blue cheese dengan biskuit (pexels.com/Irina P)
Tidak sedikit yang langsung enggan mencoba setelah mencium aroma blue cheese karena terkesan terlalu kuat di awal. Padahal, keju ini justru lebih nikmat jika dipadukan dengan makanan lain seperti salad, roti, atau buah yang bisa menyeimbangkan cita rasanya. Perpaduan tersebut membantu meredam kesan tajam sekaligus membuat rasanya terasa lebih ringan dan mudah dinikmati.
Selain itu, menyajikannya dalam suhu ruang juga bisa membantu mengeluarkan aroma yang lebih seimbang. Dampaknya, pengalaman makan jadi lebih menyenangkan dan tidak terlalu “mengejutkan”. Jadi, kunci menikmati blue cheese bukan hanya pada rasanya, tapi juga cara penyajiannya.
Aroma tajam blue cheese bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan bagian dari keunikan yang membuatnya istimewa. Di balik aromanya yang kuat, ada proses alami dan ilmiah yang justru menciptakan cita rasa khas yang sulit ditemukan pada keju lain. Jadi, daripada langsung menilai dari aromanya, cobalah pahami dan nikmati sensasi uniknya dengan cara yang tepat.
Referensi:
“Secondary Metabolites Produced by the Blue-Cheese Ripening Mold Penicillium roqueforti: Biosynthesis and Regulation Mechanisms.” Journal of Fungi. Diakses April 2026. https://www.mdpi.com/2309-608X/9/4/459
“Strong Effect of Penicillium roqueforti Populations on Volatile and Metabolic Compounds Responsible for Aromas, Flavor and Texture in Blue Cheeses.” International Journal of Food Microbiology. Diakses April 2026. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0168160521001331
“Evaluation of Lipolysis and Volatile Compounds Produced by Three Penicillium roqueforti Cultures in Blue Cheese.” Italian Journal of Food Science. Diakses April 2026. https://www.itjfs.com/index.php/ijfs/article/view/375