Spike Lee memantapkan dirinya sebagai seorang sutradara saat membuat biopik atau film biografi berjudul Malcolm X (1992). Sebagai salah satu sutradara kulit hitam yang paling terkenal dan setelah membuat lima film terkemuka dalam 6 tahun, Lee juga memelopori hal-hal baru dan inovatif dalam menyajikan kehidupan kontemporer di kalangan warga Amerika kulit hitam, baik itu lewat pergerakan kamera maupun musik jaz yang kental dalam soundtrack filmnya. Itu sebabnya, Malcolm X dibuat dengan sangat berbeda.
Spike Lee membuat film epik berdurasi lebih dari 3 jam tentang perjalanan panjang dan berliku dari seorang Malcolm X (diperankan Denzel Washington), seorang pemuda yang gigih menjadi aktivis hak-hak sipil. Lee menggunakan sinematiknya sendiri ke dalam produksi film tersebut. Ia gak mau membuat drama sejarah yang kaku. Itu kenapa ia memilih lokasi yang nantinya menjadi sejarah bagi film Malcolm X.
Nah, karena sebagian besar film Malcolm X berkaitan dengan perubahan Malcolm dari seorang kriminal menjadi seorang pejuang untuk Nation of Islam, film ini lantas berfokus pada perubahan tersebut. Malcolm X melakukan perjalanan haji ke kota suci Makkah yang akhirnya mengubah cara berpikir seorang Malcolm. Lee pun bersikeras untuk memasukkan fakta itu ke dalam sebuah adegan. Itulah kenapa ia memilih syuting di Makkah. Hingga akhirnya, Malcolm X menjadi film nondokumenter pertama yang syuting di Makkah. Bagaimana faktanya?
