Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apa Alasan Sebenarnya Snape Membunuh Dumbledore? Punya Dendam?
cuplikan adegan Snape saat mengajar (dok. Warner Bros. Pictures/Harry Potter and the Half-Blood Prince)
  • Snape membunuh Dumbledore atas permintaan Dumbledore sendiri. Itu karena kutukan Horcrux sudah membuat Dumbledore sekarat.

  • Pembunuhan itu juga melindungi Draco Malfoy dan menjaga penyamaran Snape di pihak Voldemort.

  • Snape sebenarnya tetap setia kepada Dumbledore karena cintanya kepada Lily Potter.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Nah, dengan adanya adaptasi serial TV Harry Potter HBO yang akan dirilis Natal 2026, para penggemar Harry Potter bertanya-tanya apakah serial ini akan berbeda dari film-filmnya? Lalu, apa yang akan dilakukan para penulis dengan durasi yang lebih panjang untuk serial TV-nya? Ada banyak hal dalam tujuh buku yang bisa dikembangkan atau diubah oleh serial ini. Namun, ada satu hal yang harus tetap sama: Snape harus membunuh Dumbledore pada akhir tahun keenam Harry di Hogwarts.

Di samping itu, dipilihnya aktor Paapa Essiedu sebagai Severus Snape sangat kontroversial akhir-akhir ini. Itu karena Essiedu adalah aktor kulit hitam. Ada satu adegan paling terkenal dalam serial ini. Itu terjadi ketika Dumbledore dibunuh oleh Severus Snape, bukan oleh Draco Malfoy yang ditugaskan untuk membunuh Dumbledore. Mungkin kamu setuju kalau Snape adalah orang yang menyebalkan. Mungkin kamu juga tahu kalau Snape bergabung dengan pihak Voldemort selama masa awal-awal kejahatan Voldemort. Namun, karena Dumbledore terus membela Snape, kita jadi berasumsi kalau Snape berada di pihak Dumbledore.

Apa, sih, yang sebenarnya terjadi? Bagaimana Dumbledore yang bijaksana membiarkan Snape mengalahkannya begitu saja? Bagi kamu yang butuh penjelasan tentang poin plot ini sebelum menonton serial TV-nya nanti, berikut penjelasannya.

1. Ada sesuatu yang salah dengan Dumbledore dalam Harry Potter and the Half-Blood Prince

cuplikan adegan cincin Batu Kebangkitan (Resurrection Stone) dalam Harry Potter (dok. Warner Bros. Pictures/Harry Potter and the Deathly Hallows)

Hal penting yang kita ketahui tentang Snape, baik dalam buku maupun film terakhir, ialah Dumbledore memercayainya. Dalam penantian 3 tahun antara Harry Potter and the Half-Blood Prince dan Harry Potter and the Deathly Hallows, banyak pembaca berasumsi kalau Snape gak akan membunuh Dumbledore jika Snape benar-benar berada di pihak Dumbledore. Jadi, kematian Dumbledore menjadi tamparan paling gak terduga.

Namun, ternyata Dumbledore akan mati apa pun yang terjadi. Dalam Harry Potter and the Deathly Hallows, Dumbledore melukai dirinya sendiri dengan mengenakan cincin Batu Kebangkitan, sebuah Relikui Kematian yang dikutuk oleh Voldemort dengan mengubahnya menjadi Horcrux. Meski tahu kalau cincin itu terkutuk sebelum memakainya, Dumbledore gak bisa menahan diri. Ia punya banyak kesedihan yang belum terselesaikan terkait kematian adiknya, Ariana. Jadi, ia sempat kehilangan akal sehatnya.

Batu terkutuk itu biasanya langsung membunuh sebagian besar penyihir. Namun, dengan bantuan salah satu ramuan Snape, Dumbledore berhasil menahan kutukan di tangannya sepanjang tahun keenam Harry Potter. Meski begitu, baik Snape maupun Dumbledore tahu kalau itu ramuan itu gak bisa menghentikan kutukan tersebut. Yap, hanya masalah waktu sebelum kutukan itu membunuh Dumbledore. Jadi, Dumbledore ingin menyelamatkan dirinya dan Malfoy dari penderitaan. Dumbledore bersikeras agar Snape membunuhnya ketika waktunya tepat.

2. Kenapa Snape bergabung dengan Pelahap Maut sejak awal?

cuplikan adegan Lily dan Snape kecil (dok. Warner Bros. Pictures/Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2)

Kamu tentu gak kaget kalau Snape terkenal sangat misterius dan sinis sepanjang seri Harry Potter. Jadi, gak aneh kalau Snape bergabung dengan pihak Voldemort sejak awal. Itu kenapa Snape menjadi seorang Slytherin sejati. Sifatnya yang pendendam membuatnya cocok dengan anggota kelas Slytherin lainnya.

Meski begitu, JK Rowling menekankan kalau gak semua Slytherin itu jahat. Namun, tetap saja Slytherin terkenal karena kejam dan picik. Sebagai sebuah asrama, Slytherin memang tempatnya kejahatan. Apalagi, gema rasis dan supremasi darah murni selama 7 tahun berturut-turut sangat terasa dalam asrama ini.

Dalam buku Harry Potter, sistem seleksi asrama di Hogwarts bisa dibilang sangat cacat karena setiap generasi penyihir baru sudah dikelompok-kelompokan, seperti pro-Penguasa Kegelapan atau enggak. Jadi gak heran ketika setelah beberapa tahun dikelilingi oleh Slytherin, hubungan Snape dengan Lily jadi renggang selamanya. Yap, Lily sering dirundung dan dicap sebagai "darah kotor", hinaan untuk mereka yang orangtuanya bukan penyihir (Muggle). Hermione juga pernah mendapat ejekan ini, tepatnya saat Draco Malfoy mengejeknya sebagai darah kotor.

Jika Slytherin gak ada, apakah Snape akan menjadi Pelahap Maut (Death Eater)? Kita memang gak pernah tahu. Yang kita tahu hanyalah dengan masuknya Snape ke Slytherin, Hogwarts jelas membawa Snape ke jalan yang salah. Meski beberapa penggemar mungkin membela Slytherin, dunia sihir akan lebih baik jika Hogwarts membubarkannya.

3. Kenapa Draco Malfoy dipilih untuk membunuh Dumbledore?

cuplikan adegan Draco Malfoy (dok. Warner Bros. Pictures/Harry Potter and the Half-Blood Prince)

Snape turun tangan untuk membunuh Dumbledore setelah Malfoy mundur. Namun, pertanyaannya, kenapa Draco Malfoy dipilih oleh Voldemort untuk melakukan hal itu? Nah, jawabannya bisa dibilang rumit. Alasan utamanya karena Malfoy dianggap layak dan punya cukup pengetahuan untuk melakukannya.

Namun, ibu Malfoy, Narcissa, sangat cemas mengetahui hal tersebut. Dalam bab awal buku Harry Potter and the Half-Blood Prince berjudul "Ujung Pemintal", hal ini gak masuk akal. Gimana mungkin seorang anak 16 tahun disuruh membunuh orang yang lebih tua dan dihormati? Nah, alasan lain kenapa Voldemort memilih Malfoy karena Voldemort ingin menghukum ayah Malfoy yang bernama Lucius. Sebab, Lucius meninggalkan Voldemort selama 13 tahun ketika Voldemort sedang gak berdaya dan dalam pelarian.

Tentu Voldemort ingin Dumbledore mati. Namun, Voldemort juga ingin menghukum atau balas dendam kepada keluarga Malfoy karena dianggap gak setia padanya. Jadi, Malfoy ditugaskan membunuh Voldemort untuk mencapai salah satu dari dua tujuan tersebut.

Di sinilah, kita menyadari bahwa Draco Malfoy yang kecilnya menjadi perundung akhirnya harus merasakan kecemasan dalam hidupnya. Draco Malfoy dan keluarganya gak pernah bergabung dengan pihak yang baik, tapi mereka sangat kecewa dengan rencana Voldemort yang melibatkan Draco. Dalam epilog buku Harry Potter, Draco bahkan mengajari anaknya untuk menjadi anak yang baik dan gak boleh membenci temannya yang kelahiran Muggle.

4. Sumpah Tak Terpatahkan menjadi salah satu alasan kenapa Snape membunuh Dumbledore

cuplikan adegan Snape saat melakukan Sumpah Tak Terpatahkan (dok. Warner Bros. Pictures/Harry Potter and the Half-Blood Prince)

Selain memenuhi permintaan Dumbledore, Snape juga harus membunuh Dumbledore untuk memenuhi Sumpah Tak Terpatahkan (Unbreakable Vow) yang ia buat dengan Narcissa Malfoy pada awal Harry Potter and the Half-Blood Prince. Narcissa sangat khawatir tentang keselamatan Draco ketika ia mengetahui tentang tuntutan Voldemort. Jadi ia menemui dan meminta Snape untuk menyelesaikan pekerjaan itu jika Draco gagal. Snape menyetujui Sumpah Tak Terpatahkan tersebut. Itu berarti, jika Dumbledore berubah pikiran untuk meminta Snape gak membunuhnya, Snape tetap harus membunuh Dumbledore.

Nah, dalam dunia sihir Harry Potter, jika seorang penyihir gagal melaksanakan Sumpah Tak Terpatahkan, penyihir tersebut akan mati. Sumpah itu merupakan kontrak magis yang mengikat. Jadi, satu-satunya cara untuk keluar dari sumpah itu ialah jika sumpah tersebut ternyata gak mungkin untuk ditepati. Jika Dumbledore meninggal karena kemauannya sendiri, misalnya, sumpah tersebut akan batal karena Snape gak perlu lagi menyelesaikannya. Seorang penyihir juga bisa menghindari sumpah jika ada beberapa frasa yang ambigu dalam sumpah tersebut dan penyihir itu berhasil menemukan celah. Namun, kasus seperti itu jarang terjadi dan berisiko. Ada juga beberapa spekulasi dari penggemar Harry Potter kalau seorang penyihir bisa dibebaskan dari Sumpah Tak Terpatahkan jika orang lain setuju, tetapi belum ada konfirmasi kanon tentang gagasan ini.

Bagaimanapun, Snape sudah berencana untuk membunuh Dumbledore atas izin Dumbledore sendiri pada akhir tahun ajaran. Jadi, menyetujui sumpah Narcissa merupakan keputusan yang sangat masuk akal. Itu merupakan cara untuk menyelesaikan permintaan Dumbledore dan mendapatkan kepercayaan Voldemort pada saat yang sama. Meski sulit bagi Snape, itu merupakan pilihan yang tepat.

5. Kenapa Snape dipanggil Pangeran Berdarah-Campuran?

cuplikan adegan dalam film Harry Potter and the Order of the Phoenix (dok. Warner Bros. Pictures/Harry Potter and the Order of the Phoenix)

Sepanjang cerita Harry Potter and the Half-Blood Prince, Harry tiba-tiba unggul dalam kelas Ramuannya karena buku teks yang ia temukan. Buku tersebut ditulis oleh seorang mantan siswa misterius yang menyebut dirinya Pangeran Berdarah-Campuran (Half-Blood Prince). Alur cerita ini lebih seperti tambahan saja dalam film. Itu karena film hanya punya waktu tayang yang jauh lebih sedikit. Jadi, pemilik buku itu hampir gak dibahas sama sekali. Padahal, buku ramuan tersebut ditulis oleh Snape.

Snape menyebut dirinya Pangeran Berdarah-Campuran karena ia seperti Harry dan Voldemort, yang sama-sama penyihir berdarah campuran. Penyihir berdarah campuran, penyihir yang punya setidaknya satu leluhur kelahiran Muggle, merupakan jenis penyihir yang paling umum di dunia sihir Harry Potter. Namun, mereka masih dianggap oleh penyihir darah murni seperti keluarga Malfoy sebagai tingkatan yang lebih rendah. Meski Harry sama sekali gak mempermasalahkan garis keturunannya, Snape maupun Voldemort sangat malu dengan ayah Muggle mereka.

Di sisi lain, Voldemort yang malu dengan status darah campurannya justru nekat membunuh ayahnya. Snape sendiri lebih memilih jalan yang normal, tapi hidup dengan murung seperti yang ia tulis di buku hariannya. Snape menyebut dirinya Pangeran Berdarah-Campuran karena nama belakang ibunya adalah Prince. Di sisi lain, Harry dan Snape mungkin bisa akur jika Voldemort gak memengaruhi kehidupan mereka berdua.

6. Bagaimana Snape sebenarnya membunuh Dumbledore?

cuplikan adegan Snape membunuh Dumbledore (dok. Warner Bros. Pictures/Harry Potter and the Half-Blood Prince)

Pada tahun-tahun antara perilisan Harry Potter and the Half-Blood Prince dan Deathly Hallows, muncul laman web berjudul Dumbledore Is Not Dead. Dalam laman web tersebut, para pembaca berbagi teori tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam adegan terakhir antara kepala sekolah dan profesor ramuannya. Salah satu poin perdebatannya berfokus pada cara pembunuhan Snape. Adapun, Snape menggunakan mantra Avada Kedavra alias kutukan gak terampuni yang paling mematikan.

Sebenarnya, hanya terdapat tiga kutukan di dunia sihir yang dianggap gak terampuni. Mantra Sectumsempra yang diciptakan Snape jelas ilegal. Mantra itu sangat mematikan dan menyakitkan. Sementara, Avada Kedavra terjadi lebih cepat dan tanpa rasa sakit.

Namun, agar mantra itu berhasil, seorang penyihir harus bersungguh-sungguh. Sementara, Sectumsempra bisa digunakan secara gak sengaja, seperti yang kita lihat pada Harry. Nah, Avada Kedavra hanya bisa dipakai dengan sengaja.

Jadi, jika kita telaah lagi, Snape menggunakan kutukan Avada Kedavra, yang mengartikan bahwa dia benar-benar jahat. Jika dia gak membenci Dumbledore, bagaimana mungkin mantra itu bisa berhasil? Namun, penggemar lain berpendapat bahwa Snape (seorang ahli mantra nonverbal) sama sekali gak menggunakan kutukan pembunuh. Snape justru mengucapkan mantra lain yang gak membutuhkan kebencian untuk berhasil. Itulah kenapa Dumbledore terdorong mundur setelah mantra itu diucapkan. Padahal, sebagian besar korban kutukan pembunuh biasanya langsung terjatuh di tempat mereka berdiri, gak terdorong.

7. Perbedaan kematian Dumbledore dalam buku

cuplikan adegan kematian Dumbledore (dok. Warner Bros. Pictures/Harry Potter and the Half-Blood Prince)

Kematian Dumbledore dalam buku mirip film, tapi ada satu perbedaan utama: Harry dalam film gak pernah lumpuh. Dalam buku, Dumbledore diam-diam mengucapkan mantra yang melumpuhkan Harry saat berada di bawah jubah tembus pandang. Jadi Harry gak bisa mengganggu apa yang dilakukan Draco Malfoy atau Severus Snape.

Dalam film, Harry bisa saja ikut campur. Namun, ia memilih diam karena Dumbledore menyuruhnya untuk gak terlibat dan tetap bersembunyi. Beberapa penggemar kecewa dengan perubahan ini karena dianggap gak sesuai dengan karakter Harry, yang terkenal karena keberaniannya yang gegabah. Harry justru memilih patuh dan berdiam diri dalam persembunyian saat nyawa Dumbledore dalam bahaya.

Namun, perubahan ini masuk akal jika kamu tahu kalau ada banyak hal yang gak dijelaskan dalam film. Sebagai contoh, Dumbledore sangat ahli dalam mengucapkan mantra tanpa harus bicara. Jadi, bisa saja Harry terkena kutukan yang melumpuhkan tanpa sepatah kata pun yang diucapkan Dumbledore, terutama di tengah-tengah adegan yang sangat rumit itu.

Perubahan lainnya dalam film ialah hilangnya perkelahian di sekitar Astronomy Tower, tepatnya ketika sekelompok teman Harry melawan sekelompok Pelahap Maut dengan bantuan ramuan keberuntungan yang dimenangkan Harry sebelumnya dalam buku. Bisa dimengerti juga, sih, kenapa film ini memotong adegan tersebut. Mungkin agar pertempuran besar di Hogwarts dalam Harry Potter and the Deathly Hallows bisa lebih berkesan. Namun, tetap saja ini membuat akhir film terasa agak hambar. Itulah kenapa film ini dikasih peringkat terendah di antara para pembaca buku. Alasannya karena film ini memang gak sama dengan materi sumbernya. Namun, jika bicara tentang inti dari adegan akhir, yakni adanya kejutan dan kesedihan atas kematian Dumbledore, bisa dibilang film ini cukup berhasil.

8. Apa pendapat Alan Rickman tentang Snape yang membunuh Dumbledore?

cuplikan adegan Snape saat mengajar (dok. Warner Bros. Pictures/Harry Potter and the Half-Blood Prince)

Bagi aktor Alan Rickman, kematian Dumbledore agak mengecewakan. "Adegan itu tampak aneh dan kurang dramatis di atas kertas, tapi itu terjadi karena ada sebab dan akibat mutlak dari skenario yang harus menggabungkan atau mengurangi narasi," tulis Rickman dalam buku hariannya, "Kita gak cukup tahu atau ingat tentang kekhawatiran karakter individu untuk memahami masalah mereka. Atau peduli."

Banyak pendapat yang diutarakan Alan Rickman tentang karakternya dan waralaba Harry Potter dalam buku hariannya. Catatan hariannya ini dirilis ke publik pada 2022. Tulisannya menarik perhatian karena dianggap sangat kritis ketimbang apa yang pernah diungkapkan aktor tersebut saat masih hidup. Selain itu, Alan Rickman mengkritik musik John Williams untuk film tersebut dan mengkritik akting Emma Watson pada awal-awal film Harry Potter.

Tentu saja, gak semua hal tentang waralaba Harry Potter dalam buku harian Alan Rickman ditulis negatif semua. Rickman mengungkapkan hal positif tentang Lily Potter dalam Deathly Hallows. Ia bahkan menyebut bahwa Lily merupakan alasan utamanya untuk gak meninggalkan Harry Potter. Dia menulis:

"Snape mati secara heroik. Harry Potter menceritakan Snape kepada anak-anaknya sebagai salah satu pria paling berani yang pernah dia kenal dan menamai putranya Albus Severus. Ini merupakan ritual peralihan yang sejati. Satu informasi kecil dari Jo Rowling 7 tahun yang lalu, Snape mencintai Lily Potter. Hal ini memberiku pegangan yang kuat."

9. Snape juga menyelamatkan putra Draco dalam alur cerita Harry Potter and the Cursed Child

cuplikan adegan Draco Malfoy (dok. Warner Bros. Pictures/Harry Potter and the Half-Blood Prince)

Dalam Harry Potter and the Cursed Child, sebuah drama teater yang ditulis oleh JK Rowling dan Jack Thorne, berlanjut dengan keinginan Snape untuk menjaga putra Draco Malfoy yang bernama Scorpius agar tetap aman. Lewat beberapa trik pemutar waktu, The Cursed Child menyajikan garis waktu ketika Harry meninggal dalam Pertempuran Hogwarts, tetapi Snape selamat. Kisah ini juga mengeksplorasi bagaimana Snape menangani peristiwa tersebut.

Snape terus melawan Voldemort dengan bantuan Hermione dan Ron. "Aku tidak bisa menyelamatkan Harry untuk Lily. Jadi, sekarang aku memberikan kesetiaanku pada tujuan yang dia yakini," katanya kepada keduanya, "Dan mungkin bahwa di sepanjang jalan aku mulai mempercayainya sendiri." Dalam kisah ini juga, Snape membantu putra Harry yang bermasalah, Albus Severus Potter, dan Scorpius, sahabat terbaik Albus. Snape berperan penting dalam membantu kedua sahabat itu. Bahkan, ia mengorbankan nyawanya untuk membantu Scorpius melarikan diri dari Dementor. Bisa dibilang, Harry Potter and the Cursed Child menggambarkan karakter Snape sebagai orang yang baik.

Nah, kematian Dumbledore dalam seri Harry Potter memang bikin kaget, apalagi saat tahu yang ingin membunuhnya adalah Draco Malfoy. Lalu, Snape mengambil alih dengan membunuh langsung Dumbledore dengan mantra mematikan. Gimana dulu kamu menanggapi adegan ini?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎