali mengerang dalam dinginnya cobaan,
tawa ini telah kupeluk, abadi sebagai pemenang di tengah kesunyian.
![[PUISI] Pesta di Rahim Malam](https://image.idntimes.com/post/20260504/laszlo-barta-0mrhrmosbza-unsplash_7f3e3e70-6fa4-48d5-9ad5-359a34b7d1f9.jpg)