ilustrasi sakit dan cemas (freepik.com/freepik)
Masakan bersantan yang dipanaskan berulang cenderung menjadi lebih kental, sangat berminyak, dan berat untuk dicerna oleh lambung. Lemak yang sudah mengalami kerusakan struktur akan merangsang produksi asam lambung secara berlebihan karena perut membutuhkan usaha lebih keras untuk memecah molekul lemak jenuh tersebut. Hal ini sering kali menyebabkan sensasi panas di dada (heartburn) atau perut terasa begah dan penuh setelah makan.
Bagi penderita maag atau GERD, masakan santan kemarin yang dipanaskan berkali-kali adalah pemicu utama kekambuhan gejala yang menyiksa. Lemak jenuh yang tinggi juga dapat melemahkan otot katup kerongkongan bawah, sehingga asam lambung lebih mudah naik kembali ke atas.
Sebagai penutup, sangat penting untuk mengubah kebiasaan kita dalam mengelola sisa makanan, terutama yang menggunakan bahan dasar santan kelapa. Menghargai makanan bukan berarti harus memanaskannya hingga berkali-kali sampai habis, melainkan dengan cara menyajikannya seefisien mungkin agar manfaat gizinya tetap terjaga dan tidak berubah menjadi ancaman bagi kesehatan organ dalam kita. Kita harus menyadari bahwa cita rasa yang terasa lebih nendang pada masakan bersantan yang lama dipanaskan sebenarnya dibayar mahal dengan rusaknya kualitas nutrisi dan meningkatnya kandungan zat berbahaya bagi jantung dan pembuluh darah.
Mulailah dengan memasak dalam porsi yang lebih terukur atau membagi masakan ke dalam wadah-wadah kecil sebelum disimpan di kulkas, sehingga kamu hanya perlu memanaskan satu porsi yang akan segera dikonsumsi. Dengan cara ini, sisa makanan yang ada di wadah lain tetap terjaga kesegarannya dan tidak perlu terpapar panas berulang kali secara tidak perlu. Kesehatan jangka panjang dimulai dari meja makan, dan langkah kecil seperti berhenti memanaskan santan secara berulang akan memberikan dampak besar bagi kebugaran tubuhmu di masa depan.