Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Hindia Minta Lagu Peradaban Tak Dipakai untuk Diskriminasi Kaum Queer
potret Hindia (Instagram.com/wordfangs)
  • Lagu 'Peradaban' dari .Feast jadi sorotan setelah potongan liriknya digunakan di X untuk membenarkan pandangan anti-queer, memicu perdebatan antar pengguna.
  • Hindia menegaskan lagu-lagunya tidak boleh dipakai untuk menyerang atau merendahkan kelompok minoritas, dan meminta penyalahgunaan tersebut segera dihentikan.
  • Pernyataan Hindia tentang istilah minoritas memicu pro-kontra di kalangan netizen; sebagian menilai queer bukan minoritas, sementara lainnya mendukung sikap tegas Hindia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Lagu “Peradaban” yang dipopulerkan oleh grup musik .Feast kini menjadi sorotan di media sosial, terutama platform X. Potongan lirik lagu yang dirilis pada 13 Juli 2018 tersebut digunakan oleh seorang pengguna X untuk membenarkan pandangan anti-queer.

Sebagai pencipta lagu sekaligus vokalis .Feast, Hindia atau yang juga dikenal sebagai Baskara Putra, secara tegas menolak penggunaan lirik tersebut untuk tujuan itu. Namun di sisi lain, pernyataan Hindia juga memicu perdebatan di kalangan netizen. Kok bisa?

1. Awal mula lagu “Peradaban” dari .Feast dikaitkan dengan anti-queer

postingan @kutukamwni (x.com/kutukamwni)

Pada Senin (23/3/2026), akun X @HeartsteeIer mengungkap keresahannya mengenai komunitas kreatif yang dianggap masih memiliki sikap anti-queer. Setuju dengan pernyataan itu, akun @aromapetrikorr menilai bahwa hal sikap anti-queer tidak sesuai dengan citra bebas dalam komunitas tersebut.

“Yakan… kalian yang bergaya alt, punk, atau skena lainnya, tapi masih queerphobic, mendingan ganti pake kaos partai aja,” tulisnya.

Diskusi ini pun menjadi semakin memanas saat akun @kutukamwni ikut nimbrung dengan membawa potongan lirik lagu “Peradaban” dari .Feast, yang berisi, “Hidup tak sependek penis laki-laki. Jangan coba atur berpakaian kami.” Ia juga membalas komentar @aromapetrikorr dengan menuliskan, “Dih ngatur lo siapa kocak? Lopada mau pake pelangi pelangi juga kita gak peduli monyed.”

2. Respons Hindia, minta lagu “Peradaban” tak digunakan untuk merendahkan kaum minoritas

postingan Hindia (x.com/wordfangs)

Perdebatan ini pun sampai ke Hindia. Ia menanggapi postingan akun X @kutukamwni secara langsung dan menunjukkan sikap tegasnya. Dalam pernyataannya, Hindia menegaskan lagu-lagunya tidak boleh digunakan untuk merendahkan kelompok yang ia sebut sebagai minoritas, dan meminta agar hal tersebut segera dihentikan.

“Berhenti menggunakan lagu-laguku untuk menyerang atau merendahkan kelompok minoritas. Pergi sana!”, tulisnya secara singkat, Selasa (24/3/2026)

3. Pernyataan Hindia tuai kontroversi, netizen perdebatkan istilah minoritas

potret Hindia (Instagram.com/wordfangs)

Di sisi lain, pernyataan Hindia tersebut justru menuai kontroversi dan memicu perdebatan di kalangan netizen, terutama karena ia menggunakan istilah minoritas. Beberapa netizen merasa kecewa dan menilai bahwa queer bukanlah kelompok minoritas, melainkan penyimpangan.

Namun, tak sedikit juga netizen yang membela Hindia. Mereka menilai bahwa respons Hindia tersebut justru menegaskan penolakannya terhadap penyalahgunaan karyanya. Gimana menurutmu?

Editorial Team