ilustrasi makan bareng di restoran (pexels.com/Ron Lach)
Banyak restoran sadar bahwa musik bisa jadi alat untuk meningkatkan keuntungan. Sejak era 1990-an, beberapa chef mulai memutar musik yang lebih keras untuk menciptakan suasana tertentu. Tren ini kemudian diikuti banyak restoran lain, terutama dengan desain interior yang memantulkan suara seperti konsep industrial modern. Kombinasi ini membuat suasana jadi semakin ramai dan bising.
Survei dari Consumer Reports menunjukkan bahwa kebisingan menjadi keluhan utama pelanggan restoran, bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan pelayanan buruk atau kebersihan. Meski begitu, dari sisi bisnis, suara keras terbukti meningkatkan perputaran meja dan konsumsi pelanggan. Artinya, restoran bisa melayani lebih banyak orang dalam waktu lebih cepat. Strategi ini memang efektif, meski gak selalu disukai pelanggan.
Volume musik di restoran ternyata bukan sekadar pelengkap suasana, tapi bagian dari strategi yang cukup “cerdik”. Mulai dari bikin kamu minum lebih banyak, makan lebih cepat, sampai memilih menu yang kurang sehat, semuanya bisa dipengaruhi oleh suara.
Menyadari hal ini bikin kamu jadi lebih waspada saat makan di luar. Pilihan tetap ada di tanganmu, mau ikut arus atau tetap mindful dengan apa yang kamu konsumsi. Jadi, lain kali kalau kamu merasa suasana terlalu bising, mungkin itu bukan kebetulan.