Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
3 Fakta Malcolm X, Film Pertama yang Diizinkan Syuting di Makkah
cuplikan adegan dalam film Malcolm X (dok. Warner Bros. Pictures/Malcolm X)
  • Film Malcolm X digarap dengan riset mendalam berdasarkan autobiografi Malcolm dengan bantuan penulis skenario ternama. Spike Lee ingin menghadirkan potret akurat perjuangan, perubahan, dan kompleksitas sosok Malcolm X.

  • Film ini menjadi karya nondokumenter pertama yang diizinkan syuting di Makkah dengan persetujuan pemerintah Saudi. Prosesnya rumit karena keterbatasan akses nonmuslim dan tantangan pendanaan produksi.

  • Adegan haji menjadi titik balik spiritual yang memperlihatkan transformasi iman Malcolm X secara mendalam. Momen tersebut memperkuat pesan universal tentang keadilan, persaudaraan, dan kemanusiaan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Spike Lee memantapkan dirinya sebagai seorang sutradara saat membuat biopik atau film biografi berjudul Malcolm X (1992). Sebagai salah satu sutradara kulit hitam yang paling terkenal dan setelah membuat lima film terkemuka dalam 6 tahun, Lee juga memelopori hal-hal baru dan inovatif dalam menyajikan kehidupan kontemporer di kalangan warga Amerika kulit hitam, baik itu lewat pergerakan kamera maupun musik jaz yang kental dalam soundtrack filmnya. Itu sebabnya, Malcolm X dibuat dengan sangat berbeda.

Spike Lee membuat film epik berdurasi lebih dari 3 jam tentang perjalanan panjang dan berliku dari seorang Malcolm X (diperankan Denzel Washington), seorang pemuda yang gigih menjadi aktivis hak-hak sipil. Lee menggunakan sinematiknya sendiri ke dalam produksi film tersebut. Ia gak mau membuat drama sejarah yang kaku. Itu kenapa ia memilih lokasi yang nantinya menjadi sejarah bagi film Malcolm X.

Nah, karena sebagian besar film Malcolm X berkaitan dengan perubahan Malcolm dari seorang kriminal menjadi seorang pejuang untuk Nation of Islam, film ini lantas berfokus pada perubahan tersebut. Malcolm X melakukan perjalanan haji ke kota suci Makkah yang akhirnya mengubah cara berpikir seorang Malcolm. Lee pun bersikeras untuk memasukkan fakta itu ke dalam sebuah adegan. Itulah kenapa ia memilih syuting di Makkah. Hingga akhirnya, Malcolm X menjadi film nondokumenter pertama yang syuting di Makkah. Bagaimana faktanya?

1. Film Malcolm X menceritakan tentang kehidupan Malcolm secara gamblang

cuplikan adegan dalam film Malcolm X (dok. Warner Bros. Pictures/Malcolm X)

Butuh waktu puluhan tahun untuk mewujudkan film Malcolm X karena James Baldwin, Arnold Perl, Charles Fuller, dan David Mamet menulis skenarionya berdasarkan buku The Autobiography of Malcolm X karya Malcolm X dan Alex Haley. Kemudian, Spike Lee dipilih untuk menggarap skenario Baldwin dan Perl ini. Adapun, Lee kembali melakukan riset tambahan dan menulis ulang skenario agar sesuai dengan keinginannya.

Spike Lee ingin menghidupkan kembali kisah Malcolm X bagi masyarakat yang dijejali informasi gak akurat tentang sosok tersebut. Nah, karena risetnya yang mendalam, film Malcolm X ini menuai pujian karena dianggap sangat akurat dengan kisah Malcolm. Saat diwawancarai LA Times tentang film ini, Lee mengatakan, "Malcolm X menjadi inspirasi yang kuat bagi semua kelompok kulit hitam karena ia berjuang untuk melawan penindasan."

Ini seperti yang ditulis David Ansen dalam sebuah artikel Newsweek pada 1992 tentang salah satu sisi kontroversi film tersebut, "Banyak warga Afrika-Amerika menganggap pesan dari film Malcolm X tentang nasib kaum kulit hitam ini lebih relevan ketimbang adaptasi biografi yang lain." Terlepas dari kenyataan bahwa Spike Lee ingin membuat film Malcolm X ini untuk orang-orang tertindas dari berbagai kalangan, penceritaannya tentang kisah Malcolm X ini sangat spesifik, mirip seperti penindasan yang dialaminya dan perjalanan yang dilaluinya. Mengingat keyakinan Malcolm X pada Islam dan ziarahnya ke Makkah pada usia senja, Lee ingin menghidupkan momen berharga itu ke dalam layar. Itulah kenapa ia rela mengambil gambar di kota suci tersebut.

2. Malcolm X syuting di kota suci Makkah

cuplikan adegan dalam film Malcolm X (dok. Warner Bros. Pictures/Malcolm X)

Film yang mengambil gambar atau syuting di Makkah, tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW dan merupakan kota suci umat Islam, belum pernah dilakukan sebelumnya di luar film dokumenter. Lee mengaku kesulitan saat meminta izin syuting kepada pemerintah Saudi. Ditambah lagi, Warner Bros. Pictures sempat gak setuju dengan rencana syuting di Makkah karena masalah anggaran dan ribetnya perizinan. Lee pun nekat dengan mendanai sendiri adegan tersebut.

Seperti yang mungkin kamu tahu, nonmuslim gak diizinkan masuk ke kota suci Makkah. Spike Lee sendiri gak bisa menggarap langsung adegan di Makkah karena ia nonmuslim. Jadi, Lee harus mempekerjakan dua tim yang semuanya muslim untuk merekam adegan haji. Adapun, satu pada Mei 1990 dan yang lainnya pada Juni 1991. Alhasil, Lee juga gak bisa mengawasi pengambilan gambar.

Spike Lee akhirnya diizinkan untuk syuting di Makkah karena status Malcolm X sebagai seorang mualaf. Nah, kesepakatan tersebut disetujui oleh Raja Fahd dari Arab Saudi. Film yang mendokumentasikan ibadah haji Malcolm X ini membangun gambaran impresionistik tentang perjalanan Malcolm di kota suci Makkah. Hasilnya pun bikin terharu. Itu sebabnya, film ini menjadi salah satu karya terbaik Spike Lee.

3. Malcolm X bercerita tentang keimanan seorang Malcolm saat memeluk Islam

cuplikan adegan dalam film Malcolm X (dok. Warner Bros. Pictures/Malcolm X)

Bahkan, hingga kini, film Malcolm X masih menjadi karya yang legendaris dari salah satu pembuat film hebat Amerika. Film ini beda dengan kebanyakan film genre biografi karena menjadi eksplorasi budaya, nilai-nilai, revolusi, dan, ya, agama. Film Malcolm X sendiri bisa dibilang sebagai sebuah studi tentang masalah rasial sepanjang sejarah dan bagaimana seorang laki-laki menggunakan imannya sebagai payung bagi seluruh umat manusia.

Seperti yang diungkap Spike Lee, banyak orang yang menganggap adegan di Makkah dalam film tersebut sebagai momen yang manis dan mengharukan. Adegan di Makkah juga sangat krusial karena merupakan titik balik spiritual dalam hidup Malcolm X. Jadi, ini jauh berbeda dari materi revolusioner Nation of Islam yang membentuk sebagian besar filmnya.

Nah, film Malcolm X sendiri bisa jadi pilihan kamu jika tertarik dengan biopik, nih. Malcolm X sendiri adalah pahlawan revolusioner yang gak mudah dilupakan dalam sejarah. Apalagi, hidupnya semakin dipuji saat ia menjadi seorang mualaf dan menunaikan ibadah haji ke Makkah. Tertarik buat nonton?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎