cuplikan adegan ketika Harry Potter bertemu Voldemort (dok. Warner Bros. Pictures/Harry Potter and the Deathly Hallows Part II)
Serial Harry Potter, baik yang dicetak lewat buku maupun yang ditayangkan di layar lebar, sering dikritik di kalangan Kristen konservatif karena ilmu sihir dan ilmu hitamnya. Organisasi Katolik dan Evangelis bahkan melarang film-film Harry Potter untuk ditonton. Namun, dikutip Premier Christianity, penulis JK Rowling justru merujuk pada Kitab Injil untuk membantunya menyusun narasi sihir dalam cerita Harry Potter. Bahkan, film terakhirnya, Harry Potter and the Deathly Hallows merujuk langsung pada Passion and Resurrection of Jesus Christ atau kesengsaraan dan kebangkitan Yesus.
Konsep kebangkitan muncul dalam film Harry Potter and the Deathly Hallows Part I. Saat Harry dan Hermione datang ke makam orangtua Harry di Godric's Hollow, adegan ini merujuk pada ayat 1 Korintus 15:26 yang berbunyi, "Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut." Umat Kristen percaya bahwa dengan mati di kayu salib, Yesus membinasakan kematian. Nah, gagasan ini muncul dalam Harry Potter, tokoh utama yang menjadi sosok Kristus yang menghancurkan perwujudan kejahatan, yakni penyihir gelap Voldemort.
Dalam Harry Potter and the Deathly Hallows, Harry Potter menyadari bahwa dialah Horcrux terakhir, sebuah wadah yang berisi sebagian jiwa Voldemort yang harus dihancurkan agar penyihir jahat itu mati untuk selamanya. Nah, untuk menghancurkan bagian Voldemort ini dan menyelamatkan dunia sihir, Harry harus mengorbankan dirinya sendiri. Meski Voldemort meremehkan Harry yang mampu ia kalahkan, tetapi Neville Longbottom bersikeras kalau kematian Harry gak sia-sia.
Harry Potter kemudian bangkit dari kematiannya, seperti kebangkitan Yesus Kristus. Dalam pertempuran berikutnya, Voldemort mampu dikalahkan Harry Potter karena kematian Harry sebelumnya telah menghancurkan jiwa Voldemort. Dalam kisah ini, Harry Potter bisa dibilang sebuah interpretasi kehidupan Yesus Kristus.