Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sejarah Kue Pernikahan, Kue Kaya Gula sampai Tren Naked Cake
ilustrasi kue pernikahan (unsplash.com/Madara)

Tahukah kamu kalau di balik megahnya kue bertingkat yang sering kita lihat di pelaminan, tersimpan sejarah kue pernikahan yang penuh kejutan? Jauh sebelum menjadi pusat perhatian yang estetik dan romantis, kue pernikahan sebenarnya lahir dari tradisi kuno yang terus bermetamorfosis. Bagi pasangan pengantin, sajian ini bukan sekadar pencuci mulut biasa, melainkan simbol doa untuk keberuntungan dan kemakmuran hidup baru mereka.

Dari roti gandum sederhana di era Romawi hingga mahakarya arsitektur gula yang elegan seperti sekarang, tiap desainnya membawa cerita tentang tren dan budaya yang terus berputar. Inilah yang membuat sejarah kue pernikahan tetap punya daya tarik tersendiri yang bikin kita penasaran hingga kini. Supaya gak penasaran, yuk kita telusuri sejarah kue pernikahan berikut ini!

1. Sudah ada sejak Romawi Kuno yang memperebutkan remehan roti

ilustrasi roti gandum (unsplash.com/Jasmin Ne)

Dikutip dari laman Anges de Secre, tradisi kue pengantin sudah ada sejak zaman dahulu kala. Di Romawi kuno, sebuah pernikahan biasanya dirayakan dengan memecahkan kue sederhana berbahan gandum atau yang disebuh jelai di atas kepala pengantin wanita sebagai tanda keberuntungan. Setelah itu, pasangan pengantin akan memakan remah kuenya bersama dalam ritual khusus yang melambangkan persatuan. Sisa remah kue yang jatuh kemudian diperebutkan para tamu karena dipercaya bisa membawa keberuntungan.

Seiring waktu, tradisi tersebut berkembang menjadi kebiasaan menaburkan kue manis dan membagikan confetto yang terdiri dari campuran kacang, buah kering, dan almond madu kepada para tamu. Dari sinilah kemudian berkembang kebiasaan klasik berupa melempar beras atau confetti kepada pasangan pengantin setelah acara pernikahan.

Sedangkan di Yunani kuno, pasangan pengantin biasanya disuguhi kue wijen dan madu saat pesta pernikahan berlangsung. Mereka juga dihujani kurma dan kacang-kacangan yang dianggap sebagai simbol kesuburan dan harapan akan kehidupan rumah tangga yang makmur. Wijen sendiri dipercaya dapat membawa kesuburan sehingga menjadi bahan penting dalam tradisi tersebut.

Berbeda lagi dengan masyarakat Mesir kuno yang ternyata, juga telah mengenal bentuk awal kue sejak ribuan tahun lalu. Pada masa pemerintahan Pepi II sekitar 2250 SM, para pembuat roti membuat kue manis berbahan madu, tepung gandum, dan susu yang dimasak dalam cetakan tertutup. Bagi masyarakat Mesir, roti dan kue melambangkan kehidupan baru sehingga sering digunakan dalam ritual penting, bahkan beberapa kue ditemukan masih utuh di makam kuno setelah ribuan tahun.

2. Kue pernikahan Ratu Victoria menjasi trend setter di Inggris

ilustrasi kue pernikahan (pexels.com/Jonathan Borba)

Dilansir dari laman Barley, tren kue estetik dengan taburan gula ternyata "meledak" di Inggris antara abad ke-17 sampai ke-19. Saat itu, gula putih masih dianggap barang yang mewah sehingga siapa pun yang memakainya dengan banyak, tentu akan dinilai kaya raya. Sedangkan gula mahal itu dipakai untuk bikin icing putih yang lembut di permukaan kue.

​Warna putih ini punya makna ganda, yaitu melambangkan cinta yang suci sekaligus pamer status sosial pemilik hajat. Namun, yang benar-benar bikin tren ini jadi "kiblat" dunia adalah saat pernikahan Ratu Victoria dan Pangeran Albert di tahun 1840 di mana sang ratu memesan kue raksasa dengan hiasan bunga dan lapisan gula putih yang super mulus.

​Nah, teknik gula halus itulah yang akhirnya kini dikenal dengan sebutan royal icing sampai detik ini. Gara-gara momen ikonik itu, kue pengantin putih langsung dianggap standar pernikahan klasik ala Barat yang menyebar ke mana-mana. Masuk ke era Victoria, orang-orang mulai makin kreatif dengan bikin kue yang bertingkat-tingkat.

​Bentuk kue yang menjulang tinggi ini bisa terwujud berkat kemajuan teknik struktur kue dan pembuatan icing yang makin canggih. Selain kelihatan lebih indah saat dipandang, kue tinggi ini adalah simbol kemewahan yang nyata. Semakin tinggi tingkat kuenya, semakin tinggi juga gengsi dan status sosial keluarga tersebut.

3. Kue pengantin modern yang lebih personal dan kaya rasa

ilustrasi kue pernikahan (unsplash.com/Jasmine Bartel)

Masuk ke pertengahan abad ke-20, selera orang-orang soal kue pernikahan mulai makin beragam dan gak kaku lagi. Apalagi setelah Perang Dunia II, kue bolu yang teksturnya lebih ringan dengan balutan buttercream atau whipped cream jadi primadona di Amerika. Saat itu pun kian berkembang kue dengan rasa-rasa yang bervariasi seperti vanila, cokelat, sampai lemon pun mulai sering muncul di pesta-pesta pernikahan.

Melansir dari laman Anges de Secre, Inggris yang terkenal dengan kue buah tradisional akhirnya juga terpengaruh pada tahun 1980-an. Mereka mulai meninggalkan royal icing yang keras dan kue buah yang berat demi rasa yang lebih kekinian. Di masa ini juga, para pembuat kue mulai memakai fondant yang elastis untuk menciptakan tampilan kue yang mulus dan rapi.

Keberadaan fondant dan teknik icing sugar yang makin jago membuat dekorasi kue semakin menawan dan nyata lewat bunga yang menonjol atau renda yang detail. Dan sejak masuk ke abad ke-21, kue pengantin benar-benar berubah jadi wadah buat untuk menunjukkan kepribadian masing-masing pasangan tanpa ada aturan baku lagi soal warna, bentuk, atau rasa kue yang harus dipakai.

Kue bertingkat memang masih tetap jadi favorit, tapi isinya bisa apa saja mulai dari mud cake, carrot cake, vahkan yang unik seperti rasa kelapa jeruk nipis yang segar juga ada. Gak sedikit pasangan yang kini lebih suka gaya naked cake dengan tampil apa adanya tanpa banyak lapisan gula luar. Kemudian tren yang kini makin populer adalab kue dengan desain avant-garde atau berbentuk kastil atau karakter favorit yang mencerminkan selera pribadi dan out of the box.

Meski tren kue pernikahan terus berubah setiap saat, namun makna yang ada di dalamnya tetap sama, yaitu sebagai simbol kebahagiaan, harapan baik, dan awal perjalanan baru bagi pasangan pengantin.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team