Review Film Surat dari Kematian: Misteri di Kampus yang Mengerikan!

Sst! No spoiler kok

Jajaran pemain, produser, sutradara, dan penulis film Surat dari Kematian, di Epicentrum, Jakarta pada (6/1). IDN Times/Erfah Nanda

Di awal tahun 2020, layar lebar diramaikan dengan sejumlah film horor tanah air. Selain Rasuk 2, ada pula Surat dari Kematian persembahan dari Max Pictures. Film yang tayang 9 Januari 2020 ini diadaptasi dari Wattpad karya Adham T. Fusama dengan judul yang sama.

Film ini menceritakan kisah mistis di salah satu wilayah kampus ternama di Yogyakarta. Diperankan oleh Endy Arfian sebagai Zein dan Carissa Perusset sebagai Kinan, akankah mereka bisa menyelesaikan teka-teki misteri di Gama Plaza?

IDN Times telah menyaksikan langsung film horor besutan Hestu Saputra ini. Daripada berlama-lama, mari cek di sini review film Surat dari Kematian yang penuh misteri. Tenang aja, no spoilers kok! Keep reading.

1. Surat dari Kematian mengisahkan cerita mistis yang dialami para mahasiswa

Jajaran pemain, produser, sutradara, dan penulis film Surat dari Kematian, di Epicentrum, Jakarta pada (6/1). IDN Times/Erfah Nanda

Cerita diawali dengan kisah mistis yang dirasakan oleh Zein, seorang mahasiswa indigo. Kemampuannya melihat hal yang gak bisa dirasakan oleh orang lain, membuat Zein ingin membantu Kinan, teman mahasiswanya yang juga seorang jurnalis.

Zein dan Kinan harus berhadapan dengan kasus kematian Darius. Arwahnya dianggap mengirimkan surat yang menuntut pembaca melakukan hal aneh atau mati. Zein menganggap surat itu berasal dari makhluk gaib, tapi tidak dengan Kinan yang berpikir rasional. 

Lama-lama mereka mengungkap jawaban dari sebuah kasus kematian yang mengerikan. Jadi, apakah semua ini merupakan teror dari makhluk gaib atau ada campur tangan manusia sebagai dalang di balik kasus tersebut?

2. Sayang, logat dari para pemeran terasa kurang menjiwai

Jajaran pemain, produser, sutradara, dan penulis film Surat dari Kematian, di Epicentrum, Jakarta pada (6/1). IDN Times/Erfah Nanda

Sebelum masuk ke filmnya, mari kita lihat bagaimana akting para pemerannya. Bicara soal akting, Endy dan kawan-kawan gak usah ditanyakan lagi. Akan tetapi, dengan kisah yang berlatar di Yogyakarta membuat hal ini sedikit aneh bagi mereka. Terutama Endy yang kurang real logat Jawanya.

Sementara, para pemeran lain seperti Carissa Perusset, Omara Esteghal (Pasha), Jerome Kurnia (Darius dan Damian), Eric Febrian (Reno) dan lain-lain gak ada satu pun yang menunjukkan logat Jawa. Hal ini terasa agak aneh, karena gak mungkin dalam satu kampus atau satu circle sama sekali tak ada mahasiswa asli daerah tersebut.

Alhasil, film yang berkisah di Yogyakarta kurang terasa, karena dari logat para tokoh yang gak fasih. Bahkan seolah gak lagi bercerita di Yogyakarta. Untungnya, setting di beberapa tempat, seperti Gama Plaza yang populer itu mampu menunjukkan kalau film Surat dari Kematian memang bercerita di Yogyakarta.

3. Jumpscare justru datang dari music score dan sound effect film

Jajaran pemain, produser, sutradara, dan penulis film Surat dari Kematian, di Epicentrum, Jakarta pada (6/1). IDN Times/Erfah Nanda

Film horor dan jumpscare adalah pasangan yang susah dilepaskan. Surat dari Kematian, memang beberapa kali menunjukkan sosok hantu yang menakutkan. Tapi menurut saya gak serem kok! Yup, makeup para hantu di film tersebut masih bisa diterima akal sehat. Bahkan terkadang kelihatan sekali makeup-nya!

Eits, tapi beda dengan alunan musik yang tiba-tiba muncul saat lagi santai. Duh bisa langsung deg-degan! Mungkin hantunya memang gak terlalu seram, tetapi sound effect yang mengagetkan ini cukup mencekam dan mampu meneror penonton. 

Baca Juga: UGM Pertanyakan Izin Syuting Film Surat dari Kematian

4. Tempo alur cerita terasa pas dan gak terburu-buru

Jajaran pemain, produser, sutradara, dan penulis film Surat dari Kematian, di Epicentrum, Jakarta pada (6/1). IDN Times/Erfah Nanda

Gak terburu-buru, alur dalam film Surat dari Kematian terasa mengalir santai tapi to the point! Tempo alur yang gak buru-buru ini seakan mengajak kamu ikut hanyut terkena teror dari Darius juga.

5. Pembagian porsi para pemeran terasa kurang proporsional

Jajaran pemain film Surat dari Kematian, di Epicentrum, Jakarta pada (6/1). IDN Times/Erfah Nanda

Kalau dilihat dari trailer atau poster, sepertinya setiap tokoh memiliki porsi yang sama dalam film ya? Hmm, akan tetapi itu jauh dari harapan.

Beberapa tokoh tampil hanya sekilas, mungkin hanya sekitar tiga scene aja. Sementara  beberapa yang lain justru tampil di hampir setiap scene. Meskipun hal ini sudah diatur oleh tim produksi, akan tetapi tampak jelas perbedaan pembagian di antara pemeran yang sedikit kurang proporsional. 

Baca Juga: Jadi Anak Kembar, Cerita Horor Jerome Kurnia di Surat dari Kematian

Berita Terkini Lainnya