potret Maher Zain (dok. Universal Music Group)
Saat ditanya IDN Times mengenai perbedaan merilis album dulu dan sekarang, Maher Zain menjelaskan bahwa keduanya tetap memiliki keseruan yang sama.
“Menurut saya, sama-sama seru,” ungkapnya.
Ia kemudian menjelaskan, proses pembuatan lagu membutuhkan waktu yang panjang di studio dengan perhatian pada detail kecil, sementara hanya sedikit orang yang mendengarnya sebelum dirilis. Namun, ketika lagu akhirnya dipublikasikan, karya tersebut menjadi milik publik dan dapat dinikmati banyak orang, bahkan berpotensi memberikan inspirasi.
Menurutnya, hal itulah yang membuat setiap perilisan, baik album maupun single, selalu terasa spesial. Ia juga menambahkan bahwa setelah dirilis, sebuah karya akan terus hidup dan bertahan bahkan melampaui penciptanya.
“Itu yang membuat setiap rilis selalu terasa spesial, baik album maupun single. Setelah dirilis, karya itu akan terus hidup, bahkan setelah kita tiada.”
Sebagai bagian dari strategi perilisan bertahap yang diselaraskan dengan momentum Ramadan, Maher Zain merilis 11 lagu secara bertahap selama tiga bulan terakhir. Lagu-lagu tersebut meliputi “Take My Hand”, “Habibi”, “Ya Muhammad”, “Qamarun”, “Allahu Ya Allahu”, “Sallou”, “Yama Wo Yama”, “Da’iman Wa Abada”, “Al-Hawdh”, “Yawmul Eid”, hingga “Never Let Me Down”.
Hingga pada Jumat (1/5/2026), album tersebut resmi disempurnakan dengan perilisan lima lagu terakhir, yaitu “Hikaya Jamila”, “Queen of Our Deen”, “Thank You”, “I Could’ve Been You”, dan “Not Ready to Die”.