Film buatan Darren Aronofsky ini memang tidak dihargai, baik oleh para kritikus maupun audiens pada tahun 2006, walau di tahun-tahun mendatang film ini menjadi kultus dan mendapatkan banyak pengikut yang setia.
Dalam film ini Aronofsky menolak bercerita dengan gaya yang konvensional, dan lebih suka memakai beberapa plot yang berbeda di dalamnya. Oleh karena itu, keindahan film ini terletak pada nuansa yang berbeda di dalam plotnya, yang memungkinkan penonton untuk menafsirkannya lewat perspektif mereka sendiri.
The Fountain menceritakan tiga garis waktu paralel yang berbeda, di mana tokoh protagonisnya, Tom (yang diperankan oleh Hugh Jackman), menjadi tiga tokoh yang berbeda.
Garis waktu pertama menceritakannya sebagai seorang penakluk di abad ke-16 yang berusaha untuk menemukan sebuah pohon kehidupan; garis waktu kedua bercerita pada masa kini di mana Dokter Tom mencoba menemukan obat untuk istrinya yang sekarat (diperankan oleh Rachel Weisz); sedangkan garis waktu ketiga berlatar pada tahun 2500 di mana seorang astronot bernama Tom berusaha menemukan planet Xibalba.
The Fountain akan memanjakan kita dengan visual yang indah, lengkap dengan salah satu skor film terbaik yang pernah ada. Alur ceritanya mulus dan menyatu secara visual, menciptakan pengalaman film yang unik sekaligus membingungkan untuk para penontonnya.