Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi kue manis khas Taiwan
ilustrasi kue manis khas Taiwan (unsplash.com/id/@skylerewing)

Intinya sih...

  • Kue bulan atau yuebing, kue tradisional Taiwan dengan beragam isian seperti biji wijen hitam, kacang hijau, dan daging babi panggang

  • Fènglísū, kue isi selai nanas yang terkenal sejak Dinasti Tiga Kerajaan di Tiongkok

  • Kue matahari atau tai yang bing, kue manis ikonik Kota Taichung dengan tekstur renyah dan rasa manis mirip madu

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Tak hanya dikenal lewat pasar malamnya yang meriah, jangan lewatkan ragam kue manis khas Taiwan yang menggoda selera. Memliki perpaduan budaya Tiongkok, Jepang, dan lokal membuat dessert Taiwan punya cita rasa unik, lembut, tapi gak terlalu manis. Jadi gak heran kalau kue-kuenya selalu menjadi buruan wisatawan.

Mulai dari kue tradisional hingga dessert modern, kue manis khas Taiwan menawarkan pengalaman rasa yang berbeda di setiap gigitan. Tekstur renyah, aroma susu, hingga isian kacang dan taro menjadi ciri khas yang sulit dilupakan. Nah, artikel ini akan mengajakmu mengenal deretan dessert dan pastry ala Taiwan yang wajib dicoba, cocok banget buat oleh-oleh sampai Indonesia!

1. Kue bulan

ilustrasi kue bulan tiong ciu pia (unsplash.com/Chinh Le Duc)

Bukan cuma Singapura atau Tiongkok yang terkenal dengan yuebing atau kue bulan. Di Taiwan, kue bulan disebut yuebing dan menjadi makanan wajib ada saat Imlek dan Festival Pertengahan Musim Gugur atau Festival Bulan. Bentuknya bulat sempurna memaknai bulan sekaligus keutuhan keluarga.

Yuebing tradisional terbuat dari adonan dasar yang disebut yueh ping  dan lalu diisi dengan biji wijen hitam atau pasta biji teratai, bersama dengan kacang hijau, daging babi panggang, kacang merah, kurma, dan kuning telur bebek asin. Sedangkan versi modern tentu lebih beragam seperti buah-buahan, cokelat, bahkan krim keju.

Cara makan kue bulan pun cukup unik dan sarat makna. Biasanya, yuebing dipotong menjadi beberapa bagian kecil agar bisa dinikmati bersama-sama. Kue ini lalu disajikan bersama teh China yang rasanya cenderung hambar namun pekat, supaya cita rasa kue bulan tetap menonjol.

2. Fènglísū

ilustrasi kue nanas (pexels.com/@ph-m-thanh-d-t-1295528)

Fènglísū, kue manis sekaligus oleh-oleh terkenal dari Taiwan yang berupa kue isi selai nanas. Sesuai namanya, fèng lí berarti nanas , dan sū , yang berarti kue bolu. Bagian luarnya terdiri dari kulit yang renyah dan bermentega, lalu diisi dengan selai nanas yang rasanya asam dan sedikit manis.

Dulu, fènglísū dibuat besar-besar dan menjadi makanan penting pada masa Dinasti Tiga Kerajaan di Tiongkok. Konon, kaisar Shu mengirimkan kue nanas besar sebagai hadiah saat ingin menikahi saudara perempuan kaisar Wu, lho. Kini, kue nanas ini dibuat mungil sekali makan sehingga memudahkan buat jadi kudapan sampai buah tangan.

Ada beberapa tempat beli oleh-oleh terkenal di Taiwan yang menjual fènglísū. Di antaranya adalah Sunny Hills, Chia Te Bakery, Kuo Yuan Ye, dan masih banyak lainnya.

3. Kue matahari

ilustrasi kue marahari (pexels.com/@kevin-kap-2154146852)

Kue manis khas Taiwan selanjutnya adalah tai yang bing atau kue matahari. Menjadi ikon Kota Taichung, konon kue ini sudah ada sejak era Dinasti Qing dan mudah ditemukan di hampir setiap toko roti di kota tersebut. Karena kerap dibeli sebagai buah tangan, tai yang bing biasanya dikemas dalam kardus cantik yang menarik perhatian.

Soal rasa, bisa dibilang sangat manis dan mirip madu. Tekstur luarnya renyah dengan kulit tipis tapi berlapis-lapis, sementara bagian dalamnya berisi pasta maltosa yang lembut dan bermentega. Perpaduan ini membuat tai yang bing terasa ringan tapi tetap legit.

Cara menikmati tai yang bing pun cukup beragam. Selain disantap bersama teh tawar hangat, kue ini kerap dijadikan hidangan penutup seperti bubur dengan cara direndam air hangat sampai lembek. Tak jarang pula, tai yang bing dicelupkan ke dalam susu almon hangat, salah satu menu sarapan favorit masyarakat Taichung.

4. Millet bunun cake

ilustrasi kue manis khas Taiwan (unsplash.com/id/@skylerewing)

Kue millet bunun mungkin belum sepopuler kue lainnya. Namun, hidangan tradisional yang berasal dari Aborigin Taiwan ini gak kalah enak dan menarik. Kue ini berbahan dasar millet atau biji-bijian ketan lokal yang menjadi tanaman pangan berharga dan simbol kebahagiaan serta keberuntungan

Bubuk millet akan direndam dalam air, direbus, lalu ditumbuk menjadi adonan lengket yang kemudian dikukus di dalam pembungkus daun pisang. Rasa manisnya menggunakan madu, sehingga menjadi salah satu kudapan sehat karena bahan-bahannya juga alami.

Punya tekstur yang lengket, biasanya millet bunun dinikmati dengan anggur yang juga dibuat dari millet. Secara tradisional, kedua hidangan ini disiapkan di perayaan dan hari libur, seperti Malam Tahun Baru dan pernikahan.

5. Lǎopó bǐng

ilustrasi lǎopó bǐng

Meskipun dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai “Wife Cake” atau “Sweetheart Cake” yang dapat diartikan kue kekasih atau kue istri, lǎopó bǐng secara harfiah artinya “kue nenek” atau “kue wanita tua”. Di satu sisi, sama seperti dalam budaya Barat, istilah “wanita tua” dalam budaya Tiongkok kerap digunakan untuk merujuk pada seorang istri.

Lǎopó bǐng cukup mudah ditemukan di toko-toko kue Taiwan. Rasanya balance antara manis dan gurih, plus punya tekstur kenyal. Kue berbentuk bulat pipih ini memiliki kulit berlapis yang renyah, lalu bagian dalamnya punya isi dari campuran labu, pasta almon, dan wijen, yang membuatnya punya tekstur mirip ketan.

Berbagai kue manis khas Taiwan di atas gak hanya hanya menawarkan rasa, tapi juga cerita, tradisi, dan budaya yang menyertainya. Dari yang tradisional sampai berubah jadi versi yang lebih modern, masing-masing menawarkan ciri khas unik yang sayang dilewatkan. Kalau kamu, penasaran dengan kue yang mana, nih?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team