Film Monster (dok. Netflix Indonesia)
Rako melihat film Monster sebagai adaptasi dari The Boy Behind the Door, yang lebih menarik dibuat dengan minim dialog. Hal tersebut menjadi keunikan dan pembeda film Monster dari The Boy Behind the Door.
"Memang kita merasanya itu lebih menarik dan lebih baik tanpa dialog sih. Untuk cara komunikasi dan tuturnya di film ini dengan film yang komunikasinya non-verbal tuh kayaknya juga jadi suatu hal yang unik menurut saya untuk selling pointnya gitu. Beda dari yang lain gitu," ucapnya.
Selain ingin menjadi pembeda, Rako merasa dialog demi dialog sudah digambarkan dari visual ekspresi para pemain. Sehingga, ia menambahkan audio untuk sound effect saja.
"Dan mungkin juga karena film itu kan bahasa audio visual gitu, jadi kalau udah secara visualnya gitu saya rasa audio udah gak diperlukan lagi. Audio dibutuhkan hanya untuk atmosfer, sound effect dan lain-lainnya," tambah Rako.