Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Film 2016 yang Kini Dianggap Terlalu Kontroversial untuk Diproduksi
The Promise (Dok. Open Road Fims/The Promise)

Industri perfilman terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Hal yang dianggap berani dan layak diproduksi satu dekade lalu belum tentu akan mendapat sambutan sama jika diajukan kepada studio besar saat ini. Perubahan selera penonton, meningkatnya sensitivitas terhadap isu sosial, hingga pertimbangan bisnis membuat banyak proyek film harus melewati proses seleksi yang jauh lebih ketat.

Beberapa film yang dirilis pada 2016 menjadi contoh menarik. Bukan karena kualitasnya buruk, tetapi karena tema, sudut pandang, atau kontroversi di balik produksinya membuat film-film tersebut terasa sulit diwujudkan jika baru dikembangkan sekarang. Berikut lima film 2016 yang kemungkinan besar akan menghadapi tantangan besar apabila diproduksi di era saat ini.

1. Passengers (2016)

Passengers (Dok. Columbia Pictures/Passengers)

Passengers menghadirkan konsep fiksi ilmiah yang menarik. Film ini mengikuti Jim Preston, seorang penumpang pesawat luar angkasa yang terbangun puluhan tahun lebih awal akibat kerusakan kapsul tidur. Karena tidak sanggup menghadapi kesendirian, ia memutuskan membangunkan Aurora, seorang perempuan yang sebenarnya masih tertidur, sehingga masa depannya ikut berubah selamanya.

Film yang dibintangi Chris Pratt dan Jennifer Lawrence ini tampak menjanjikan. Namun, premis tersebut justru memicu kontroversi karena tindakan Jim dianggap sebagai pelanggaran terhadap hak dan pilihan hidup Aurora. Banyak penonton merasa film ini berusaha membingkai keputusan yang problematis sebagai kisah romantis.

Di era sekarang, ketika isu persetujuan atau consent menjadi perhatian besar, kemungkinan besar naskah seperti ini akan mengalami perubahan drastis sebelum mendapat lampu hijau.

2. Silence (2016)

Silence (dok. Paramount Pictures/Silence)

Disutradarai Martin Scorsese, Silence merupakan drama sejarah yang mengisahkan dua pastor Yesuit yang pergi ke Jepang pada abad ke-17 untuk mencari guru mereka sekaligus mempertahankan keyakinan di tengah penganiayaan terhadap umat Kristen. Film ini menawarkan perjalanan spiritual berat sekaligus mempertanyakan arti iman dalam situasi ekstrem.

Meski dipuji karena kualitas penyutradaraan dan aktingnya, Silence bukanlah film yang mudah dipasarkan. Durasinya panjang, temponya lambat, dan pembahasannya sangat filosofis. Saat ini, studio besar cenderung lebih berhati-hati mendanai proyek orisinal berskala besar yang menyasar pasar terbatas.

Film seperti Silence kemungkinan akan lebih mudah diproduksi oleh layanan streaming dibandingkan mengandalkan perilisan eksklusif di bioskop seperti saat pertama kali hadir.

3. The Promise (2016)

The Promise (Dok. Open Road Fims/The Promise)

The Promise mengambil latar tragedi Genosida Armenia pada masa Perang Dunia I dengan kisah cinta segitiga sebagai benang merah ceritanya. Dibintangi Oscar Isaac, Christian Bale, dan Charlotte Le Bon, film ini berusaha mengangkat salah satu tragedi kemanusiaan terbesar yang hingga kini masih menjadi topik sensitif di berbagai negara.

Sayangnya, film ini justru menjadi sasaran kampanye negatif bahkan sebelum dirilis luas. Banyak pihak yang menyangkal peristiwa Genosida Armenia membanjiri berbagai situs ulasan dengan penilaian buruk sehingga citra film ikut terdampak.

Peristiwa tersebut menjadi contoh bagaimana tekanan media sosial dan kampanye daring dapat memengaruhi nasib sebuah film. Melihat kondisi industri saat ini, studio mungkin akan berpikir dua kali sebelum menggelontorkan dana besar untuk proyek sejarah yang berpotensi memicu kontroversi serupa.

4. LBJ (2016)

film LBJ (dok. Electric Ent./LBJ)

Film biografi LBJ mengangkat perjalanan Presiden Amerika Serikat Lyndon B. Johnson, yang diperankan Woody Harrelson. Fokus utamanya adalah masa transisi setelah pembunuhan John F. Kennedy hingga Johnson berupaya mendorong lahirnya berbagai kebijakan hak-hak sipil di Amerika Serikat.

Namun, banyak kritikus menilai film ini terlalu menyederhanakan sejarah. Perannya dalam Perang Vietnam hanya disinggung secara terbatas, sementara penggambaran Johnson dianggap terlalu positif. Akibatnya, film ini sulit diterima oleh berbagai kalangan karena dinilai kurang seimbang dalam menampilkan fakta sejarah.

Di tengah tuntutan publik terhadap film biografi yang lebih akurat dan bernuansa, pendekatan seperti LBJ kemungkinan akan menghadapi kritik lebih besar apabila diproduksi sekarang.

5. Cafe Society (2016)

Cafe Society (Dok. Lionsgate/Cafe Society)

Disutradarai Woody Allen, Cafe Society merupakan drama romantis yang berlatar Hollywood era 1930-an. Film ini mengikuti kisah Bobby Dorfman yang pindah ke Los Angeles dan terjebak dalam hubungan cinta yang rumit di tengah gemerlap industri hiburan klasik. Nuansa nostalgia dan visual elegan menjadi daya tarik utama film ini.

Meski mendapat respons yang cukup baik saat dirilis, situasi berubah drastis beberapa tahun kemudian. Kontroversi yang terus mengiringi nama Woody Allen membuat banyak studio enggan lagi bekerja sama dengannya, terutama setelah munculnya gerakan #MeToo.

Selain itu, film bertema Hollywood klasik juga kini dianggap memiliki daya tarik pasar yang lebih terbatas dibanding sebelumnya. Kombinasi kedua faktor tersebut membuat proyek seperti Cafe Society kemungkinan besar akan sulit diwujudkan dengan skala yang sama pada era sekarang.

Perubahan zaman selalu memengaruhi jenis film yang diproduksi Hollywood. Nah, menurutmu dari kelima film di atas, mana yang paling mustahil diproduksi jika baru diajukan ke studio pada masa sekarang?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorAtqo Sy

Related Article