Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
poster The Believers (dok. Netflix/The Believers)
poster The Believers (dok. Netflix/The Believers)

Drama Thailand tak hanya menyajikan kisah romansa atau kehidupan remaja, tetapi juga berani mengangkat isu sosial yang tajam dan relevan dengan kehidupan nyata. Kalau kamu penikmat drama Thailand, pasti tahu kalau mereka jago membuat drama dengan unsur yang berat. Melalui alur cerita yang kuat dan karakter yang kompleks, sejumlah drama Thailand berhasil menyampaikan kritik sosial mereka.

Beberapa judul bahkan menuai pujian karena berani menyinggung realita pahit yang jarang dibahas secara terbuka. Nah, kalau kamu lagi butuh tontonan yang berat, sini merapat! Berikut ini enam drama Thailand yang mengangkat isu dan kritik sosial terhadap sistem di negara mereka. Yuk, kita simak bareng-bareng sampai selesai!

1. The Gifted (2018)

cuplikan drama The Gifted (dok. GMMTV/The Gifted)

Pertama ada drama The Gifted (2018) yang berlatar di sekolah elite dan menyoroti sistem pendidikan yang diskriminatif. Drama ini bertabur bintang terkenal mulai dari Nanon Korapat, Jane Methika, Gun Atthaphan, Chimon Wachirawit, Lilly Ladapa, Sing Harit, dan masih banyak lagi. Faktanya drama ini merupakan hasil kolaborasi dari empat sutradara top yaitu O Patha, Sand Dhammarong, Waa Waasuthep, dan Dome Jarupat.

The Gifted mengikuti kisah sekelompok siswa yang memiliki kemampuan khusus. Sekolah mereka secara terang-terangan membedakan mereka dengan perlakuan khusus. Namun, ternyata hal itu hanyalah awal dari penyalahgunaan kekuasaan. Kepala sekolah hanya ingin memanfaatkan para siswa berbakat untuk mendapatkan dana pendidikan walau harus mengorbankan kesehatan tubuh dan mental siswa.

2. Social Syndrome (2028)

poster drama Social Syndrome (dok. Line Tv/Social Syndrome)

Social Syndrome adalah drama antologi yang menyoroti sisi kelam dan bahaya penggunaan media sosial di kehidupan modern. Drama ini dibintangi WJ Mild, Bank Thiti, Janis Janistar, Petch Paopetch, dan masih banyak lagi. Drama antologi ini diarahkan oleh Yemenz Siwawut, Nat Thachai, dan Jan Puchong, lho.

Social syndrome terdiri dari 8 episode terpisah yang isinya mengungkap fenomena media sosial seperti cyber bullying, terobsesi citra diri, dan rahasia kelam dunia maya. Drama ini sering dibandingkan dengan gaya penyajian serial terkenal Black Mirror, lho. Wajib banget masuk daftar tontonan si penggemar cerita berat dan bikin mikir.

3. Bad Genius The Series (2020)

poster drama Bad Genius (dok. One 31/Bad Genius)

Bad Genius The Series (2020) merupakan pengembangan dari film populer Thailand berjudul sama yang mengkritik sistem pendidikan berbasis nilai. Drama ini dibintangi Junei Plearnpichaya, Jaonaay Jinjett, Ice Paris, Nana Sawanya, dan masih banyak lagi. Versi dramanya disutradarai oleh Pat Boonnitipat.

Sinopsisnya, Lin (Junei Plearnpichaya) adalah siswi jenius yang memanfaatkan kecerdasannya untuk membantu kecurangan ujian demi uang. Lin kemudian merekrut Bank (Jaonaay Jinjett) menjadi rekannya dalam melakukan kecurangan demi mencari uang tambahan untuk kuliah. Namun, keduanya harus mempertaruhkan masa depan mereka saat melangsungkan aksi ketika ujian.

Drama ini menyoroti kesenjangan ekonomi dalam dunia pendidikan, di mana akses dan kesempatan sering kali ditentukan oleh uang. Lewat konflik moral para karakternya, Bad Genius The Series mempertanyakan makna keadilan dan keberhasilan dalam sistem akademik modern. Drama ini gak kalah menarik dengan filmnya, lho.

4. Bangkok Breaking (2021)

poster drama Bangkok Breaking (dok. Netflix/Bangkok Breaking)

Bangkok Breaking (2021) mengangkat realita kelam kota besar melalui sudut pandang relawan penyelamat. Karya orisinal Netflix ini mendapuk Weir Sukollawat dan Aom Sushar sebagai pemeran utamanya. Mengusung genre action thriller, Bangkok Breaking diarahkan oleh sutradara Khom Kongkiat, lho.

Ceritanya mengikuti Wanchai (Weir Sukollawat)yang terjebak dalam jaringan kejahatan dan korupsi setelah menemukan konspirasi besar di balik kecelakaan-kecelakaan misterius. Kota Bangkok digambarkan sebagai tempat yang keras dan penuh ketimpangan. Sedangkan, Kat (Aom Sushar) adalah jurnalis pemberani yang turun ke dunia malam demi investigasi.

Kat turut menjadi saksi bagaimana kekuasaan dan uang dapat membungkam kebenaran. Ia berniat untuk mengungkap setiap ketidakadilan yang ditemui dalam investigasinya. Drama ini memberikan kritik tajam terhadap sistem hukum, media, dan aparat yang kerap gagal melindungi masyarakat kecil.

5. Master of the House (2024)

poster drama Master of the House (dok. Netflix/Master of the House)

Master of the House (2024) menyoroti konflik kelas dan kekuasaan dalam keluarga konglomerat Thailand. Drama ini dibintangi Yada Narilya, Bie Teerapong, Nus Nusba, Gap Thanavate, dan lainnya. Drama bergenre thriller misteri ini disutradarai oleh Karn Sivaroj, lho.

Master of the House bercerita tentang intrik keluarga konglomerat berlian setelah kematian misterius sang ayah, Rungroj (Bie Teerapong). Mendiang Rungroj yang meninggalkan warisan besar yang diperebutkan kedua putranya yang kejam. Namun, sebelum meninggal, Rungroj sengaja menikahi Khaimuk (Yada Narilya), pembantu rumahnya, dan menyerahkan hartanya kepada istri baru.

Khaimuk bertekad mengungkap pembunuhan suaminya sambil membalas dendam, menjebak anak-anak itu dengan rencana cerdasnya sendiri. Drama ini mengkritik bagaimana kekuasaan ekonomi dapat memengaruhi hukum dan moralitas. Lewat konflik antarkarakter, Master of the House memperlihatkan bahwa ketimpangan sosial tidak hanya terjadi di masyarakat luas, tetapi juga di dalam lingkup keluarga kaya raya.

6. The Believers (2024)

poster The Believers (dok. Netflix/The Believers)

The Believers (2024) mengangkat isu manipulasi kepercayaan dan fanatisme. Drama ini berfokus pada kerjasama tiga pemeran utamanya yaitu Win (James Teeradon), Game (Peach Pachara), dan Dear (Ally Nitibhon). Karya orisinal Netflix ini disutradarai serta skenarionya ditulis oleh Jax Wattanapong.

Cerita bermula ketika Win, Game, dan Dear membangun perusahaan game yang awalnya mendapat keuntungan besar namun bangkrut dan terlibat utang miliaran. Dalam keadaan terdesak, mereka menemukan cara kotor untuk menghasilkan uang. Ketiganya terlibat dalam kelompok yang memanfaatkan agama dan keyakinan spiritual demi keuntungan pribadi.

Deretan drama Thailand ini membuktikan bahwa hiburan juga bisa menjadi media kritik sosial yang kuat. Melalui cerita yang berani dan karakter yang realistis, isu-isu seperti kesenjangan sosial, korupsi, pendidikan, hingga manipulasi agama dikemas dengan tajam dan menarik. Tak hanya menghibur, drama-drama ini mengajak penonton untuk berpikir lebih kritis terhadap realita di sekitar mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team