Lukman Sardi di konferensi pers "Kuasa Gelap: Perjanjian Darah" di Bajawa Kemang, Jakarta, Jumat (27/3/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)
Berbeda dengan Jerome, Lukman Sardi justru sempat diliputi kekhawatiran saat pertama kali terlibat di Kuasa Gelap. Menurutnya, tema eksorsisme adalah sesuatu yang belum pernah diangkat dalam perfilman Indonesia. Ia sempat bertanya-tanya, apakah masyarakat akan menerima cerita seperti ini?
"Awalnya punya ketakutan bagaimana film ini diterima di masyarakat Indonesia, karena ini pertama kali. Tapi ternyata banyak sekali yang DM ke aku gitu bahwa mereka merasa mendapatkan sesuatu," ungkapnya.
Respons penonton yang positif justru menjadi pengalaman spiritual tersendiri bagi Lukman. "Ternyata responnya sangat luar biasa. Ini juga akhirnya membawa proses iman saya semakin kuat lagi," imbuhnya.
Ia juga menyinggung bagaimana sang produser, Robert Ronny, sempat ragu di awal. Tapi pada akhirnya, keyakinan lah yang membuat film Kuasa Gelap bisa terwujud.
"Saya tahu perjalanan, pergolakannya dia (Robert Ronny) tuh sempet ragu. Tapi kalau gak ada dorongan iman itu pasti gak akan jadi film ini," ujarnya.
Bagi Lukman, keterlibatannya di sekuel Kuasa Gelap: Perjanjian Darah bukan cuma kebetulan. Ia justru menganggapnya bagian dari perjalanan yang ia sebut sebagai "berkah."
"Semua itu gak ada kebetulan pasti ada tujuannya, dan akhirnya kita sampai di momen Kuasa Gelap: Perjanjian Darah juga adalah blessing dan mudah-mudahan ini bisa menjadi blessing lagi ke depannya buat orang-orang yang menonton," ucap Lukman penuh harapan.