Ilustrasi gingerbread cookies (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)
Berbeda dengan kue kering lain yang punya rasa manis dominan, setiap gigitan kue jahe memberikan sensasi sedikit rasa pedas di mulut. Sebab, kue jahe menggunakan berbagai rempah seperti kayu manis bubuk, jahe bubuk, nutmeg, bahkan kapulaga.
Namun, siapa sangka jika rempah-rempah inilah yang kemudian jadi alasan kenapa kue jahe diidentikkan dengan perayaan Natal. Dilansir English Heritage, di masa lalu, rempah-rempah memiliki harga yang sangat mahal di Eropa sana. Saking mahalnya, rempah sampai dijadikan alat untuk menunjukkan kelas sosial. Alih-alih menyajikan rempah mentah, mereka membuat hidangan dengan rasa rempah yang kuat seperti kue jahe sebagai cara untuk pamer.
Di sisi lain, harga rempah yang mahal juga membuat orang Eropa hanya menggunakannya saat momen tertentu aja, termasuk saat perayaan Natal. Momennya semakin pas karena Natal terjadi saat musim dingin di mana suhu jatuh hingga ke titik minus. Di suhu sedingin itu, mengonsumsi makanan dengan cita rasa yang kuat menjadi cara terbaik untuk menghangatkan tubuh.
Bagi kita, kue jahe mungkin gak ada bedanya dengan kue kering lain yang disajikan saat perayaan Natal. Namun di masa lalu, kue jahe jelas memiliki "kasta" yang berbeda dibandingkan dengan kue lainnya. Saat ini, harga rempah-rempah memang jauh lebih terjangkau, tetapi tradisi membuat dan menyajikan kue jahe saat momen Natal gak pernah benar-benar hilang. Sebaliknya, tradisi ini justru menyebar hingga ke negara di luar Eropa, termasuk Indonesia.