Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Potret teh tarik khas Malaysia
Potret teh tarik khas Malaysia (IDN Times/fasrinisyah Suryaningtyas)

Saat liburan ke Malaysia atau mampir ke restoran yang menyajikan masakan Melayu, kamu pasti bisa menemukan menu teh tarik dengan mudah. Minuman berbahan dasar teh dan susu ini bisa dinikmati dengan dua penyajian, yakni hangat dan dingin.

Saat disajikan, terdapat buih-buih kecil di bagian atasnya yang memberikan sensasi unik saat diminum, terutama dengan cara diseruput langsung dari gelasnya.

Di balik rasanya yang khas, ada proses penyajian yang unik, yaitu teh dan susu yang sudah diaduk kemudian dituang bolak-balik dari satugelas ke gelas lain hingga membentuk “tarikan” panjang. Gerakan ini bukan hanya atraksi, tetapi menjadi bagian penting dari karakter teh tarik itu sendiri.

Lantas, kenapa teh tarik harus melalui proses tarik-menarik ini? Penasaran dengan alasannya, simak ulasannya di bawah ini, yuk!

1. Menghasilkan tekstur yang lebih lembut dan berbusa

Proses menuang teh tarik berkali-kali membuat cairan bertemu dengan udara secara intens. Saat campuran teh panas dan kental manis ditarik dari ketinggian, udara masuk dan membentuk gelembung-gelembung kecil di permukaan minuman. Proses inilah yang menghasilkan lapisan busa khas teh tarik.

Bukan sekadar hiasan, busa tersebut membuat sensasi minum teh tarik terasa lebih ringan di mulut. Setiap tegukan terasa halus, tidak “berat” seperti teh susu yang hanya diaduk biasa. Selain itu, gelembung udara juga membantu menyebarkan rasa secara merata di lidah. Hasilnya, perpaduan teh yang kuat dan susu yang manis terasa lebih seimbang.

2. Teh dan kental manis tercampur merata dan sempurna

Potret teh tarik (IDN Times/Dhiya Awlia Azzahra)

Seduhan teh yang digunakan untuk membuat teh tarik biasanya cenderung hitam dan pekat, kemudian dicampur dengan air hangat dan kental manis dalam jumlah cukup banyak. Jika hanya diaduk, seringkali masih ada bagian yang terlalu manis atau terlalu pahit. Dengan menuangkannya berkali-kali, kedua komponen ini "dipaksa" bercampur melalui aliran cairan yang terus berpindah.

Setiap tarikan menciptakan sirkulasi alami yang lebih efektif dibandingkan pengadukan biasa. Teh dan susu menyatu secara menyeluruh, menghasilkan rasa yang konsisten dari awal hingga akhir. Penyatuan sempurna inilah yang menghasilkan rasa nikmat.

3. Menurunkan suhu tanpa mengurangi kualitas rasa

Seduhan teh untuk membuat teh tarik biasanya masih panas. Saat disajikan, suhunya harus turun atau tidak boleh terlalu panas. Proses menuang dari ketinggian ini akan bantu menurunkan suhu minuman secara alami.

Panas dilepas sedikit demi sedikit ketika cairan bersentuhan dengan udara. Ketika hendak disajikan dingin dengan es batu, rasa dan tekstur teh pun akan tetap terjaga dan menyegarkan.

4. Menjadi bagian dari identitas dan tradisi pembuatan teh tarik

Teh tarik khas Malaysia di Malaysia Gastronomi Truly Asia Jakarta. (IDN Times/Sonya Michaella)

Selain faktor teknis, menuang teh berkali-kali juga memiliki nilai budaya. Aksi ini menjadi ciri khas penjual teh tarik di kedai-kedai. Gerakan ini mudah dikenali dan menjadi simbol keahlian peracik minuman tersebut.

Melansir dari berbagai sumber, teh tarik berasal dari imigran Muslim asal India (kerap disebut sebagai Mamak) yang datang ke Malaysia dan Singapura sekitar awal abad ke-20. Umumnya, mereka bekerja di sektor kuliner.

Karena cuaca di Asia Tenggara ini panas dan lembab, mereka mencoba bikin teh yang tak hanya enak, tetapi juga segar dan tidak enek. Jadilah teh hitam dicampur dengan kental manis yang dibuat dengan cara ditarik ini.

Bagi banyak orang, melihat proses pembuatan teh tarik adalah bagian dari pengalaman menikmati minuman ini. Ada unsur pertunjukan yang membuat teh tarik terasa lebih istimewa dibanding minuman teh lainnya. Setiap tarikan seolah menegaskan teh tarik bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang budaya, keterampilan, dan kebanggaan kuliner setempat.

Nah, sekarang kamu sudah tahu alasan mengapa teh tarik harus dituang berkali-kali. Selain menghasilkan rasa yang enak dan tekstur lembut, ternyata ada nilai budaya yang masih dijaga dengan baik.

Editorial Team