Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cleopatra.
Cleopatra (dok. 20th Century Fox/Cleopatra)

Intinya sih...

  • Cleopatra (1963) menghabiskan $44 juta dolar AS atau sekitar Rp682 miliar, tetapi hanya meraup sekitar $57 juta dolar AS di box office.

  • Titan A.E. (2000) menelan biaya produksi sekitar $85 juta dolar AS atau setara Rp1,3 triliun, namun pendapatannya hanya sekitar $37 juta dolar AS.

  • Gods and Generals (2003) menghabiskan biaya produksi sekitar $56 juta dolar AS atau setara Rp868 miliar, tetapi hanya meraup sekitar $13 juta dolar AS di box office.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Ambisi besar dalam dunia perfilman sering kali melahirkan karya legendaris. Namun, di sisi lain, ambisi yang terlalu tinggi juga bisa berubah menjadi mimpi buruk finansial. Sejarah Hollywood penuh dengan contoh film yang dibuat dengan keyakinan penuh, budget gila-gilaan, dan nama besar, tetapi justru berakhir sebagai bencana ekonomi.

Menariknya, banyak dari film ini sebenarnya tidak sepenuhnya buruk. Beberapa bahkan dianggap klasik atau cult favorite hingga sekarang. Sayangnya, kerugian yang ditimbulkan terlalu besar hingga membuat studio harus menjual aset, menutup divisi, atau bahkan gulung tikar. Berikut enam film ambisius yang menjadi bukti bahwa film besar tidak selalu berarti untung besar.

1. Cleopatra (1963)

Cleopatra (dok. 20th Century Fox/Cleopatra)

Pada masanya, bujet Cleopatra terdengar nyaris tidak masuk akal. Film ini menghabiskan sekitar 44 juta dolar AS, yang jika dikonversi setara dengan kurang lebih Rp682 miliar. Dengan Elizabeth Taylor sebagai pemeran utama dan sutradara sekelas Joseph L. Mankiewicz, 20th Century Fox yakin mereka sedang membuat mahakarya sejarah yang tak tertandingi.

Masalahnya, produksi film ini penuh kekacauan. Mulai dari pergantian sutradara, lokasi syuting yang berpindah-pindah, hingga drama personal para pemain. Meski pendapatan box office mencapai sekitar 57 juta dolar AS atau sekitar Rp883 miliar, angka itu masih belum cukup menutup biaya produksi dan pemasaran.

Akibatnya, Fox hampir bangkrut sampai terpaksa menjual aset studio, dan menghentikan proyek-proyek lain demi bertahan hidup.

2. Titan A.E. (2000)

cuplikan film Titan A.E. (Dok. 20th Century Studio/Titan A.E.)

Titan A.E. adalah taruhan besar Fox Animation Studios untuk menyaingi dominasi Disney. Film animasi sci-fi ini menelan bujet sekitar $85 juta dolar AS, atau setara Rp1,3 triliun, angka yang sangat besar untuk studio animasi yang masih terbilang baru. Dengan naskah dari Joss Whedon, ekspektasinya jelas tinggi.

Sayangnya, film ini gagal menemukan penonton yang tepat. Terlalu dewasa untuk anak-anak, tapi terasa animasi untuk penonton dewasa. Pendapatan box office-nya hanya sekitar 37 juta dolar AS atau sekitar Rp573 miliar, membuat kerugian tak terhindarkan. Tak lama setelah rilis, Fox Animation Studios resmi ditutup, menjadikan Titan A.E. sebagai penutup tragis divisi tersebut.

3. Gods and Generals (2003)

Gods and Generals (dok. Ted Turned Pictures/Gods and Generals)

Film perang epik ini merupakan proyek penuh gairah dari Ted Turner dan Ronald F. Maxwell. Dengan biaya produksi sekitar 56 juta dolar AS atau setara Rp868 miliar, film ini mengangkat Perang Saudara Amerika dengan durasi yang ekstrem, yakni lebih dari tiga setengah jam untuk versi bioskop.

Masalahnya, penonton modern tidak siap dengan film sepanjang itu. Gods and Generals hanya meraup sekitar 13 juta dolar AS atau sekitar Rp201 miliar di box office. Ditambah biaya pemasaran sekitar 30 juta dolar AS (sekitar Rp465 miliar), kerugian film ini menjadi pukulan fatal. Film ini pun menjadi proyek terakhir yang diproduksi Ted Turner Pictures.

4. Cutthroat Island (1994)

Cutthroat Island (dok. Carolco Pictures/Cutthroat Island)

Carolco Pictures pernah berada di puncak kejayaan berkat film-film seperti Terminator 2. Merasa tak terkalahkan, studio ini mempertaruhkan segalanya pada film bajak laut Cutthroat Island. Awalnya dianggarkan 60 juta dolar AS (sekitar Rp930 miliar), budget-nya membengkak hingga 100 juta dolar AS atau sekitar Rp1,55 triliun akibat produksi yang kacau.

Sayangnya, genre bajak laut saat itu sudah tidak populer. Film ini hanya menghasilkan sebesar 18 juta dolar AS (sekitar Rp279 miliar) secara global. Kerugian masif ini menghancurkan Carolco Pictures dan memaksa pendirinya mengajukan kebangkrutan. Hingga kini, Cutthroat Island masih dikenang sebagai salah satu kegagalan terbesar dalam sejarah film.

5. Bangkok Dangerous (2008)

Bangkok Dangerous (dok. Saturn Films/Bangkok Dangerous)

Versi remake berbahasa Inggris dari film Thailand ini diproduksi oleh Saturn Films milik Nicolas Cage. Dengan budget sebesar 45 juta dolar AS (sekitar Rp698 miliar), film ini diharapkan menjadi thriller internasional yang solid. Namun, respons kritikus dan penonton sama-sama dingin.

Pendapatan film ini hanya mencapai sekitar 42 juta dolar AS atau sebesar Rp651 miliar, nyaris impas di atas kertas, tapi belum termasuk biaya promosi. Kerugian ini berkontribusi pada masalah keuangan Saturn Films dan krisis finansial Nicolas Cage secara pribadi. Meski akhirnya bangkit kembali, film ini tetap menjadi simbol keputusan bisnis yang keliru.

6. Megalopolis (2024)

film Megalopolis (dok. Lionsgate/Megalopolis)

Megalopolis adalah proyek impian Francis Ford Coppola yang dibiayai dengan uang pribadinya. Film sci-fi ambisius ini menghabiskan sekitar 135 juta dolar AS, setara Rp2 triliun, jumlah yang sangat besar untuk film non-franchise di era modern. Coppola yakin visinya akan menemukan penonton.

Realitanya jauh dari harapan. Film ini hanya meraup sekitar 14 juta dolar AS atau sebanyak Rp217 miliar di bioskop, bahkan banyak jaringan bioskop enggan menayangkannya. Akibatnya, American Zoetrope kembali berada di ujung tanduk secara finansial. Meski begitu, Coppola tetap dikenal sebagai sutradara yang tak pernah berhenti bertaruh pada idealismenya.

Ambisi memang menjadi bahan bakar utama lahirnya film-film besar, tetapi tanpa perhitungan yang matang, ambisi bisa berubah menjadi bencana. Menurut kamu, apakah kegagalan-kegagalan ini sepadan dengan warisan artistik yang mereka tinggalkan?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team