Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[CERPEN] Sampai Mati
ilustrasi kebersamaan pasangan (pexels.com/RDNE Stock project)

Evan baru keluar dari kamarnya, mendengus jengkel sambil mengacak-acak rambutnya sendiri dengan gusar. Dia duduk di sofa ruang tamu, sementara tangannya mulai mengeluarkan rokok dari sakunya.

“Sialan.” Evan mengumpat saat mulai menyalakan ujung rokoknya. Kegagalannya dalam bercinta hari ini memicu rasa frustrasi di hatinya. Tak peduli seberapa keras dia berupaya, segalanya tak menuai hasil yang sesuai ekspektasi.

Sekar yang tadi menemaninya di kamar turut keluar, kini duduk di samping Evan. Sekar membelai pundak Evan dengan ringan, berniat menenangkan.

“Udah, nggak apa-apa. Aku paham, kok. Nanti kita coba lagi, ya?” Sekar mengatakannya dengan nada manja, sambil bergelayut di lengan Evan.

Bagi Evan sendiri, ucapan Sekar bak ejekan yang melukai egonya. Ia menepis tangan Sekar menjauh, menunjukkan tatapan tajamnya. Dengan amarah yang menguasai hatinya, Evan menempelkan ujung rokoknya yang menyala di lengan Sekar. Sekar mendesis perih, matanya berkaca-kaca. Rokok itu begitu menyiksa di kulitnya.

“Pergi,” ucap Evan dengan tegas, tak bisa dibantah.

Sekar segera bangkit dari sofa, mengambil tasnya dengan terburu-buru, meninggalkan Evan sendirian. Ia menutup mulutnya begitu berada di luar rumah, tak menyangka akan diperlakukan seburuk ini. Namun, helaan napas panjang meluncur dari mulutnya begitu Sekar menyandarkan punggungnya di tembok teras. Setidaknya, dia sudah menjauh dari lelaki dengan reputasi buruk itu.

Evan yang kini sendirian menaruh rokoknya di asbak, mulai menghubungi teman-temannya. Terlampau sulit baginya menghadapi masalahnya sendirian.

***

Malam itu, asap rokok memenuhi ruang tamu Evan. Evan beserta Anton dan Niko duduk di lantai dalam posisi melingkar. Kedua temannya itu tampak melongo sejenak usai mendengarkan masalah dari Evan. Mereka sampai kesulitan meresponsnya.

“Jadi lo, gak bisa lagi ereksi?” Anton bertanya ulang, mencoba memastikan dengan kebingungan yang menghiasi wajahnya.

Evan mengangguk dengan lesu, mendengus frustrasi. “Sejak gue berhasil menang dari taruhan itu. Sejak berhasil bercinta sama Indah, gak tahu kenapa gue jadi kayak gini.”

Untuk sesaat, mereka menunjukkan tatapan simpati tanpa mengatakan apa pun. Tentu saja, mereka tahu soal taruhan itu. Seperti kebiasaan, mereka selalu memilih perempuan sebagai target untuk dipermainkan. Jika berhasil meluluhkan sang korban, uang adalah hadiahnya. Mereka melakukannya demi kesenangan belaka.

“Tenang, bro.” Niko menepuk pundak Evan. “Gue tahu solusinya.”

Anton mengangkat alis ke arah Niko, tampak skeptis sekaligus penasaran. “Apaan, tuh?”

“Lo mungkin cuman belum puas bercinta dengan Indah. Lo tinggal deketin dia lagi, kan?” Niko mengatakan dengan santai, menganggap sarannya sendiri sebagai hal jenius. “Gue yakin setelah itu lo bakal berhasil.”

Evan menghela napas panjang. Ia meraih ponselnya di lantai, melihat berbagai pesan Indah yang selama ini diabaikannya setelah memenangkan taruhan itu.

“Tapi kan gue udah ghosting dia,” ungkap Evan.

“Ya tinggal lo deketin lagi, lah. Masa, playboy kayak lo gini aja gak bisa?” Niko mengatakan dengan ringan. Seringai jail menghiasi wajahnya.

“Kayak gak punya malu aja gue,” gumam Evan.

“Idih, sejak kapan lo punya malu?” Anton mengatakan dengan nada mengejek.

“Sialan lo,” Evan mendesis, menatap Anton dengan tajam.

Anton dan Niko hanya terkekeh geli. Kemudian, percakapan mereka berubah menjadi lebih ringan. Sementara itu, Evan sibuk dengan pikirannya sendiri yang berkecamuk. Ia mulai mempertimbangkan untuk menuruti saran Niko.

***

Evan terlalu frustrasi dengan situasinya. Ia telah menghubungi Indah berulang kali, tapi tidak kunjung mendapatkan balasan. Dengan segenap keberanian, Evan memasuki kafe di hadapannya. Kafe yang biasa didatangi Indah untuk mencari inspirasi.

Senyumannya mengembang saat melihat Indah duduk di dekat jendela. Seperti dugannya. Bagi Evan, Indah hanyalah perempuan biasa yang mudah ditebak. Naif dan mudah luluh pula.

Evan menghampirinya dengan langkah percaya diri. Ia memamerkan senyuman hangat yang dipenuhi kepalsuan saat duduk di hadapan Indah. Ia bahkan menyapa dengan nada yang manis, “Indah, apa kabar?”

Indah yang sejak tadi menatap ke luar jendela menoleh pada Evan. Untuk sesaat, paras manisnya tampak terkejut. Namun, ekspresinya kembali berubah jadi datar. Ia tidak merespons apa pun.

“Indah, gue kangen,” kata Evan. Ekspresinya menunjukkan kesenduan yang dibuat-buat. Matanya tampak memelas. “Gue merasa bersalah banget karena ninggalin lo gitu aja. Bukan maksud gue buat manfaatin lo doang.”

“Kamu bisa melihatku, ya?” Indah mengatakannya dengan dingin. Ekspresinya sulit ditebak. Tak ada lagi kehangatan dari tatapannya. Tak ada lagi reaksi salah tingkahnya yang menggemaskan.“Mengesankan. Padahal aku sudah mati, lho.”

Evan terkekeh geli. “Candaan kamu masih sama kayak dulu, ya. Garing banget. Tapi tetep gemesin, kok.”

Hanya saja, Indah tak tertawa. Ekspresi perempuan itu masih sama, tanpa emosi apa pun. Evan jadi berdeham, menghentikan kekehannya dengan canggung. Ia yang biasanya begitu mudah tebar pesona kini tampak salah tingkah. Ia bahkan menggaruk tengkuknya, kala ketidaknyaman menelusup di dadanya dari cara Indah menatapnya. Tatapan Indah yang begitu menusuk. Menakutkan.

“Kalau gak percaya, coba aja genggam.” Indah mengulurkan tangannya yang tampak terlalu putih dan memucat ke arah Evan.

Evan dengan ragu mencoba meraih tangan itu, mencoba menggenggamnya. Namun, yang dirasakannya hanyalah udara dingin yang menembus kulit. Pada akhirnya, Evan hanya mengepalkan tangannya sendiri, menembus tangan Indah yang tak bisa disentuh.

Tubuh Evan membeku. Bisik-bisik dan tatapan heran pengunjung kafe padanya mendadak disadari olehnya. Seolah dia tengah berbicara sendiri, atau itulah kenyataannya. Indah menyeringai dengan menyeramkan, bertopang dagu sambil menatap Evan dengan intens.

“Kurang lebih aku tahu kenapa kamu kemari.” Indah memecah keheningan, tapi Evan tetap membeku menatapnya. “Lagipula, aku dengerin percakapan kamu sama teman-temanmu itu beberapa hari lalu, kok.”

“Indah, gue…” Ucapan Evan menggantung. Lelaki itu tampak linglung. Ia menelan salivanya sendiri dengan susah payah. “Ini pasti… mimpi, kan?”

Indah menggelengkan kepala dengan santai. “Sama sekali bukan. Aku beneran mati. Dan, tahu gak, apa yang kukatakan tepat sebelum mobil itu menabrakku?” Indah menjeda ucapannya, membuat Evan makin bergidik ngeri. “Aku mengutuk kamu, Evan. Mengutuk agar kamu tidak bisa lagi bercinta dengan perempuan lain. Sampai mati.”

Pada momen itulah, Evan menyadari, masa depannya telah hancur. Tak bisa lagi diperbaiki.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAtqo Sy