Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Potret table manner
Potret table manner (pexels/mali maeder)

Table manner atau etika makan seringkali dianggap sebagai aturan kaku yang hanya berlaku di restoran mewah. Padahal, penerapan table manner tidak terbatas pada jamuan formal saja. Etika makan merupakan bagian dari sikap sopan santun yang mencerminkan kepribadian, rasa hormat terhadap orang lain, serta kemampuan beradaptasi dalam berbagai situasi sosial.

Memahami kapan dan di mana table manner perlu diterapkan akan membantu seseorang bersikap lebih percaya diri saat makan bersama, baik dalam suasana santai maupun formal. Berikut penjelasan mengenai situasi yang mengharuskan penerapan table manner serta alasan penting di baliknya.

1. Acara resmi dan jamuan formal

Table manner paling ketat diterapkan dalam acara resmi, seperti jamuan kenegaraan, gala dinner, atau makan malam formal perusahaan. Dalam situasi ini, etika makan menjadi bagian dari protokol yang harus diikuti.

Mulai dari cara duduk, penggunaan alat makan, hingga sikap selama makan, semuanya perlu diperhatikan. Kesalahan kecil, seperti menggunakan sendok garpu yang tidak sesuai urutan, bisa dianggap kurang sopan. Oleh karena itu, memahami table manner dasar sangat penting saat menghadiri acara formal, agar tidak menimbulkan kesan negatif.

2. Makan di restoran mewah

Potret makan di restoran fine dining (pexels.com/Ron Lach)

Restoran fine dining biasanya memiliki standar pelayanan dan suasana yang lebih formal dibandingkan restoran biasa. Di tempat seperti ini, table manner berfungsi untuk menjaga kenyamanan bersama, baik bagi tamu lain maupun staf restoran.

Mengunyah dengan mulut tertutup, tidak berbicara terlalu keras, serta menggunakan alat makan dengan benar merupakan contoh etika sederhana yang sebaiknya diterapkan. Dengan begitu, pengalaman makan menjadi lebih menyenangkan bagi semua pihak.

3. Acara keluarga resmi atau undangan khusus

Table manner juga perlu diperhatikan saat menghadiri acara keluarga yang bersifat resmi, seperti makan bersama keluarga besar, acara pertunangan, atau jamuan hari raya. Meski suasananya lebih akrab, etika makan tetap mencerminkan sikap saling menghormati.

Bersikap sopan saat makan, tidak bermain ponsel di meja, serta menunggu semua orang sebelum mulai makan adalah contoh penerapan table manner yang relevan dalam konteks ini.

4. Makan bersama rekan kerja atau relasi bisnis

Potret makan di restoran fine dining (unsplash.com/Jay Wennington)

Jamuan makan dengan rekan kerja atau klien sering menjadi bagian dari aktivitas profesional. Dalam situasi ini, table manner dapat memengaruhi penilaian terhadap profesionalisme seseorang.

Menghindari kebiasaan yang mengganggu, seperti makan dengan suara keras atau berbicara sambil mengunyah, menjadi hal penting. Etika makan yang baik menunjukkan bahwa seseorang mampu bersikap profesional di luar lingkungan kerja formal.

5. Acara internasional atau lintas budaya

Saat berada dalam acara internasional atau lingkungan lintas budaya, table manner menjadi semakin penting. Setiap budaya memiliki aturan makan yang berbeda, sehingga memahami etika dasar membantu menghindari kesalahpahaman. Mengamati kebiasaan tuan rumah, bersikap terbuka, dan mengikuti aturan umum seperti tidak menyela saat orang lain makan dapat menjadi langkah aman dalam situasi ini.

6. Kapan table manner bisa lebih fleksibel?

Potret makan malam dengan teman (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Dalam situasi santai seperti makan bersama teman dekat atau keluarga inti di rumah, table manner tidak perlu diterapkan secara kaku. Namun, etika dasar seperti menjaga kebersihan, menghormati orang lain, dan tidak mengganggu tetap relevan.

Intinya, table manner bukan tentang membatasi kenyamanan, melainkan tentang menyesuaikan sikap dengan situasi yang dihadapi. Dengan memahami konteks dan menyesuaikan perilaku, table manner justru bisa menjadi kebiasaan positif yang membuat suasana makan terasa lebih nyaman dan berkesan bagi semua orang. Setuju?

Editorial Team