Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
The Mortal Instruments: City of Bones
The Mortal Instruments: City of Bones (dok. Sony Pictures/The Mortal Instruments: City of Bones)

Intinya sih...

  • The Mortal Instruments: City of Bones (2013) - Adaptasi novel Cassandra Clare, konsep menarik, visual gelap romantis.

  • Dragonslayer (1981) - Cerita gelap dan serius, efek visual naga mengesankan.

  • The Spiderwick Chronicles (2008) - Fantasi keluarga imajinatif, desain makhluk kreatif.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Film fantasi adaptasi buku biasanya langsung dapat perhatian besar, apalagi kalau novelnya sudah punya basis penggemar kuat. Namun kenyataannya, tidak semua adaptasi mendapatkan sorotan yang layak. Ada beberapa film fantasi dari buku yang kualitasnya solid dan visualnya memanjakan mata, tetapi justru tenggelam di antara judul-judul besar lain.

Padahal, buat pencinta cerita dunia sihir, makhluk aneh, dan petualangan lintas realitas, film-film ini bisa jadi harta karun tersembunyi. Ceritanya unik dengan karakter kuat dan pendekatan yang berbeda dari fantasi mainstream. Berikut daftar film fantasi adaptasi buku paling underrated yang sebenarnya seru banget untuk ditonton ulang.

1. The Mortal Instruments: City of Bones (2013)

The Mortal Instruments: City of Bones (dok. Sony Pictures/The Mortal Instruments: City of Bones)

Diangkat dari novel populer karya Cassandra Clare, film ini sempat direncanakan menjadi franchise besar, tapi sayangnya berhenti di satu film saja. Padahal secara cerita, konsepnya sangat menarik, dunia modern yang diam-diam dihuni pemburu iblis, makhluk bayangan, dan konflik supernatural.

Tokoh utamanya, Clary Fray, mendadak mengetahui bahwa dirinya bagian dari garis keturunan pemburu iblis setelah ibunya menghilang secara misterius. Secara visual dan atmosfer, film ini berhasil menangkap nuansa gelap romantis khas novelnya. Chemistry antarkarakter utamanya juga cukup kuat, ditambah desain dunia Shadowhunter yang terasa stylish.

Meski respons awalnya campur aduk, banyak penggemar fantasi yang menganggap film ini lebih berhasil membangun mood dibanding versi serial TV-nya. Cocok buat yang suka fantasi modern dengan sentuhan aksi dan misteri.

2. Dragonslayer (1981)

Dragonslayer (dok. Paramount Pictures/Dragonslayer)

Film fantasi era 80-an ini diadaptasi dari novel karya Wayland Drew dan sering terlupakan karena kalah populer dari film besar lainnya. Ceritanya tentang sebuah kerajaan yang diteror naga ganas dan harus rutin memberikan korban manusia. Harapan terakhir mereka ada pada seorang penyihir tua, tapi rencana berubah saat penyihir tewas dan hanya menyisakan murid yang belum berpengalaman.

Nuansa film ini lebih gelap dan serius dibanding film fantasi keluarga pada masanya. Efek visual naganya, untuk ukuran zamannya, tergolong mengesankan dan masih terlihat keren sampai sekarang. Ceritanya juga tidak terlalu manis, justru terasa penuh risiko. Buat penonton yang suka fantasi klasik dengan tone lebih dewasa, film ini layak masih watchlist.

3. The Spiderwick Chronicles (2008)

The Spiderwick Chronicles (dok. Paramount Pictures/The Spiderwick Chronicles)

Diangkat dari seri buku karya Tony DiTerlizzi dan Holly Black, film ini memadukan fantasi dan petualangan keluarga dengan sangat rapi. Ceritanya mengikuti Jared dan saudara-saudaranya yang pindah ke rumah tua dan menemukan buku panduan makhluk gaib. Sejak saat itu, mereka sadar bahwa dunia peri, goblin, dan makhluk aneh benar-benar ada di sekitar mereka.

Film ini terasa imajinatif dan penuh variasi makhluk fantasi yang desainnya kreatif. Konfliknya mudah diikuti tapi tetap menegangkan untuk penonton muda maupun dewasa. Walau tidak meledak di box office, banyak yang menilai adaptasinya cukup menghibur. Ini tipe film fantasi yang seru ditonton bareng keluarga tanpa terasa kekanak-kanakan.

4. The Secret of NIMH (1982)

The Secret of NIMH (dok. MGM/The Secret of NIMH)

Animasi klasik ini diadaptasi dari novel Mrs. Frisby and the Rats of NIMH karya Robert C. O’Brien. Ceritanya mengikuti seekor ibu tikus yang berusaha menyelamatkan anak-anaknya dari bahaya panen ladang, sambil terlibat dengan koloni tikus cerdas hasil eksperimen laboratorium. Dari premisnya saja sudah terasa bahwa ini bukan animasi anak biasa.

Gaya animasinya detail, atmosfernya kadang terasa suram, dan emosinya cukup berat. Banyak penonton mengingat film ini sebagai animasi yang indah sekaligus sedikit menghantui. Meski jarang dibicarakan sekarang, kualitasnya membuat film ini layak disebut salah satu adaptasi animasi fantasi terbaik.

5. Stardust (2007)

Stardust (dok. Paramount Pictures/Stardust)

Diadaptasi dari novel Neil Gaiman, Stardust adalah fantasi petualangan yang ringan dan penuh keajaiban. Ceritanya mengikuti Tristan, pemuda desa yang pergi mencari bintang jatuh untuk membuktikan cintanya, lalu menemukan bahwa “bintang” itu adalah seorang perempuan. Dari situ, petualangan melebar melibatkan penyihir, pangeran licik, dan bajak laut.

Film ini punya nada dongeng modern yang hangat sekaligus kocak. Deretan pemainnya juga kuat, dari Michelle Pfeiffer sampai Robert De Niro dengan peran tak terduga. Banyak penonton justru merasa versi filmnya lebih mengalir dibanding bukunya. Campuran humor, romansa, dan fantasi epik membuatnya sangat rewatchable.

Film fantasi adaptasi buku tidak selalu harus blockbuster untuk bisa terasa memikat. Pilihan di atas bisa jadi rekomendasi tontonan fantasi yang segar. Dari semua film fantasi underrated ini, mana yang paling bikin mereka penasaran untuk ditonton duluan?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team