Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
KPop Demon Hunters
KPop Demon Hunters (dok. Netflix/KPop Demon Hunters)

Intinya sih...

  • KPop Demon Hunters (2025) - Genre: musikal, komedi, animasi, petualangan - Pemain: Arden Cho, May Hong, Ken Jeong - Sutradara: Maggie Kang dan Chris Appelhans

  • Helter Skelter (2012) - Genre: horor psikologi, drama, thriller - Pemain: Erika Sawajiri, Kiko Mizuhara, Yosuke Kubozuka - Sutradara: Mika Ninagawa

  • Summer Snow (1995) - Genre: drama domestik - Pemain: Josephine Siao, Allen Ting, Law Ka Ying - Sutradara: Ann Hui

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Sering sebal ketika menonton film Asia yang karakter perempuannya kurang dikembangkan? Sering kali mereka tak punya agensi, kekhawatirannya kurang akurat, cuma jadi penggembira, atau bahkan parahnya diobjektifikasi. Ternyata, bukan kamu saja yang mengeluhkan perkara ini.

Sutradara No Other Choice (2025), Park Chan Wook bahkan mengakui kalau pada awal-awal kariernya, ia juga sering menaruh karakter perempuan sebagai bayang-bayang lakon pria. Ia pun berbenah dan mulai melihat pentingnya karakter perempuan yang otonom dan punya agensi sendiri.

Namun, sebelum Park Chan Wook, sudah banyak sebenarnya sutradara perempuan Asia yang pakai female gaze untuk bikin film. Sebagai bentuk apresiasi, bolehlah kamu coba tonton enam rekomendasi film Asia berikut ini untuk memperkaya sudut pandang.

1. KPop Demon Hunters (2025) )

KPop Demon Hunters (dok. Netflix/KPop Demon Hunters)

Sebagai permulaan, boleh coba film yang mencuri perhatian sepanjang 2025 kemarin, KPop Demon Hunters. Film animasi ini dibuat sutradara Korsel-Kanada, Maggie Kang, dan menawarkan perspektif segar. Film berpusat pada 3 personel girl group yang menemukan posisi mereka terancam oleh kehadiran grup musik lain yang punya misi rahasia berbahaya.

KPop Demon Hunters diklaim sebagai salah satu film yang mendeskripsikan perempuan dan pertemanan antarperempuan secara realistis dan akurat. Tidak sempurna, tetapi tidak pula seperti sebuah fantasi pria. Tidak pula seperti beberapa film Hollywood yang mengeklaim feminis, nilai feminisme dalam KPop Demon Hunters juga terasa lebih natural dan pas, yakni tak ada upaya menjatuhkan kaum lain atau menolak femininitas.

  • Genre: musikal, komedi, animasi, petualangan

  • Pemain: Arden Cho, May Hong, Ken Jeong

  • Sutradara: Maggie Kang dan Chris Appelhans

2. Helter Skelter (2012)

Helter Skelter (dok. Asmik Ace Entertainment/Helter Skelter)

Helter Skelter adalah film horor-psikologi Jepang yang bakal mengganggumu di awal. Ia mengikuti LiLiCo, seorang selebriti yang rela melakukan banyak prosedur operasi plastik demi memenuhi standar kecantikan yang berlaku. Namun, seiring waktu, ia mulai mengalami berbagai efek samping dan makin parahnya, posisinya terancam oleh kehadiran sesosok pendatang baru.

Film dengan saksama mengikuti perkembangan karakter LiLiCo. Ia sempat jatuh dalam jebakan male gaze dan kapitalisme. Namun, lama kelamaan kita disuguhi berbagai ketidaknyamanan yang merupakan kritik pedas terhadap tatanan sosial masyarakat kita yang toksik, terutama terhadap perempuan.

  • Genre: horor psikologi, drama, thriller

  • Pemain: Erika Sawajiri, Kiko Mizuhara, Yosuke Kubozuka

  • Sutradara: Mika Ninagawa

3. Summer Snow (1995)

Summer Snow (dok. Harvest Crown/Summer Snow)

Summer Snow adalah film Hong Kong yang menggunakan point-of-view (POV) seorang perempuan paruh baya bernama May. Hidupnya makin rumit dan sibuk setelah ibu mertuanya meninggal. Tak hanya harus mengurus rumah serta kebutuhan suami dan anaknya, ia jadi dibebani tanggung jawab merawat ayah mertuanya yang mengidap Alzheimer. May adalah perwakilan banyak perempuan di dunia, terutama Asia yang harus menanggung beban perawatan (caregiving) anggota keluarga dan kerap tak dapat apresiasi yang sepatutnya.

  • Genre: drama domestik

  • Pemain: Josephine Siao, Allen Ting, Law Ka Ying

  • Sutradara: Ann Hui

4. Art Museum by the Zoo (1998)

Art Museum By The Zoo (dok. Mirovision Inc./Art Museum By The Zoo)

Ditulis dan disutradarai perempuan, Art Museum by the Zoo sering disebut salah satu film esensial dalam sejarah film female gaze Korea. Film ini memakai perspektif perempuan yang gak ambil pusing dengan kehidupan percintaannya, sampai takdir mempertemukannya dengan pria yang baru patah hati. Sederhana, sih, tetapi baik lakon pria dan perempuannya dipotret natural tanpa bendera merah. Relasi mereka pun sehat, jauh dari kata problematik.

  • Genre: komedi romantis

  • Pemain: Shim Eun Ha, Lee Sung Jae, Song Sun Mi

  • Sutradara: Lee Jeong Hyan

5. Riverside Mukolitta (2021)

Riverside Mukolitta (dok. Kadokawa Pictures/Riverside Mukolitta)

Riverside Mukolitta adalah film Jepang yang sebenarnya mengeksplorasi duka cita. Naoko Ogigami memang gak memakai perempuan sebagai lakon, tetapi caranya memotret karakter pria bikin siapa pun wajib meneladaninya.

Film ini terkonsentrasi pada Takeshi, mantan napi yang mencoba menata hidupnya lagi dengan bekerja di sebuah pabrik pasta ikan. Ini sebuah keputusan yang bagus, karena akhirnya Takeshi belajar membuka diri dan meregulasi emosinya ketika dipaksa berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.

  • Genre: komedi, drama

  • Pemain: Ken’ichi Matsuyama, Tyuyoshi Muro, Hikari Mitsushima

  • Sutradara: Naoko Ogigami

6. Girls of the Night (1961)

Girls of the Night (dok. Janus Films/Girls of the Night)

Dirilis pada 1961, Girls of the Night layak disebut film Asia esensial yang dibuat dengan female gaze. Saat itu, belum banyak film Jepang yang dibuat oleh perempuan dan Kinuyo Tanaka bisa dibilang salah satu pelopornya. Dalam Girls of the Night, ia mencoba menyelami kehidupan perempuan Jepang yang terpaksa terjun ke industri seks untuk bertahan hidup setelah Perang Dunia II. Lewat kacamatanya, stigma soal mereka didobrak dan doronganmu untuk menghakimi bakal tergoncang seketika.

  • Genre: drama, realisme sosial

  • Pemain: Hisako Hara, Yoshi Takgai, Masumi Harukawa

  • Sutradara: Kinuyo Tanaka

Kalau kamu masih ragu dengan definisi female gaze, keenam film Asia tadi bisa jadi contoh konkretnya. Bukan sesederhana lawan dari male gaze, tetapi sebuah pendekatan kompleks, kaya komentar sosial dan pesan pemberdayaan yang utuh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team