Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apa Metode Memasak yang Paling Sehat untuk Daging Kurban?
ilustrasi metode masak daging kurban (pexels.com/Andry Sasongko)
  • Beragam metode memasak seperti merebus, memanggang, mengukus, slow cooking, dan menumis memengaruhi kadar lemak, protein, serta tekstur daging kurban yang dikonsumsi setelah Iduladha.
  • Merebus dan mengukus membantu menjaga daging tetap lembut serta rendah lemak, sementara memanggang dan tumis cepat bisa sehat asal suhu tidak terlalu tinggi dan minyak digunakan secukupnya.
  • Teknik slow cooking dinilai paling ramah bagi pencernaan karena suhu rendah membuat daging empuk tanpa kehilangan rasa alami maupun kandungan gizinya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Daging sapi sering menjadi menu utama setelah Iduladha, tetapi cara mengolahnya ternyata ikut menentukan kualitas gizinya. Banyak orang fokus memilih bagian daging yang rendah lemak, padahal teknik memasak juga berpengaruh pada kandungan protein, kadar lemak, hingga senyawa yang terbentuk selama proses pemanasan.

Metode yang terlihat sepele, seperti suhu api atau durasi memasak, bisa membuat daging terasa lebih ringan atau justru sulit dicerna tubuh. Karena itu, penting untuk memahami metode memasak yang paling sehat untuk daging kurban, agar tidak sekadar enak di lidah saja. Berikut beberapa metode memasak yang paling sehat untuk daging kurban dan tetap cocok untuk selera masakan rumahan.

1. Merebus daging membantu lemak berlebih larut ke kuah

ilustrasi merebus daging (unsplash.com/Shahrukh Rehman)

Merebus menjadi salah satu metode yang cukup aman untuk menjaga daging tetap rendah minyak karena prosesnya tidak membutuhkan tambahan lemak dari luar. Saat daging sapi dimasukkan ke air panas dalam waktu tertentu, sebagian lemak akan keluar dan mengapung di permukaan kuah sehingga lebih mudah dipisahkan. Cara ini juga membuat tekstur daging perlahan melunak tanpa harus terkena suhu ekstrem yang terlalu tinggi. Bagi orang yang memiliki masalah kolesterol atau gangguan pencernaan, metode rebus biasanya terasa lebih nyaman di perut dibandingkan dengan daging yang digoreng kering.

Namun, ada hal yang sering luput diperhatikan saat merebus daging kurban. Banyak orang membiarkan kuah tetap bercampur dengan lapisan lemak yang sudah mengambang sehingga kalori tetap tinggi meski teknik masaknya terlihat sehat. Kuah sebaiknya didinginkan beberapa saat agar lemak mudah dipisahkan sebelum dipanaskan kembali. Selain itu, penggunaan rempah seperti jahe, bawang putih, dan lada hitam dapat membantu mengurangi aroma prengus tanpa perlu tambahan santan berlebihan. Teknik sederhana seperti ini membuat olahan daging terasa lebih ringan tanpa kehilangan rasa gurih alaminya.

2. Memanggang daging membuat kalori tambahan lebih terkontrol

ilustrasi memanggang daging (pexels.com/Mihaela Claudia Puscas)

Memanggang sering dianggap lebih sehat karena tidak membutuhkan banyak minyak seperti proses menggoreng. Saat daging sapi dipanggang di atas grill atau oven, lemak dari permukaan daging akan menetes keluar selama proses pemanasan berlangsung. Teknik ini membantu mengurangi asupan lemak jenuh yang biasanya menempel pada bagian luar daging. Selain itu, aroma smoky dari proses pemanggangan membuat rasa daging tetap kuat meski bumbu yang digunakan tidak terlalu berat.

Meski begitu, suhu yang terlalu tinggi saat memanggang bisa memunculkan senyawa tertentu yang kurang baik bagi tubuh jika dikonsumsi terus-menerus. Bagian daging yang terlalu gosong sebaiknya tidak dimakan karena terbentuk akibat pembakaran protein dan lemak pada suhu ekstrem. Banyak orang juga lupa bahwa marinasi ternyata punya fungsi lebih dari sekadar memberi rasa. Campuran bawang putih, jeruk nipis, atau rosemary dapat membantu mengurangi pembentukan senyawa hasil pembakaran saat daging dipanggang. Karena itu, memanggang tetap bisa menjadi pilihan sehat selama prosesnya tidak membuat permukaan daging hangus berlebihan.

3. Mengukus daging bantu menjaga tekstur tetap lembut lebih lama

ilustrasi mengukus daging (commons.wikimedia.org/Peachyeung316)

Metode kukus jarang dipilih untuk daging sapi karena dianggap kurang menarik dibandingkan sate atau gulai. Padahal, teknik ini cukup baik untuk menjaga kelembapan daging tanpa membuat kandungan lemak bertambah. Uap panas membantu daging matang perlahan sehingga seratnya tidak cepat mengeras. Cara ini cocok untuk potongan daging yang tipis atau sudah dipotong kecil karena hasil akhirnya lebih lembut dan tidak terlalu berat saat dimakan.

Keunggulan lain dari teknik kukus terletak pada penggunaan bumbu yang biasanya lebih sederhana. Daging tidak perlu direndam terlalu lama dalam santan atau minyak agar terasa nikmat karena aroma rempah akan lebih mudah meresap lewat uap panas. Banyak orang juga tidak sadar bahwa daging yang terlalu kering sering membuat tubuh terasa cepat haus setelah makan. Proses mengukus membantu cairan alami daging tetap terjaga sehingga rasa gurihnya muncul tanpa tambahan penyedap berlebihan. Metode ini memang tidak sepopuler bakaran atau gorengan, tetapi cukup efektif untuk orang yang ingin menikmati daging sapi tanpa rasa enek.

4. Slow cooking membuat daging lebih mudah dicerna tubuh

ilustrasi sop buntut (pexels.com/Fadli Octora Channel)

Teknik slow cooking mulai sering digunakan karena membuat daging sapi matang perlahan dengan suhu rendah dalam waktu cukup lama. Proses ini membantu jaringan ikat pada daging terurai lebih pelan sehingga teksturnya menjadi empuk tanpa perlu banyak minyak. Bagi sebagian orang, daging yang dimasak terlalu cepat terasa lebih keras dan membuat perut cepat penuh. Karena itu, slow cooking sering dianggap lebih nyaman untuk pencernaan, terutama pada potongan daging kurban yang berserat padat.

Ada alasan lain mengapa teknik ini mulai banyak dipilih untuk menu sehat. Suhu rendah membantu cairan alami daging tetap bertahan sehingga kandungan rasa tidak mudah hilang selama proses pemasakan. Bumbu juga lebih meresap tanpa perlu tambahan garam berlebihan karena waktu masaknya cukup panjang. Banyak orang mengira semakin lama daging dimasak, gizinya otomatis hilang, padahal yang lebih berpengaruh justru suhu terlalu tinggi dalam waktu singkat. Selama tidak menggunakan santan berlebihan atau lemak tambahan terlalu banyak, slow cooking bisa menjadi alternatif yang lebih ramah bagi tubuh.

5. Menumis cepat membantu nutrisi daging tidak cepat rusak

ilustrasi menumis daging (pexels.com/ Collab Media)

Menumis sering dianggap kalah sehat dibandingkan dengan merebus atau mengukus karena memakai minyak. Padahal, teknik tumis cepat dengan api sedang justru bisa menjaga tekstur dan kandungan protein daging tetap baik jika dilakukan dengan benar. Kuncinya terletak pada durasi memasak yang singkat sehingga permukaan daging matang tanpa kehilangan terlalu banyak cairan alami. Cara ini juga membuat daging tidak terlalu alot karena seratnya tidak terkena panas terlalu lama.

Jenis minyak yang dipakai ikut menentukan hasil akhir masakan. Minyak dengan titik asap tinggi seperti minyak canola atau minyak alpukat lebih stabil saat dipanaskan dibandingkan dengan minyak yang mudah gosong. Selain itu, penggunaan wajan panas membantu daging cepat matang tanpa harus memakai minyak dalam jumlah besar. Banyak orang memasak tumisan terlalu lama sampai bumbu mengering dan warna daging berubah gelap, padahal kondisi itu justru membuat tekstur menjadi keras. Jika dilakukan dengan tepat, tumisan sederhana bisa tetap terasa ringan dan lebih bersahabat untuk kesehatan dibandingkan dengan gorengan tepung yang berminyak.

Mengolah daging sapi dengan cara yang tepat dapat membantu tubuh menerima manfaat proteinnya tanpa tambahan lemak dan kalori berlebihan. Metode memasak yang tepat ternyata punya pengaruh besar terhadap rasa, tekstur, sekaligus kualitas gizi dari daging kurban yang dikonsumsi sehari-hari. Setelah mengetahui beberapa metode memasak yang paling sehat untuk daging kurban, kira-kira metode nomor berapa yang paling sering kamu pakai selama ini?

Referensi

"Healthy Ways to Process Qurbani Meat." Human Initiative. Diakses pada Mei 2026

"Tough Qurban Meat? Try These Natural Tips and Cooking Techniques from Nutrition Science Lecturer at IPB University." IPB University. Diakses pada Mei 2026

"Handling and cooking your Qurbani safely." Agriculture and Horticulture Development Board. Diakses pada Mei 2026

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team