Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Past Lives
Past Lives (dok. A24/Past Lives)

Intinya sih...

  • Past Lives (2023) mengikuti kisah Hae Sung dan Nora, dua sahabat kecil di Korea Selatan yang harus berpisah ketika keluarga Nora pindah ke Amerika Utara.

  • Atonement (2007) adalah kisah cinta tragis yang hancur bukan karena pilihan, melainkan karena kebohongan fatal.

  • The Age of Innocence (1993) menghadirkan kisah cinta yang terpendam di balik sopan santun dan norma sosial.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Tak semua kisah cinta berakhir bahagia, dan justru di situlah daya pukulnya terasa paling dalam. Film-film tentang cinta yang datang terlambat sering kali meninggalkan rasa sesak karena penontonnya dibuat sadar bahwa waktu bisa menjadi musuh paling kejam dalam hubungan. Bukan disebabkan kurang cinta, melainkan karena kesempatan yang sudah lewat dan tak bisa diulang.

Tema “andai saja” menjadi benang merah yang membuat film-film ini begitu membekas. Ada perpisahan karena keadaan, kesalahan kecil yang berdampak besar, hingga keberanian yang datang saat semuanya sudah terlambat. Berikut lima film romance tentang cinta datang terlambat paling nyesek. Buktti bahwa cinta tak selalu menang melawan waktu!

1. Past Lives (2023)

Past Lives (dok. A24/Past Lives)

Past Lives mengikuti kisah Hae Sung dan Nora, dua sahabat kecil di Korea Selatan yang harus berpisah ketika keluarga Nora pindah ke Amerika Utara. Bertahun-tahun kemudian, mereka kembali terhubung sebagai orang dewasa dan akhirnya bertemu di New York dalam sebuah akhir pekan yang penuh keheningan emosional.

Film ini tidak menawarkan konflik besar, tetapi justru menyayat lewat percakapan sederhana dan tatapan yang penuh makna. Yang membuat Past Lives begitu menghantui adalah caranya memandang cinta sebagai bagian dari takdir hidup, bukan sesuatu yang selalu bisa dimiliki.

Akting Greta Lee dan Teo Yoo terasa sangat natural, didukung sinematografi minimalis yang membuat ceritanya terasa intim dan nyata. Film ini tidak memaksa air mata, tetapi meninggalkan perasaan kosong yang sulit dijelaskan, tentang orang-orang yang mungkin tidak kita miliki, tetapi akan selalu tinggal di hati.

2. Atonement (2007)

Atonement (dok. Universal Pictures/Atonement)

Atonement adalah kisah cinta tragis yang hancur bukan karena pilihan, melainkan karena kebohongan fatal. Tuduhan keliru dari Briony yang masih remaja menghancurkan hubungan Cecilia dan Robbie, membawa konsekuensi yang menjalar selama puluhan tahun. Perang, jarak, dan waktu perlahan memisahkan mereka tanpa memberi kesempatan untuk memperbaiki segalanya.

Film garapan Joe Wright ini terasa begitu kejam, karena penonton dibuat berharap hingga detik terakhir. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, semuanya sudah terlambat. Atonement bukan sekadar cerita cinta yang gagal, melainkan pengingat pahit bahwa satu kesalahan bisa mengubah hidup banyak orang. Ending-nya menjadi salah satu yang paling menyakitkan dalam sejarah film romance.

3. The Age of Innocence (1993)

The Age of Innocence (dok. Sony Pictures/The Age of Innocence)

Dalam The Age of Innocence, Martin Scorsese menghadirkan kisah cinta yang terpendam di balik sopan santun dan norma sosial. Newland Archer jatuh cinta pada Ellen Olenska, tetapi memilih menikahi May Welland demi tuntutan masyarakat kelas atas New York. Selama bertahun-tahun, Newland dan Ellen hanya bisa saling mendekat tanpa benar-benar bersama.

Film ini menyampaikan rasa sakit bukan lewat dialog berapi-api, melainkan lewat hal-hal yang tidak pernah diucapkan. Tatapan, jeda, dan keputusan yang ditahan justru menjadi sumber luka terbesar. Ketika akhirnya Newland memiliki kesempatan untuk bersama Ellen di masa tua, ia memilih mundur. Cinta mereka tetap abadi justru karena tak pernah terwujud.

4. In the Mood for Love (2000)

In the Mood for Love (dok. Leonine Studios/In the Mood for Love)

Film karya Wong Kar-wai ini bercerita tentang dua tetangga yang sama-sama diselingkuhi pasangan mereka. Perlahan, keduanya membangun kedekatan emosional, tetapi memilih menahan diri agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Hubungan mereka dipenuhi percakapan singkat, pertemuan tak sengaja, dan perasaan yang dipendam terlalu lama.

In the Mood for Love terasa menyesakkan karena hampir tidak ada yang benar-benar terjadi, tetapi semuanya terasa sangat intens. Visual yang indah, musik melankolis, dan tempo yang lambat membuat penonton ikut tenggelam dalam kerinduan yang tertahan. Ini adalah film tentang cinta yang sebenarnya ada, tetapi tidak pernah diberi ruang untuk hidup.

5. Before Sunset (2004)

Before Sunset (dok. Warner Bros/Before Sunset)

Sebagai lanjutan dari Before Sunrise (1995), Before Sunset mempertemukan kembali Jesse dan Céline setelah 9 tahun berpisah. Mereka hanya memiliki satu sore di Paris untuk berbincang, mengingat masa lalu, dan menyadari perasaan yang belum sepenuhnya padam. Percakapan mereka mengalir natural, tetapi di balik itu tersimpan banyak penyesalan.

Film ini terasa begitu dekat dengan kehidupan nyata, karena tidak menawarkan drama berlebihan. Justru lewat dialog panjang dan jujur, penonton diajak menyadari betapa mudahnya kesempatan berlalu tanpa disadari. Before Sunset menyakitkan karena memperlihatkan bagaimana cinta bisa tetap hidup, meski waktunya sudah tidak lagi berpihak.

Kelima film ini membuktikan bahwa cinta yang datang terlambat sering kali lebih membekas daripada cinta yang berhasil dimiliki. Dari kisah yang sunyi hingga tragedi besar, semuanya mengingatkan kita bahwa tidak semua perasaan mendapat kesempatan kedua. Menurutmu, film mana yang paling menggambarkan kisah hidupmu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team