Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Always Shine.
Always Shine (dok. Oscilloscope Laboratories/Always Shine)

Intinya sih...

  • The House of the Devil (2009) memilih ritme pelan yang fokus membangun rasa tidak nyaman sejak menit pertama.

  • Masking Threshold (2021) mengikuti seorang pria dengan gangguan pendengaran yang meyakini ada makna tersembunyi di balik suara-suara itu.

  • Come True (2020) membawa penonton masuk ke dunia mimpi yang gelap dan penuh misteri, dengan visual film menjadi daya tarik utama.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Film horor sering kali diidentikkan dengan jump scare murahan atau cerita klise yang mudah ditebak. Padahal, di luar judul-judul populer, ada banyak film horor yang bekerja dengan cara lebih halus, pelan, dan justru jauh lebih menghantui. Sayangnya, film-film seperti ini sering tenggelam karena tidak ramah pasar atau dianggap kurang seram saat pertama rilis.

Seiring waktu, beberapa film horor seperti ini justru mendapatkan pengakuan ulang. Atmosfer kuat, tema psikologis yang dalam, serta pendekatan visual yang berani membuat film-film ini terasa lebih matang dan membekas lama. Berikut lima film horor yang kurang terkenal, tapi kualitasnya pantas disebut masterpiece.

1. The House of the Devil (2009)

The House of the Devil (dok. Glass Eye Pix/The House of the Devil)

Film ini hadir di masa ketika horor mulai terbelah antara mengandalkan jump scare dan yang memilih jalan lambat. The House of the Devil memilih ritme pelan yang fokus membangun rasa tidak nyaman sejak menit pertama. Ceritanya tentang seorang mahasiswi menerima pekerjaan babysitter yang terasa aneh sejak awal. Tidak ada teror instan, hanya rasa curiga yang terus tumbuh.

Justru di situlah kekuatannya. Ti West memaksimalkan atmosfer sunyi, penggunaan ruang, dan detail kecil yang bikin penonton waspada. Ketegangan menumpuk perlahan hingga akhirnya meledak di satu momen yang sangat efektif. Kini, film ini sering dianggap sebagai contoh awal slow-burn horror modern yang masih terasa relevan sampai sekarang.

2. Masking Threshold (2021)

Masking Threshold (dok. Drafthouse Films/Masking Threshold)

Masking Threshold bukan film horor yang nyaman ditonton. Kisahnya mengikuti seorang pria yang mengalami gangguan pendengaran mirip tinnitus, lalu meyakini ada makna tersembunyi di balik suara-suara itu. Obsesi ini membawanya ke eksperimen ekstrem yang perlahan menggerus kewarasannya.

Film ini nyaris terasa seperti eksperimen seni visual dan audio. Cerita disampaikan lewat monolog, rekaman kamera kecil, dan sudut pandang yang intim sekaligus mengganggu. Hasilnya adalah pengalaman horor yang sangat intens dan membuat penonton ikut terjebak dalam kegilaan karakter utamanya.

3. Come True (2020)

Come True (dok. Independent Film Company/Come True)

Menggabungkan horor dan sci-fi, Come True membawa penonton masuk ke dunia mimpi yang gelap dan penuh misteri. Ceritanya mengikuti Sarah, remaja bermasalah yang ikut eksperimen tidur demi mengatasi insomnia. Namun, mimpi-mimpi yang ia alami mulai bocor ke dunia nyata.

Visual film ini menjadi daya tarik utama. Gambaran makhluk bayangan, lanskap mimpi, dan suasana malam terasa seperti perpaduan antara sleep paralysis dan horor kosmik. Meski ending-nya bisa memecah opini, Come True sukses menciptakan rasa takut yang perlahan dan sangat membekas.

4. Always Shine (2016)

Always Shine (dok. Oscilloscope Laboratories/Always Shine)

Di balik premis sederhana tentang dua sahabat yang berlibur ke kabin, Always Shine menyimpan horor psikologis yang tajam. Beth dan Anna sama-sama aktris, tapi karier mereka berada di jalur yang sangat berbeda. Kecemburuan dan tekanan industri hiburan menjadi bom waktu dalam hubungan mereka.

Film ini menggunakan horor sebagai alat untuk mengkritik misogini dan kompetisi tidak sehat di dunia film. Akting Caitlin FitzGerald dan Mackenzie Davis terasa intens dan emosional. Tanpa perlu monster atau darah berlebihan, Always Shine berhasil menampilkan kegilaan yang lahir dari ambisi dan rasa tidak aman.

5. Toad Road (2012)

Toad Road (dok. Blackout Films/Toad Road)

Toad Road berada di wilayah abu-abu antara horor, drama, dan eksperimen personal. Film ini mengikuti sepasang anak muda yang tertarik mengunjungi lokasi misterius bernama Toad Road, tempat orang-orang konon menghilang. Setelah tragedi terjadi, kisahnya berubah menjadi perjalanan kehancuran diri yang brutal dan menyedihkan.

Horornya tidak eksplisit, tapi terasa seperti bayangan yang terus mengikuti. Film ini lebih menekankan rasa kehilangan, rasa bersalah, dan pelarian melalui narkoba serta rasa sakit fisik. Dengan gaya yang nyaris dokumenter, Toad Road menawarkan pengalaman horor yang emosional dan sangat tidak nyaman.

Film-film horor seperti ini membuktikan bahwa rasa takut tidak selalu harus datang dari kejutan keras atau visual ekstrem. Kadang, ketegangan pelan dan cerita yang ambigu justru jauh lebih menghantui. Dari lima film di atas, mana yang paling bikin kamu penasaran untuk ditonton malam ini?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team