Di balik sapuan lipstik yang tipis dan rapi,
ada rahasia tentang kantuk yang ia lipat sendiri.
Sebelum dunia terbangun dan menuntut banyak peran,
ia telah lebih dulu menjinakkan pagi di antara asap dapur dan harapan.
Ia melangkah dengan sepatu yang menopang ribuan beban,
menembus riuh jalanan, menjadi jembatan bagi masa depan.
Di kantor, di pasar, atau di balik meja-meja tinggi,
jemarinya menenun mimpi, memastikan tak ada yang terhenti.
Dunia mungkin hanya melihat ia sebagai angka dalam presensi,
namun ia adalah napas bagi rumah yang selalu menanti.
Meski bahunya sering kali memikul lelah yang tak bersuara,
ia tetap menjadi pelita, menjaga senyum agar tak kunjung sirna.
Sebab baginya, bekerja bukan sekadar tentang mencari posisi,
tapi tentang membuktikan bahwa ketulusan adalah kekuatan yang paling abadi.
![[PUISI] Puan di Garis Depan](https://image.idntimes.com/post/20260429/pexels-fthdgrl-12624737_cc4141e2-f251-4e15-8aac-52328c2cde50.jpg)