ilustrasi menonton drama pendek (pexels.com/cottonbro studio)
Drama pendek memang sebuah inovasi brilian. Ia berhasil menjawab tantangan disrupsi digital yang bikin orang asing akan kebosanan. Harus ada sesuatu yang mengisi waktu mereka, entah pekerjaan atau hiburan. Media sosial dan streaming platform menjawab itu dengan memastikan akses terhadap hiburan dan narasi yang eskapis itu bisa diakses dari genggaman tangan: HP.
Namun, seiring waktu, muncul fenomena media fatigue, momen saat orang mulai bosan dan lelah dengan interaksi digital terus-menerus di media sosial. Di sisi lain, mereka juga mulai ogah nonton serial bermusim-musim atau film berjam-jam di streaming platform. Di sinilah, produsen microdrama masuk ke celah kosong tersebut. Mereka menawarkan gabungan antara narasi memikat ala film/serial konvensional, tetapi dalam durasi yang jauh lebih pendek, kurang dari 10 menit. Hebatnya lagi, untuk nonton episode berikutnya, pengguna bisa menggulir layar layaknya nonton konten di media sosial.
Tak pelak, microdrama mendulang popularitas. Pertama kali muncul pada 2022, kini microdrama jadi sesuatu yang normal dikonsumsi. Louis Zhao dalam video esainya yang berjudul "The Rise of China’s Micro Dramas: The Death of Attention Span?" menganalogikan drama pendek seperti camilan. Kamu mengonsumsinya tanpa pikir panjang, tanpa harus memasaknya terlebih dahulu, apalagi membeli dan memilih bahan. Ia tersedia dalam bentuk siap konsumsi, ringan di perut, tetapi bikin nyaman. Kurang lebih seperti itulah drama pendek buat konsumennya.
Namun, seperti camilan pula, drama pendek punya efek adiktif yang sama halnya dengan doomscroll. Orang termasuk konsumennya pun menyadari bahwa drama pendek punya kualitas tak bagus, plotnya formulaik alias mudah ditebak, dan aktingnya pun tak maksimal. Namun, demi menghindari kebosanan, ia dipilih jadi sumber hiburan mudah dan murah.