Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
All's Well, Ends Well (1992)
All's Well, Ends Well (dok. Regal Film Company/All's Well, Ends Well)

Intinya sih...

  • Pieces of April (2003): Film indie Amerika yang mengikuti kisah April, anak tertua keluarga yang memutuskan untuk mengundang keluarganya makan malam.

  • The Celebration (1998): Film Denmark tentang keluarga kaya raya dengan tensi dan rahasia yang tersingkap saat acara kumpul-kumpul.

  • All's Well, Ends Well (1992): Film Hong Kong tentang konflik keluarga yang tersingkap saat acara makan malam Tahun Baru China.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Keluarga Beckham sedang disorot gara-gara konflik yang terlanjur mencuat ke hadapan publik. Semua berawal dari ketidakhadiran Brooklyn di perayaan ulang tahun ke-50 sang ayah dan sebaliknya, ketiadaan orangtua dan saudara-saudara kandung Brooklyn dalam pesta pernikahan ulang dengan Nicola Peltz pada 2025. Sang anak sulung pasangan David dan Victoria Beckham itu pun buka suara pada awal 2026, mengonfirmasi dirinya memang tak lagi berkontak dengan keluarga inti dan keputusannya menyelenggarakan pernikahan ulang ada hubungannya dengan mereka, terutama sang ibu.

Sontak ini jadi bahan perbincangan di media sosial. Tak hanya penggemar dan pengikut gosip artis, beberapa psikolog dan ahli pun ikut angkat bicara. Nyatanya, konflik keluarga yang berujung pada pemutusan kontak (estrangement) adalah hal yang amat wajar dan banyak terjadi di dunia nyata. Kamu mungkin salah satu pelakunya, tetapi kalau ini ternyata cukup asing buatmu, film berikut bisa jadi cara untuk memahami bagaimana ini bisa jadi fenomena yang lumrah.

1. Pieces of April (2003)

Pieces of April (dok. United Artists/Pieces of April)

Silakan mulai dengan Pieces of April, sebuah film indie Amerika yang dibintangi Katie Holmes muda. Ia didapuk jadi April yang seperti Brooklyn adalah anak tertua di keluarganya. Seperti Brooklyn pula, April tidak lagi berkontak dengan anggota keluarganya, sampai suatu ketika ia memutuskan untuk mengundang mereka makan malam. Keputusan yang terdengar impulsif dan ganjil ini ia lakukan setelah tahu ibunya didiagnosa kanker. Film dibagi jadi dua bagian. Satu mengikuti April yang sibuk menyiapkan makan malam dan satu lagi mengekor perjalanan orangtua dan adik-adiknya dari New Jersey ke apartemen April di New York.

  • Genre: komedi, drama

  • Pemain: Katie Holmes, Oliver Platt, Patricia Clarkson

  • Sutradara: Peter Hedges

2. The Celebration (1998)

The Celebration (dok. Criterion/The Celebration)

The Celebration atau dikenal juga dengan Festen adalah film family feud asal Denmark yang melegenda. Seperti keluarga Beckham, film ini mengikuti dinamika relasi keluarga kaya raya yang memutuskan untuk mengadakan acara kumpul-kumpul di hotel yang mereka kelola bersama. Namun, seiring kita berkenalan dengan mereka, tensi dan rahasia mulai tersingkap. Puncaknya, salah satu anak tertua di keluarga tersebut memutuskan untuk melakukan konfrontasi terhadap orangtua mereka.

  • Genre: dark-comedy, drama

  • Pemain: Ulrich Thomsen, Thomas Bo Larsen, Paprika Steen

  • Sutradara: Thomas Vinterberg

3. All's Well, Ends Well (1992)

All's Well, Ends Well (dok. Regal Films Company/All's Well, Ends Well)

Reuni yang justru menyingkap konflik keluarga juga bisa kamu tonton dalam film Hong Kong, All's Well, Ends Well. Nyawa film ini adalah tiga bersaudara yang punya kisah cinta beragam dan penuh liku. Parahnya, semua konflik dan masalah mereka tersingkap saat acara makan malam Tahun Baru China. Filmnya kaos, tetapi juga amat relatable dan komplet. Isu patriarki, rivalitas antarsaudara kandung, sampai pernikahan dibahas di sini.

  • Genre: dark-comedy, drama

  • Pemain: Raymond Wong, Leslie Cheung, Stephen Chow

  • Sutradara: Clifton Ko

4. Still Walking (2008)

Still Walking (dok. Criterion/Still Walking)

Biasanya perbedaan nilai dan visi adalah hal yang paling sering mendorong terjadinya konflik antara anak dan orangtua. Ini yang dieksplorasi Hirokazu Koreeda dalam Still Walking. Film ini berlatar sekitar sehari dalam hidup keluarga Yokoyama. Seperti kebanyakan keluarga di Jepang, tiap November, mereka bakal berkumpul untuk berziarah bersama ke makam anggota keluarga yang sudah tiada. Salah satu makam yang akan mereka kunjungi adalah milik Junpei, anak laki-laki tertua sekaligus anak emas di keluarga itu. Kematiannya jelas bikin orangtua mereka terpukul, tetapi sekaligus memperburuk tensi yang ada di keluarga tersebut. Film ini berhasil memotret implikasi tendensi favoritisme dalam keluarga.

  • Genre: drama

  • Pemain: Hiroshi Abe, Kazuya Takahashi, Yukiko Ehara

  • Sutradara: Hirokazu Koreeda

5. The Quiet Family (1998)

The Quiet Family (dok. KT StudioGenie/The Quiet Family)

The Quiet Family adalah film komedi-horor yang terkonsentrasi pada sebuah keluarga disfungsional di Korea Selatan. Mereka kabur dari hiruk pikuk Seoul dan memutuskan melakoni slow-living dengan mengelola sebuah penginapan. Satu hari, salah satu tamu mereka ditemukan tergeletak tak bernyawa. Namun, bukannya segera melapor kepada pihak berwenang, mereka justru kompak menyembunyikan tragedi ini demi menyelematkan reputasi bisnis mereka. Masalahnya, sejak itu, insiden fatal terus terjadi di penginapan itu tanpa mereka tahu alasannya.

  • Genre: dark-comedy, horor

  • Pemain: Song Kang Ho, Choi Min Sik, Na Moon Hee

  • Sutradara: Kim Jee Woon

6. Happy End (2017)

Happy End (dok. Les Films du Losange/Happy End)

Keluarga kaya raya asal Prancis jadi pusat Happy End karya Michael Haneke. Seperti biasa, sang sutradara tak akan membiarkanmu bersenang-senang saat menonton filmnya. Meski berlatarkan Calais yang indah dan cerah, kamu justru akan diajak menyelami rahasia gelap yang mereka sembunyikan di balik status sosial itu. Salah satunya berkaitan dengan keberadaan kamp pengungsian yang dibangun tak jauh dari hunian eksklusif mereka.

  • Genre: dark-comedy, drama

  • Pemain: Isabelle Huppert, Jean Louis Trintignant, Mathieu Kassovitz

  • Sutradara: Michael Haneke

Tiap keluarga punya cerita dan masalahnya sendiri. Itu mungkin pesan moral umum dari keenam film tadi. Family feud memang topik yang tak asing di mata penikmat film. Sudah sering dibahas, tetapi keragaman cerita dan relevansinya bikin kita tak pernah bosan menonton. Tak usah jauh-jauh menganalisa apa yang terjadi dengan keluarga Beckham, kamu bahkan bisa memakai film-film tadi untuk mencoba memahami dan melakukan refleksi atas pengalaman personalmu sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team