Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
film Snow White.
film Snow White (dok. Disney/Snow White)

Intinya sih...

  • The Electric State: Russo Brothers dan bintang besar gagal menghidupkan novel ilustrasi Simon Stålenhag dengan eksekusi emosional yang hambar.

  • Regretting You: Drama emosional dari novel populer terasa instan dan klise, meski disukai penonton umum.

  • Smurfs Reboot: Pengulangan tanpa jiwa dengan humor dangkal dan energi film yang datar.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Adaptasi film selalu datang dengan ekspektasi tinggi. Saat sebuah novel, komik, atau cerita legendaris diangkat ke layar lebar, penonton berharap emosi dan pesan aslinya tetap terjaga atau bahkan berkembang. Sayangnya, 2025 membuktikan bahwa nama besar dan budget besar tidak selalu menjamin hasil yang memuaskan.

Beberapa film adaptasi tahun 2025 ini justru terasa kehilangan arah, gagal menangkap cerita aslinya, atau terlalu sibuk terlihat ambisius sampai lupa membangun emosi yang solid. Berikut daftar adaptasi film 2025 yang paling banyak bikin penonton mengernyit kecewa. Film apa saja, ya?

1. The Electric State

film The Electric State (dok. Netflix/The Electric State)

Di atas kertas, The Electric State seharusnya jadi kemenangan besar. Novel ilustrasi Simon Stålenhag punya dunia retro-futuristik yang kuat, atmosfer melankolis, dan kritik sosial yang relevan soal teknologi. Ditambah lagi, film ini ditangani Russo Brothers dan dibintangi Millie Bobby Brown serta Chris Pratt, kombinasi yang tampak mustahil gagal.

Namun hasil akhirnya terasa hambar. Ceritanya memang menarik, dunia alternatif 1990-an di mana manusia terasing dalam realitas virtual sementara robot hidup terbuang. Sayangnya, ide besar itu tidak diiringi eksekusi emosional yang sepadan. Visualnya mencolok, tetapi jiwanya terasa kosong, seolah film ini lebih sibuk terlihat unik daripada membuat penonton peduli.

Masalah lain datang dari karakternya. Chris Pratt terasa mengulang persona lama yang terlalu mirip Star-Lord, sementara deretan aktor pendukung berbakat seperti Giancarlo Esposito dan Ke Huy Quan tidak benar-benar diberi ruang bersinar. Film ini terasa seperti eksperimen visual mahal yang lupa membangun keterikatan emosional.

2. Regretting You

film Regretting You (dok. Paramount Pictures/Regretting You)

Diadaptasi dari novel populer Colleen Hoover, Regretting You mencoba menjual drama emosional tentang kehilangan, pengkhianatan, dan hubungan ibu-anak. Kisahnya berpusat pada tragedi keluarga yang membuka rahasia besar dan memaksa karakter-karakternya berdamai dengan masa lalu.

Masalahnya, konflik besar yang seharusnya menyayat justru diselesaikan terlalu cepat dan terlalu rapi. Perjalanan menuju pengampunan terasa instan, sehingga dampak emosionalnya berkurang drastis. Film ini terasa seperti drama TV lama yang lupa menyesuaikan diri dengan sensitivitas penonton masa kini.

Meski chemistry McKenna Grace dan Mason Thames cukup menjanjikan, film ini terlalu tenggelam dalam melodrama klise. Anehnya, meski dikritik habis-habisan, film ini justru cukup disukai penonton umum. Bukti bahwa selera audiens dan kritikus memang sering berada di jalur berbeda.

3. Smurfs

film Smurfs (dok. Paramount Pictures/Smurfs)

Reboot Smurfs seharusnya menjadi penyegaran untuk generasi baru. Sayangnya, film ini justru terasa seperti pengulangan tanpa jiwa. Ceritanya mengikuti upaya Smurfette menyelamatkan Papa Smurf, lengkap dengan petualangan lintas dunia dan ancaman klasik dari Gargamel.

Alih-alih terasa segar, film ini terasa lelah. Humor yang dangkal dan cerita yang generik membuatnya sulit dinikmati, bahkan untuk penonton anak-anak. Daya tarik utama yakni kehadiran Rihanna sebagai Smurfette, juga tidak memberikan dampak sebesar yang diharapkan. Banyak pengisi suara berbakat di dalamnya, tetapi energi filmnya tetap datar.

4. Snow White

film Snow White (dok. Disney/Snow White)

Adaptasi live-action Disney kembali menuai perdebatan lewat Snow White. Kontroversi yang mengiringi produksinya memang sudah membayangi sejak awal, tetapi masalah film ini lebih dari sekadar isu di luar layar. Film ini gagal menghadirkan keajaiban klasik yang membuat dongeng Snow White abadi.

Rachel Zegler dan Gal Gadot sebenarnya punya potensi besar, tetapi naskah dan pendekatan visualnya terasa ragu-ragu. Film ini terjebak di antara ingin modern dan ingin setia pada versi lama, tanpa benar-benar sukses di keduanya.

Hasilnya adalah film yang terasa aman, datar, dan mudah dilupakan. Untuk studio sebesar Disney, Snow White justru menjadi contoh bahwa tidak semua dongeng perlu dihidupkan ulang tanpa visi yang jelas.

5. War of the Worlds

film War of the Worlds (dok. Universal Studio/War of the Worlds)

Mengadaptasi ulang War of the Worlds dua dekade setelah versi Steven Spielberg jelas keputusan berisiko. Versi terbaru ini mencoba pendekatan modern dengan tema pengawasan digital dan ketergantungan teknologi, menjadikannya invasi alien berbasis data.

Ide tersebut sebenarnya menarik, tetapi eksekusinya berantakan. Film ini terlalu sibuk memamerkan product placement dan gimmick teknologi, hingga lupa membangun ketegangan. Penampilan Ice Cube sebagai tokoh utama juga terasa tidak pas untuk beban cerita sebesar ini.

Alih-alih terasa relevan dan tajam, film ini justru terasa seperti iklan panjang yang kebetulan disisipi alien. Nama besar novel H.G. Wells malah menjadi beban, bukan kekuatan.

6. Wolf Man

film Wolf Man (dok. Universal Pictures/Wolf Man)

Setelah sukses dengan The Invisible Man, harapan terhadap versi baru Wolf Man cukup tinggi. Film ini mencoba pendekatan psikologis dengan tema trauma, isolasi, dan keturunan gelap yang menghantui sebuah keluarga.

Sayangnya, metafora yang ingin disampaikan terasa terlalu berat dan mengorbankan unsur horor itu sendiri. Transformasi manusia menjadi manusia serigala yang seharusnya jadi inti ketegangan justru terasa canggung dan kurang mengerikan.

Meski Christopher Abbott dan Julia Garner berusaha maksimal, film ini terjebak pada konsep yang terlalu simbolis. Wolf Man akhirnya lebih terasa sebagai refleksi trauma masa pandemi daripada film monster yang menegangkan.

Tahun 2025 menunjukkan bahwa tanpa visi yang jelas, bahkan cerita terbaik sekalipun bisa jatuh datar di layar lebar. Dari visual megah hingga nama besar, semua terasa percuma jika emosi dan cerita tidak sampai ke penonton. Menurutmu adaptasi mana yang paling bikin kecewa tahun ini?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team