Saat hari suci tiba
Senyumku tentu terlukis selebar-lebarnya
Saat hari suci tiba
Mataku tentu berbinar seindah-indahnya
Namun, ketika kaki-kaki tamu mulai menyapa
Hariku seolah menjadi kelabu tanpa aba-aba
Keresahan menjadi awan yang menutupi cerahnya
Keresahan tentang pertanyaan-pertanyaan yang akan aku terima
Keresahan tentang pernyataan-pernyataan yang mengusik kepala
Saat ku santap manisnya kue nastar
rasanya seketika menjadi hambar
setelah muncul suara-suara dari sekitar
dan kata "kapan?" yang tanpa sadar memberi tekanan besar
Padahal aku hanya ingin ketenangan,
dengan menikmati hari tanpa harus memikirkan jawaban
Padahal aku hanya ingin hadir dalam kebersamaan,
dengan duduk tersenyum tanpa harus menanggung beban tambahan
Aku menyukai hari ini
tapi tidak dengan ruang tamu yang selalu ingin aku hindari
Aku menyukai hari ini
tapi tidak dengan para tamu yang mengusiknya tanpa permisi
Aku menyukai hari ini
tapi tidak dengan pertanyaan yang seringkali menekan hati
![[PUISI] Ruang Tamu yang Ingin Aku Hindari](https://image.idntimes.com/post/20260315/pexels-pavel-danilyuk-8525665_635669a2-f440-4392-8359-c14af7e031ad.jpg)