Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Film Animasi Garuda di Dadaku Tegaskan Tak Gunakan AI, Apa Alasannya?
press conference film animasi Garuda di Dadaku di XXI Epicentrum, Rabu (3/6/2026) (dok. IDN Times)

Jakarta, IDN Times - Penggunaan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam industri film dan animasi masih menjadi perdebatan hingga kini. Di satu sisi, AI dinilai mampu mempercepat proses produksi dan menekan biaya pengerjaan. Namun di sisi lain, teknologi tersebut juga menuai kritik karena dianggap berpotensi mengurangi peran kreator manusia serta memunculkan persoalan hak cipta dan orisinalitas karya.

Di tengah perdebatan ini, film animasi Garuda di Dadaku pun mengungkap pandangan mereka. Jelang penayangannya di bioskop pada 11 Juni 2026, sutradara Ronny Gani dan produser Shanty Harmayn menegaskan bahwa film garapan mereka tidak menggunakan teknologi AI dalam proses produksi. Kenapa? Apa alasannya?

1. Sutradara tegaskan film animasi Garuda di Dadaku tak gunakan AI

press conference film animasi Garuda di Dadaku di XXI Epicentrum, Rabu (3/6/2026) (dok. IDN Times)

Di saat penggunaan AI mulai marak di industri kreatif, film animasi Garuda di Dadaku justru menegaskan bahwa mereka tidak menggunakan teknologi tersebut dalam proses produksi. Hal tersebut diungkap langsung oleh Ronny Gani saat wawancara doorstop bersama awak media di XXI Epicentrum, Rabu (3/6/2026).

“Gak ada. Gak pakai AI sama sekali di produksi animasi Garuda di Dadaku,” kata Ronny Gani yang saat itu diwawancarai bersama Shanty Harmayn.

2. Masih percaya pada kemampuan dan humancraft atau hasil karya para talenta lokal

press conference film animasi Garuda di Dadaku di XXI Epicentrum, Rabu (3/6/2026) (dok. IDN Times)

Saat ditanya IDN Times mengenai alasan di balik keputusan tersebut, Ronny menjelaskan bahwa mereka masih percaya pada kemampuan dan humancraft atau hasil karya dari para talenta lokal. Menurutnya, proses kreatif yang dikerjakan langsung oleh manusia memiliki sentuhan yang lebih personal sehingga pesan dan emosi yang ingin disampaikan dalam film dapat lebih mudah diterima oleh penonton.

“Kita masih percaya dengan kemampuan dan humancraft dari talenta-talenta lokal dan kita percaya juga bahwa kalau yang meng-create itu human (manusia) akan lebih bisa kena dengan penerimaannya oleh audience kita. Itu yang kita percaya,” lanjut Ronny.

Karena komitmen tersebut, gak heran kalau tim produksi sampai melibatkan hampir 500 animator dari berbagai daerah di Indonesia untuk mengerjakan film ini selama tiga tahun.

“Jadi ada 550 total kru kita, yang animatornya hampir 500. Total proses produksi tiga tahun,” ungkap Ronny.

3. Berkomitmen untuk mendukung industri animasi lokal

press conference film animasi Garuda di Dadaku di XXI Epicentrum, Rabu (3/6/2026) (dok. IDN Times)

Shanty Harmayn kemudian menjelaskan bahwa keputusan untuk tidak menggunakan AI dalam proses produksi film animasi Garuda di Dadaku juga didasari oleh keinginan dan komitmen mereka untuk membangun industri animasi Indonesia.

“Mungkin dari segi producing, ini kan niatnya untuk membangun industri animasi. So, why use AI (Kenapa harus menggunakan AI)?,” kata Shanty sambil tersenyum.

Menurutnya, Indonesia memiliki banyak talenta animasi yang perlu diberi ruang untuk berkembang dan berkarya. Oleh karena itu, produksi film ini sengaja mengandalkan tenaga kreatif manusia sebagai bagian dari upaya mendorong industri animasi nasional agar mampu menghasilkan film layar lebar secara konsisten.

“Kita selalu bicara, ‘Oh talent animasi Indonesia banyak.’ So, niatnya adalah untuk membangun supaya industri animasi Indonesia membuat karya film layar lebar secara konsisten.”

Film animasi Garuda di Dadaku cukup banyak dinanti karena tercatat sebagai karya adaptasi dari film drama olahraga populer Indonesia berjudul sama yang dirilis pada 2009 lalu. Selain itu, film ini juga menjadi debut penyutradaraan Ronny Gani, animator asal Indonesia yang berpengalaman di industri film Hollywood.

Editorial Team

Related Article