Kita berjalan dengan langkah yang pincang
membawa beban yang tak selalu tampak
Setiap senyum hanyalah tirai tipis
menutupi riuh perih yang tak pernah habis
Untuk siapa kita bertahan di tengah luka?
Untuk ibu yang menunggu dengan doa?
Untuk anak yang menatap dengan harap?
Atau untuk diri sendiri, yang tak ingin runtuh sekejap?
Kadang jawaban itu hanyalah sunyi
tak ada nama, tak ada wajah yang pasti
Namun ada bisikan lembut dari dalam dada:
“Bertahanlah, sebab hidup pun tak selalu luka.”
Kita bukan sekadar tubuh yang rapuh
tapi jiwa yang tahu cara tumbuh
Dan bila akhirnya kita kembali bertanya
mungkin jawabannya sederhana
kita bertahan demi harapan yang belum tiba