ilustrasi kue pernikahan (unsplash.com/Jasmine Bartel)
Masuk ke pertengahan abad ke-20, selera orang-orang soal kue pernikahan mulai makin beragam dan gak kaku lagi. Apalagi setelah Perang Dunia II, kue bolu yang teksturnya lebih ringan dengan balutan buttercream atau whipped cream jadi primadona di Amerika. Saat itu pun kian berkembang kue dengan rasa-rasa yang bervariasi seperti vanila, cokelat, sampai lemon pun mulai sering muncul di pesta-pesta pernikahan.
Melansir dari laman Anges de Secre, Inggris yang terkenal dengan kue buah tradisional akhirnya juga terpengaruh pada tahun 1980-an. Mereka mulai meninggalkan royal icing yang keras dan kue buah yang berat demi rasa yang lebih kekinian. Di masa ini juga, para pembuat kue mulai memakai fondant yang elastis untuk menciptakan tampilan kue yang mulus dan rapi.
Keberadaan fondant dan teknik icing sugar yang makin jago membuat dekorasi kue semakin menawan dan nyata lewat bunga yang menonjol atau renda yang detail. Dan sejak masuk ke abad ke-21, kue pengantin benar-benar berubah jadi wadah buat untuk menunjukkan kepribadian masing-masing pasangan tanpa ada aturan baku lagi soal warna, bentuk, atau rasa kue yang harus dipakai.
Kue bertingkat memang masih tetap jadi favorit, tapi isinya bisa apa saja mulai dari mud cake, carrot cake, vahkan yang unik seperti rasa kelapa jeruk nipis yang segar juga ada. Gak sedikit pasangan yang kini lebih suka gaya naked cake dengan tampil apa adanya tanpa banyak lapisan gula luar. Kemudian tren yang kini makin populer adalab kue dengan desain avant-garde atau berbentuk kastil atau karakter favorit yang mencerminkan selera pribadi dan out of the box.
Meski tren kue pernikahan terus berubah setiap saat, namun makna yang ada di dalamnya tetap sama, yaitu sebagai simbol kebahagiaan, harapan baik, dan awal perjalanan baru bagi pasangan pengantin.