Metropolis (dok. UFA/Metropolis)
Salah satu film sci-fi paling berpengaruh sepanjang masa kebetulan berlatar 2026, nih. Metropolis garapan Fritz Lang merupakan studi dari ekspresionisme Jerman. Fun fact, nih, rupanya film Metropolis sangat memengaruhi film Batman karya Tim Burton. Namun, di luar estetika, film ini punya banyak hal untuk disampaikan tentang tahun 1920-an yang masih relevan hingga saat ini.
Metropolis berlatar di distopia futuristik, tempat terjadinya kesenjangan ekonomi antara si kaya, yang tinggal di gedung pencakar langit, dan si miskin, yang bekerja keras dengan mengoperasikan mesin-mesin besar untuk menggerakkan kota. Kamu mungkin menyadari kesenjangan ekonomi di era modern ini. Jadi, Metropolis bisa dibilang berhasil memprediksi masa depan.
Kita ambil contoh negeri Paman Sam. Pada Januari 2026, Federal Reserve mengungkapkan bahwa pada 2025, 1 persen orang Amerika terkaya memiliki 31,7 persen dari seluruh kekayaan. Fakta ini sungguh miris, mengingat ekonomi Indonesia gak jauh lebih baik. Namun, itu hanya sebagian dari persamaan yang membuat Metropolis dikenang hingga hari ini.
Metropolis juga sangat penting dalam evolusi AI yang menakjubkan dalam film. Maria (diperankan Brigitte Helm) memberi harapan kepada para pekerja agar mereka bisa mendapat keadilan dari bos-bos mereka. Nah, karena kesal, salah satu orang yang sangat kaya, Joh Fredersen (diperankan Alfred Abel), membuat robot yang menyerupai Maria untuk mengontrol dan menghasut para pekerja untuk memberontak.
Dalam film ini terlihat jelas bagaimana robot AI diciptakan sangat mirip dengan manusia. Apalagi Metropolis mampu memprediksi penggunaan AI sebagai alat manipulasi. Pasalnya, banyak konten AI yang gak bermutu membanjiri media sosial kita saat ini. Jadi sulit banget bagi kita untuk membedakan mana yang nyata dan mana yang palsu.