Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi jagung kukus
ilustrasi jagung kukus (pexels.com/This Life's Illusions)

Intinya sih...

  • Makanan kukus mencuri tren pasar dengan berbagai jenis makanan yang dikukus dan popularitasnya kembali mencuat melalui media sosial.

  • Kesadaran anak muda terhadap kesehatan membuat makanan kukus jadi naik daun, dipengaruhi oleh tren kesehatan di media sosial dan minat generasi milenial dan gen Z terhadap makanan sehat.

  • Metode memasak mengukus membantu mempertahankan nutrisi dalam makanan, menjadikan makanan kukus lebih bernutrisi, rendah lemak tidak sehat, dan lebih hemat energi, waktu, serta tenaga.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Berbagai jenis makanan olahan, terutama makanan instan, selama ini telah mendominasi pasar. Tidak dapat dimungkiri, rasanya memang bikin ketagihan dan variasinya semakin beragam. Namun, di tengah gempuran tersebut, muncul tren makanan kukus yang berhasil menarik perhatian banyak orang.

Makanan kukus sebenarnya bukan suatu hal yang baru. Pasalnya, makanan sederhana tersebut telah dikenal sejak lama ketika bahan dan peralatan masak masih sangat terbatas. Bahan makanan yang ada hanya perlu dikukus dan bisa langsung dimakan.

Kembalinya popularitas makanan kukus disinyalir menjadi bukti tingginya kesadaran anak muda terhadap isu kesehatan. Ketika pola hidup sehat terus dipromosikan, makanan kukus mendadak jadi sorotan. Benarkah?

1. Belakangan ini, makanan kukus berhasil mencuri tren pasar

ilustrasi sepiring ubi jalar warna oranye yang dikukus (commons.m.wikimedia.org/Fido Cahya)

Berbagai jenis makanan kukus muncul di permukaan setelah sekian lama tenggelam. Makanan seperti ubi, singkong, jagung, labu, pisang, dan talas hanya dipotong-potong, kemudian dikukus hingga matang. Metode memasak minimalis itulah yang membuat popularitasnya kembali mencuat.

Jika dibandingkan makanan olahan, makanan kukus jelas kalah pamor, baik dari segi rasa maupun tampilannya. Namun, media sosial berhasil mengangkatnya menjadi tren yang kembali diminati masyarakat, terutama anak muda. Makanan kukus masuk lewat konten kesehatan, seperti daily steamed food dan clean eating.

Tidak berhenti di sana, makanan kukus telah merambah menjadi ide bisnis baru yang seketika mencuri arus pasar. Makanan ini terus dibicarakan di media sosial, sehingga semakin banyak orang yang terdorong ingin mencoba. Penjual makanan kukus pun mulai banyak ditemukan di pinggir jalan.

2. Kesadaran anak muda terhadap kesehatan membuat makanan kukus jadi naik daun

ilustrasi seorang wanita memakan jagung (freepik.com/pvproductions)

Tren makanan kukus tidak lepas dari perubahan gaya hidup masyarakat yang kini semakin menyadari pentingnya kesehatan. Media sosial menjadi celah utamanya, di mana pola hidup sehat terus digaungkan. Tidak heran kalau makanan dan produk-produk kesehatan jadi naik daun belakangan ini.

Sebuah studi dalam publikasi Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan (SIKONTAN) tahun 2024 menunjukkan bahwa tren kesehatan di media sosial memang berpengaruh signifikan terhadap perilaku kesehatan masyarakat. Meski penelitian tersebut menyoroti sifat bermata dua, tetapi tren kesehatan tetap memiliki pengaruh positif. Masyarakat jadi lebih mudah mengakses informasi dan ikut dalam berbagai praktiknya.

Pergeseran gaya hidup ini mungkin belum terlalu masif hingga ke seluruh lapisan masyarakat. Namun, menurut informasi dari laman Texas Health, tren kesehatan telah menarik minat lebih banyak anak muda dibanding generasi sebelumnya. Laman tersebut mengutip studi tahun 2018 dan survei 2019 yang menemukan bahwa generasi milenial cenderung berprilaku sehat, termasuk saat memilih makanan.

Bukan hanya milenial, gen Z justru diketahui menjadi generasi paling khawatir tentang kesehatan. Mereka lebih memprioritaskan makanan sehat dibandingkan generasi lainnya. Jangan lupa, eksistensi generasi ini sangat aktif di media sosial, sehingga perannya dalam mempromosikan makanan kukus sebagai pilihan yang lebih sehat cukup besar.

3. Lantas, benarkah makanan kukus jauh lebih sehat?

ilustrasi ubi kukus (pexels.com/Damir Mijailovic)

Studi yang dipublikasikan di Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan (SIKONTAN) menyoroti sifat bermata dua dari tren kesehatan di media sosial. Kendati memiliki sisi positif, tren tersebut juga sangat berisiko. Pasalnya, konten yang disajikan kerapkali tanpa bukti dan bimbingan profesional. Informasi yang dipublikasikan cukup berbahaya jika ditelan mentah-mentah oleh masyarakat.

Mengingat risiko itu, kita juga perlu bertanya-tanya, apakah makanan kukus terbukti jauh lebih sehat? Jawabannya iya, karena metode memasaknya membantu mempertahankan nutrisi dalam makanan. Dilansir laman resmi UCI Health, metode mengukus dikatakan jauh lebih baik dibanding merebus, menggoreng, memanggang, ataupun membakar.

Makanan kukus matang karena uap air panas, sehingga kandungan vitamin B dan C di dalamnya tidak hilang ataupun larut dalam air. Hal itu membuat makanan kukus jauh lebih bernutrisi dan rendah lemak tidak sehat. Selain itu, mengukus juga mempertahankan warna, tekstur, dan rasa alami pada makanan.

Kendati bisa lenyap secara tiba-tiba, tren makanan kukus tetap layak disambut dengan positif, bukan sekedar FOMO (Fear of Missing Out) belaka. Terlebih, metode mengukus juga lebih hemat energi, waktu, dan tenaga. Mari dukung dan pertahankan tren ini untuk hidup yang lebih sehat, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team