Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
A Man Called Ove.
A Man Called Ove (dok. Sony Pictures/A Man Called Ove)

Intinya sih...

  • Amour (2012) menggambarkan cinta yang diuji hingga batas ekstrem, tanpa musik dramatis atau manipulasi emosi.

  • The Father (2020) membuat penonton merasakan demensia melalui sudut pandang Anthony yang kacau.

  • Vortex (2021) menampilkan penuaan tanpa kompromi, dengan split-screen yang memperlihatkan kehancuran mental dan emosional secara jujur.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Menua adalah proses yang tidak bisa dihindari, tapi jarang dibicarakan dengan jujur. Banyak film memilih menggambarkan penuaan secara manis, seolah semuanya bisa diselesaikan dengan cinta dan kenangan indah. Padahal, di balik tubuh yang melemah dan ingatan yang memudar, ada ketakutan, kehilangan, dan kesepian yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Film-film dalam daftar ini tidak menawarkan kenyamanan palsu. Mereka justru mengajak penonton menghadapi penuaan apa adanya yang kadang sunyi, kadang menyakitkan, tapi juga penuh makna. Lewat kisah cinta, keluarga, dan penerimaan diri, kelima film ini memperlihatkan bagaimana manusia belajar berdamai dengan waktu yang terus berjalan.

1. Amour (2012)

Amour (dok. Les Films du Losange/Amour)

Amour adalah film tentang cinta yang diuji sampai batas paling ekstrem. Georges dan Anne, pasangan pensiunan guru musik, harus menghadapi kenyataan pahit ketika Anne mengalami stroke dan lumpuh separuh tubuhnya. Georges menolak menyerahkannya ke rumah sakit atau panti jompo, memilih merawat istrinya sendiri demi menepati janji yang pernah ia ucapkan.

Keputusan tersebut perlahan mengubah kehidupan mereka menjadi rutinitas penuh kelelahan emosional. Michael Haneke menyajikan kisah ini tanpa musik dramatis atau manipulasi emosi murahan. Kamera bergerak tenang, seolah memaksa penonton ikut tinggal di ruang sempit yang penuh kesunyian itu.

Akting Jean-Louis Trintignant dan Emmanuelle Riva terasa begitu nyata hingga menyakitkan. Amour bukan sekadar film tentang cinta, tapi juga tentang batas ketahanan manusia saat usia dan waktu tidak lagi berpihak.

2. The Father (2020)

The Father (dok. Sony Pictures/The Father)

Berbeda dari film penuaan pada umumnya, The Father tidak hanya menceritakan tentang demensia, film ini membuat penonton merasakannya. Anthony, seorang pria tua yang keras kepala, menolak bantuan apa pun dari putrinya, Anne.

Seiring waktu, realitas mulai bergeser: wajah orang berubah, ruangan terasa asing, dan ingatan tidak bisa dipercaya. Kehebatan film ini terletak pada sudut pandangnya. Florian Zeller menempatkan penonton langsung di dalam pikiran Anthony yang kacau, membuat kita ikut bingung, frustrasi, dan takut.

Akting Anthony Hopkins yang memenangkan Oscar terasa menyayat hati, bukan karena kekejaman, tapi karena kepolosan seseorang yang perlahan kehilangan kendali atas pikirannya sendiri. The Father adalah pengingat menyakitkan bahwa menua juga bisa berarti kehilangan kepercayaan pada realitas.

3. Vortex (2021)

Vortex (dok. Utopia/Vortex)

Vortex menampilkan potret penuaan yang dingin dan tanpa kompromi. Film ini mengikuti pasangan lansia yang tinggal di apartemen sempit, secara fisik dekat namun secara emosional semakin terpisah. Sang suami sibuk dengan pekerjaannya, sementara sang istri perlahan kehilangan ingatan akibat demensia. Mereka berbagi ruang yang sama, tetapi hidup di dunia berbeda.

Penggunaan split-screen menjadi elemen paling menyayat di film ini. Dua layar berjalan bersamaan, dipisahkan garis hitam yang menunjukkan jarak tak terlihat semakin melebar. Gaspar Noé menolak meromantisasi penuaan, justru menyorot kehancuran mental dan emosional secara jujur. Vortex bukan tontonan yang nyaman, tapi justru di situlah kekuatannya.

4. Away From Her (2006)

Away From Her (dok. Lionsgate/Away From Her)

Film debut Sarah Polley ini mengisahkan Fiona dan Grant, pasangan yang telah menikah selama puluhan tahun. Ketika Fiona didiagnosis Alzheimer dan harus tinggal di panti perawatan, hubungan mereka mengalami perubahan yang tak terduga. Fiona justru jatuh cinta pada pasien lain, sementara Grant perlahan dihapus dari ingatannya.

Alih-alih menampilkan cinta yang heroik, Away From Her mengangkat kesedihan yang sunyi. Film ini mempertanyakan makna cinta sejati, apakah mencintai berarti memiliki atau justru merelakan? Julie Christie tampil luar biasa dengan kelembutan yang rapuh, membuat film ini terasa sangat nyata. Film ini menggambarkan kehilangan yang tidak bisa dicegah oleh usia.

5. A Man Called Ove (2015)

A Man Called Ove (dok. Sony Pictures/A Man Called Ove)

Ove adalah pria tua pemarah yang hidupnya terasa berhenti setelah istrinya meninggal. Ia merasa tidak lagi dibutuhkan, dunia berubah terlalu cepat dan kematian tampak seperti solusi logis. Namun rencana-rencananya selalu gagal, terutama karena kehadiran tetangga baru yang cerewet dan penuh empati.

Di balik humor gelapnya, A Man Called Ove adalah film yang hangat tentang kesempatan kedua. Film ini menunjukkan bahwa menua tidak selalu berarti akhir, melainkan fase baru yang bisa diisi dengan makna tak terduga.

Kisah Ove membuktikan bahwa hubungan manusia, sekecil apa pun bisa menjadi alasan untuk terus bertahan. Tak heran jika film ini begitu membekas dan kemudian dibuat ulang versi Hollywood dengan judul A Man Called Otto yang diperankan oleh Tom Hanks.

Kelima film ini membuktikan bahwa penuaan bukan sekadar soal angka atau keriput, melainkan perjalanan emosional yang kompleks. Dari semua kisah ini, film mana yang paling menggambarkan ketakutan dan harapanmu sendiri tentang menua?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team