Langit perempuan adalah hamparan senja,
Yang dipaksa kelam sebelum bintang bertakhta.
Angin patriarki berembus tajam,
Patahkan sayap sebelum terbang.
Dunia ini ladang bisu,
Suara perempuan ditanam tanpa tumbuh.
Patriarki bak rantai karat,
Melingkar di leher mimpi yang berat.
Tangan-tangan kuasa melukis garis,
Di pasir pantai jiwa yang menangis.
Ingat! Laut tak pernah diam,
Gelombangnya menghantam keangkuhan malam.
Kesetaraan bagai matahari pagi,
Terobos kabut abu-abu yang basi.
Ia letupkan api di hati yang beku,
Bagai mercusuar di samudra biru.
![[PUISI] Sayap Tak Terkepak](https://image.idntimes.com/post/20241116/pexels-nord6-792417-5b377336e377e8611469c3affdbe9bd9-8936cdae4f6affce60f0b34ead6d5b92.jpg)