Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi donat bertopping
ilustrasi donat bertopping (commons.wikimedia.org/Jiddah5212)

Donat sejak lama menjadi camilan favorit karena mudah ditemui, rasanya enak, serta kerap menemani dalam berbagai momen hidup yang spesial. Perkembangannya tak hanya berhenti di variasi adonan, sebab ide topping donat kini ikut menentukan daya tarik sejak pandangan pertama.

Persaingan dalam dunia F&B (industri kuliner) membuat tampilan donat menjadi salah elemen penentu dalam keputusan seseorang sebelum membeli. Kreativitas pada tiap topping donat perlahan berubah menjadi penentu ciri khas yang membedakan produk satu dengan lainnya. Lantas apa saja topping yang bisa kamu jadikan ide? Simak pembahasan berikut.

1. Perpaduan matcha memberi kesan segar dan kekinian

ilustrasi donat topping matcha (vecteezy.com/Eliza Enggal Darmajayanti)

Matcha menghadirkan rasa pahit-manis ringan yang terasa segar saat menyentuh lidah. Warna hijau alaminya langsung membuat donat terlihat berbeda dibanding topping manis biasa. Pilihan topping ini sering dipilih karena tampilannya yang eye catching serta mudah dikenali.

Kualitas matcha sangat memengaruhi hasil akhir rasa donat, sehingga pemilihan bubuk perlu diperhatikan sejak awal. Matcha yang terlalu kasar atau berkualitas rendah cenderung meninggalkan pahit tajam, sehingga lebih aman dipadukan bersama glaze susu atau krim tipis agar rasanya tetap seimbang. Penggunaan matcha secukupnya menjaga rasa donat tetap dominan tanpa tertutup oleh pahit teh hijau.

2. Taburan gula halus menghadirkan nostalgia masa kecil

ilustrasi donat topping gula halus (vecteezy.com/Sirichai Asawalapsakul)

Gula halus sering menjadi pilihan topping karena langsung menempel pada permukaan donat yang hangat begitu diangkat dari minyak. Rasa manisnya terasa lembut, menyatu perlahan bersama adonan tanpa mendominasi bahkan pada gigitan pertama. Tampilan putih tipis di atas donat memberi kesan sederhana seperti jajanan pagi masa kecil yang biasa ditemui di warung, pasar atau etalase kecil toko kue di dekat rumah.

Saat digigit, gula halus langsung larut mengikuti tekstur donat yang empuk. Tidak ada rasa lengket berlebihan atau aroma tambahan yang mengganggu. Meski sering meninggalkan bekas serta sedikit belepotan topping  gula halus selalu punya tempat tersendiri di hati penikmatnya. Faktor nostalgia ini juga lah yang membuat donat dengan topping gula halus selalu laris manis dan digemari meski tren topping terus berubah.

3. Topping cokelat meski klasik tapi tak pernah sepi peminat

ilustrasi donat topping cokelat (commons.wikimedia.org/Horacio Cambeiro)

Cokelat kerap dipilih karena rasanya mudah diterima lintas selera serta langsung memberi kesan mewah pada donat. Lapisan cokelat leleh yang disiram hangat akan membentuk permukaan donat mengilap sekaligus aroma manis yang cepat tercium. Tekstur cokelat yang sedikit mengeras di luar lalu lumer saat digigit menciptakan sensasi makan yang sulit untuk dihentikan.

Rasa cokelat yang pekat membuat donat terasa lebih berisi tanpa perlu tambahan topping berlebihan. Warna cokelat tua memberi kontras yang cantik terhadap warna adonan yang cenderung pucat sehingga tampilan donat terlihat makin menarik. Pilihan ini sering dianggap aman karena hampir selalu berhasil menarik perhatian pembeli.

4. Kacang cincang menghadirkan sensasi renyah yang bikin nagih

ilustrasi donat topping kacang (commons.wikimedia.org/Willis Lam)

Kacang-kacangan dipakai sebagai topping donat karena memberi tekstur yang tidak dimiliki adonan donat itu sendiri. Donat pada dasarnya lembut dan manis, sehingga kehadiran kacang seperti kacang tanah, almond, mede cincang, atau pecan memberi tambahan sensasi renyah. Di banyak gerai donat, kacang tanah masih menjadi pilihan paling umum karena mudah diperoleh, rasanya netral, serta cocok untuk berbagai jenis donat.

Kacang biasanya dipasangkan bersama glaze, cokelat atau karamel karena rasa gurih kacang lebih keluar saat bertemu rasa manis. Almond sering dipakai pada varian donat bergaya modern karena aromanya ringan dan tampilannya rapi, sementara mede memberi rasa lebih buttery dan terasa lebih penuh di mulut. Kombinasi ini membuat donat terasa lebih seimbang, tidak hanya manis, tetapi juga memiliki tekstur yang unik saat digigit.

5. Sprinkles warna-warni memperkuat kesan ceria dan playful

ilustrasi donat topping sprinkle (vecteezy.com/Kristsyna Shoba)

Sprinkles awalnya dipakai sebagai hiasan kue di Eropa Barat sebelum akhirnya populer di Amerika Serikat pada pertengahan abad ke-20, terutama untuk donat serta cupcakes yang ditujukan bagi anak-anak. Fungsinya sederhana yakni untuk memberi warna, menambah tekstur, serta membuat tampilan donat terlihat lebih hidup tanpa mengubah rasa adonan. Di Indonesia, sprinkles sering disamakan dengan meses cokelat, padahal keduanya berbeda karena sprinkles asli biasanya berbahan gula berwarna dan memiliki rasa netral.

Selain meses cokelat yang paling umum, sprinkles juga hadir dalam aneka warna-warni, bola kecil berlapis gula, hingga varian metalik yang sering dipakai pada donat premium. Alasan topping ini bertahan lama bukan soal rasa, melainkan ia selalu menarik perhatian sejak pandangan pertama. Donat ber-sprinkles sering dipilih secara impulsif karena tampilannya terasa ceria serta mudah diterima semua usia.

6. Keju parut memberi sentuhan gurih yang memperkaya rasa

ilustrasi donat topping keju (vecteezy.com/Lucy Liestiyo)

Penggunaan keju pada donat awalnya populer dari toko roti bergaya Amerika serta Eropa yang gemar memadukan rasa manis dan gurih dalam satu sajian, lalu diadaptasi luas di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Jenis keju yang paling sering dipakai adalah keju cheddar karena rasanya cukup asin, aromanya kuat, serta mudah ditemukan. Keju diparut agar bisa menempel merata di permukaan donat tanpa membuat teksturnya berat saat digigit.

Keju parut juga dipilih karena tidak cepat meleleh terkena suhu donat yang masih hangat. Serat tipis hasil parutan memberi sensasi gurih ringan di setiap gigitan tanpa menutup rasa adonan. Biasanya agar menempel sebelum diberi parutan keju, donat terlebih dulu dilapisi krim atau margarin. Perpaduan manis dan asin inilah yang membuat donat keju terasa lebih seimbang dan mudah diterima banyak lidah.

7. Glaze mengilap memberi sensasi lumer di mulut

ilustrasi donat topping glaze (commons.wikimedia.org/Jen Arrr)

Glaze pertama kali populer di Amerika Serikat ketika donat mulai diproduksi massal pada awal abad ke-20, karena lapisan gula cair ini membuat donat tampak cantik. Glaze sendiri campuran gula halus yang dilarutkan memakai air, susu, atau air perasan jeruk, lalu disiram tipis di atas donat hangat hingga membentuk lapisan licin mengilap. Varian glaze berkembang dari  yang polos sampai aneka macam seperti cokelat, stroberi, kopi, tiramisu, karamel hingga vanila.

Donat ber-glaze biasanya dinikmati bersama kopi hitam atau teh tawar karena rasa manisnya terasa lebih seimbang saat dipadukan minuman pahit. Pilihan glaze tipis sering disukai orang yang tak terlalu menyukai rasa manis karena hanya memberi sentuhan gula, bukan lapisan tebal. Karakter glaze yang ringan membuat donat tetap nyaman dimakan kapan saja tanpa terasa berat di lidah.

Ide topping donat terus berkembang mengikuti selera pasar. Pilihan topping sering kali menjadi penentu apakah sebuah donat hanya terlihat biasa atau justru langsung dilirik sejak pertama kali terpajang di etalase atau feeds media sosial. Kalau diberi kebebasan bereksperimen, ide topping donat seperti apa yang paling ingin kamu tawarkan supaya donatmu punya daya tarik sendiri?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team