Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Blue Cheese Aromanya Tajam?
blue cheese (freepik.com/valeria_aksakova)

Pernah gak sih kamu mencium aroma blue cheese untuk pertama kali dan langsung merasa kaget karena aromanya begitu tajam? Banyak orang bahkan menganggap keju ini “aneh” dan cenderung menghindarinya sebelum benar-benar mencoba. Padahal, di balik aromanya yang menyengat, blue cheese justru jadi favorit banyak pencinta kuliner di berbagai belahan dunia.

Hal ini sering memunculkan rasa penasaran, bagaimana bisa sesuatu dengan aroma yang begitu kuat justru dinilai nikmat oleh sebagian orang? Faktanya, aroma khas tersebut tidak muncul secara kebetulan, melainkan terbentuk dari proses alami yang unik dan melibatkan peran mikroorganisme tertentu. Nah, daripada terus menebak-nebak, yuk cari tahu penjelasan ilmiah di balik bau tajam blue cheese yang sering jadi perdebatan ini!

1. Peran jamur penicillium di balik aroma tajam

blue cheese (unsplash.com/Towfiqu barbhuiya)

Banyak orang langsung mengernyit saat mencium aroma blue cheese karena aromanya yang khas dan cukup menyengat. Padahal, aroma ini berasal dari jamur khusus bernama Penicillium roqueforti yang memang sengaja ditambahkan dalam proses pembuatan. Jamur tersebut tumbuh di dalam keju dan menciptakan garis-garis biru atau hijau yang jadi ciri khasnya.

Dalam proses tersebut, jamur akan memecah komponen dalam keju dan menghasilkan senyawa kimia yang memicu aroma kuat sekaligus khas. Hal inilah yang membuat blue cheese memiliki karakter rasa dan bau yang berbeda dibanding jenis keju lainnya. Dengan kata lain, aroma tajam itu merupakan hasil dari proses alami yang dikendalikan dengan baik, bukan karena keju sudah tidak layak konsumsi.

2. Proses fermentasi yang membentuk karakter rasa

blue cheese (pexels.com/www.kaboompics.com)

Tidak sedikit yang mengira aroma tajam pada blue cheese menandakan kualitasnya kurang baik atau sudah tidak layak konsumsi. Padahal, aroma tersebut justru muncul dari proses fermentasi yang berlangsung lama dan terkontrol, sehingga menghasilkan rasa yang lebih kaya dan kompleks. Selama proses ini, mikroorganisme aktif menguraikan lemak dan protein menjadi senyawa yang lebih sederhana, yang kemudian membentuk karakter rasa dan aroma khas pada keju tersebut.

Hasilnya adalah kombinasi rasa gurih, asin, sekaligus aroma yang kuat. Proses ini membutuhkan waktu dan kondisi tertentu agar hasilnya optimal. Semakin lama fermentasi berlangsung, biasanya aroma yang dihasilkan juga semakin intens.

3. Senyawa kimia yang memicu aroma yang menyengat

blue cheese (unsplash.com/atared althaqeb)

Saat pertama kali mencium blue cheese, banyak orang merasakan aroma yang sangat kuat, menusuk, dan cukup sulit digambarkan dengan kata-kata. Hal ini terjadi karena terbentuknya senyawa seperti metil keton selama proses pematangan keju berlangsung. Senyawa tersebut muncul dari pemecahan lemak oleh jamur selama fermentasi, sehingga menghasilkan aroma khas yang tajam dan berbeda dari keju pada umumnya.

Dampaknya, aroma yang muncul jadi lebih kuat dan khas dibanding keju biasa. Meski terdengar ekstrem, senyawa ini justru aman dikonsumsi dalam jumlah wajar. Bahkan, inilah yang membuat blue cheese punya identitas rasa yang sulit ditiru.

4. Adaptasi lidah terhadap rasa dan aroma unik

ilustrasi makan blue cheese (freepik.com/freepik)

Banyak orang langsung tidak suka saat pertama kali mencoba blue cheese karena aromanya yang cukup kuat. Namun seiring waktu, lidah bisa beradaptasi dengan rasa tersebut jika dicoba perlahan. Fenomena ini mirip seperti saat seseorang pertama kali minum kopi pahit atau makan makanan fermentasi lainnya.

Pada awalnya mungkin terasa asing dan cukup mengejutkan di lidah, tetapi seiring waktu rasa tersebut bisa mulai diterima bahkan dinikmati. Karena itu, blue cheese sering disebut sebagai “acquired taste” yang baru terasa nikmat setelah beberapa kali dicoba. Jika ingin mencobanya, mulailah dari porsi kecil agar lidah punya waktu beradaptasi secara bertahap.

5. Perbedaan dengan keju biasa yang lebih ringan

berbagai jenis keju (freepik.com/azerbaijan_stockers)

Banyak yang sering membandingkan blue cheese dengan keju seperti cheddar atau mozzarella karena aromanya terasa jauh lebih lembut dan familiar. Perbedaan ini sebenarnya berasal dari metode pengolahan serta jenis mikroorganisme yang digunakan selama proses pembuatannya. Berbeda dengan blue cheese, keju pada umumnya tidak melibatkan pertumbuhan jamur khusus yang berperan dalam membentuk aroma tajam tersebut.

Akibatnya, aroma yang dihasilkan cenderung lebih lembut dan familiar. Hal ini membuat sebagian orang lebih mudah menerima keju biasa dibanding blue cheese. Namun, justru keunikan inilah yang membuat blue cheese punya daya tarik tersendiri bagi pecinta kuliner.

6. Cara menikmati blue cheese agar lebih bersahabat

blue cheese dengan biskuit (pexels.com/Irina P)

Tidak sedikit yang langsung enggan mencoba setelah mencium aroma blue cheese karena terkesan terlalu kuat di awal. Padahal, keju ini justru lebih nikmat jika dipadukan dengan makanan lain seperti salad, roti, atau buah yang bisa menyeimbangkan cita rasanya. Perpaduan tersebut membantu meredam kesan tajam sekaligus membuat rasanya terasa lebih ringan dan mudah dinikmati.

Selain itu, menyajikannya dalam suhu ruang juga bisa membantu mengeluarkan aroma yang lebih seimbang. Dampaknya, pengalaman makan jadi lebih menyenangkan dan tidak terlalu “mengejutkan”. Jadi, kunci menikmati blue cheese bukan hanya pada rasanya, tapi juga cara penyajiannya.

Aroma tajam blue cheese bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan bagian dari keunikan yang membuatnya istimewa. Di balik aromanya yang kuat, ada proses alami dan ilmiah yang justru menciptakan cita rasa khas yang sulit ditemukan pada keju lain. Jadi, daripada langsung menilai dari aromanya, cobalah pahami dan nikmati sensasi uniknya dengan cara yang tepat.

Referensi:

“Secondary Metabolites Produced by the Blue-Cheese Ripening Mold Penicillium roqueforti: Biosynthesis and Regulation Mechanisms.” Journal of Fungi. Diakses April 2026. https://www.mdpi.com/2309-608X/9/4/459

“Strong Effect of Penicillium roqueforti Populations on Volatile and Metabolic Compounds Responsible for Aromas, Flavor and Texture in Blue Cheeses.” International Journal of Food Microbiology. Diakses April 2026. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0168160521001331

“Evaluation of Lipolysis and Volatile Compounds Produced by Three Penicillium roqueforti Cultures in Blue Cheese.” Italian Journal of Food Science. Diakses April 2026. https://www.itjfs.com/index.php/ijfs/article/view/375

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team