Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
4 Film Thriller-Psikologis Marissa Anita, Terbaru Crocodile Tears!
Film Crocodile Tears (dok. Talamedia/Crocodile Tears)
  • Marissa Anita dikenal sebagai aktris yang sering membintangi film bergenre thriller-psikologis, setelah memulai kariernya dari dunia jurnalistik dan teater sejak pertengahan 2000-an.
  • Empat film thriller-psikologis yang dibintanginya meliputi Perempuan Tanah Jahanam, Dendam Malam Kelam, A Normal Woman, dan karya terbarunya Crocodile Tears.
  • Setiap film menampilkan karakter perempuan kompleks dengan konflik batin mendalam, memperlihatkan kemampuan Marissa Anita dalam mengeksplorasi sisi psikologis manusia melalui peran-perannya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Marissa Anita memulai karirnya sebagai seorang reporter pada tahun 2008. Karena sempat menjadi pemain teater sejak 2005, ia pun mulai membintangi sederet film pendek pada tahun 2010. Setelahnya, Marissa Anita semakin produktif di industri perfilman hingga saat ini.

Selama menggeluti karir berakting, salah satu genre yang kerap dibintanginya adalah thriller-psikologis. Terbaru ada film Crocodile Tears, berikut ini empat rekomendasi film thriller-psikologis yang dibintangi Marissa Anita.

1. Perempuan Tanah Jahanam (2019)

Film Perempuan Tanah Jahanam (dok. BASE Entertainment/Perempuan Tanah Jahanam)

Memadukan genre horor dengan thriller-psikologis, Perempuan Tanah Jahanam menceritakan kisah Maya (Tara Basro) dan Dini (Marissa Anita), dua orang sahabat yang bekerja keras untuk bertahan hidup di kota. Beragam cara mereka lakukan untuk mencari rezeki, termasuk berbisnis. Namun, usaha mereka selalu gagal. Hingga akhirnya, Maya mendapat informasi bahwa dirinya mungkin memiliki harta warisan dari keluarganya di desa. Maya bersama Dini pun mulai menelusuri kampung keluarganya terdahulu.

Sesampainya di kampung, Maya dan Dini mampir ke sebuah rumah kosong. Keadaan di sekitar kampung tersebut juga terlihat aneh, salah satunya banyak kuburan anak-anak. Pada suatu malam, Maya mendengar jeritan perempuan yang hendak melahirkan. Maya pun menuju asal suara dan menyaksikan proses kelahiran tersebut. Dari situlah, misteri kampung yang ditinggali Maya dan Dini mulai terungkap sedikit demi sedikit.

2. Dendam Malam Kelam (2025)

Film Dendam Malam Kelam (dok. Falcon Pictures/Dendam Malam Kelam )

Diadaptasi dari film Spanyol berjudul The Body (2012), Dendam Malam Kelam mengangkat kisah hilangnya jasad seorang perempuan bernama Sofia (Marissa Anita). Ia diketahui meninggal karena dibunuh oleh suaminya sendiri, Jefri (Arya Saloka). Sang suami, dulunya adalah dosen biasa sebelum kemudian menjabat sebagai direktur di perusahaan milik keluarga Sofia. Rumah tangga mereka mulai goyah ketika hadir orang ketiga, yakni Sarah (Davina Karamoy), yang tak lain adalah mahasiswi Jefri.

Untuk menjaga hubungan gelap mereka tetap tersembunyi, Jefri dan Sarah menyusun rencana pembunuhan terhadap Sofia. Setelah Sofia tewas di tangan Jefri, keduanya pun menyusun alibi yang solid demi menghindari kecurigaan dari aparat. Namun, keluarga Sofia merasa ada yang janggal dan meminta jasadnya diotopsi. Anehnya, jenazah Sofia yang sebelumnya disimpan di ruang forensik rumah sakit mendadak lenyap tanpa jejak.

Arya Pradana (Bront Palarae), seorang penyidik kepolisian pun ditugaskan untuk segera memulai penyelidikan. Ia menelusuri setiap petunjuk, menelaah fakta, dan mencoba menyingkirkan segala keraguan. Selama proses itu, berbagai desas-desus dan pertanyaan misterius mulai bermunculan. Hubungan antara Jefri dan Sarah pun mulai renggang, diliputi rasa bersalah dan saling curiga.

3. A Normal Woman (2025)

Film A Normal Woman (dok. Netflix/A Normal Woman)

A Normal Woman menyoroti kisah seorang perempuan modern bernama Milla (Marissa Anita), yang terlihat menjalani kehidupan dengan kemewahan dan ketenangan. Milla dikenal sebagai sosok yang anggun, sukses, hingga banyak yang berdecak kagum terhadap karisma yang dipancarkannya. Tetapi di balik penampilan luar yang sempurna, sebenarnya Mila menyimpan kegelisahan yang perlahan mulai muncul ke permukaan.

Hingga suatu hari, ia tiba-tiba terjangkit penyakit misterius yang sulit dijelaskan. Sejak itu kehidupan Mila pun mulai berantakan. Rasa sakit itu bukan hanya berasal dari tubuhnya, tetapi juga dari tekanan sosial yang selama ini ia alami sebagai perempuan di lingkungan modern. Ia merasa terasing dari dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya, seolah-olah tubuhnya bukan miliknya lagi. Perjalanan Milla untuk mengungkap kebenaran di balik penyakitnya justru membawanya berhadapan dengan masa lalu yang kelam.

4. Crocodile Tears (2026)

Film Crocodile Tears (dok. Talamedia/Crocodile Tears)

Crocodile Tears berpusat pada Johan (Yusuf Mahardika), seorang pemuda yang hidup terisolasi bersama ibunya di sebuah peternakan buaya tua di wilayah terpencil. Sejak kecil, dunia Johan hanya berkisar pada peternakan tersebut dan rutinitas membantu sang ibu (Marissa Anita) merawat buaya tanpa banyak bersentuhan dengan kehidupan luar. Situasi mulai berubah ketika Johan bertemu Arumi (Zulfa Maharani) dan merasakan cinta pertamanya.

Kehadiran Arumi membuat Johan mulai mempertanyakan hidup yang selama ini dijalaninya dan memunculkan keinginan untuk mengenal dunia di luar peternakan. Sayangnya, hubungan itu justru memicu konflik baru. Sang ibu yang selama ini sangat protektif perlahan menunjukkan sikap obsesif dan sulit menerima kenyataan bahwa anaknya mulai ingin hidup mandiri. Ketegangan emosional di antara para karakter berkembang menjadi konflik psikologis yang semakin intens.

Marissa Anita memang dikenal sebagai salah satu aktris yang kerap menampilkan karakter berbeda-beda di tiap film yang ia bintangi. Untuk kamu yang suka film dengan genre thriller-psikologis, deretan film-film Marissa Anita di atas pastinya gak boleh sampai ketinggalan, nih.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team