Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kelebihan dan Kekurangan The Boys Season 5, Gagal Jadi Penutup Epik?
The Boys (dok. Prime Video/The Boys)
  • The Boys Season 5 gagal sebagai penutup karena alur ceritanya berantakan dan banyak subplot yang tidak penting.

  • Perkembangan karakter tetap kuat, tetapi aksi besar dan klimaks pertarungan terasa kurang epik serta antiklimaks.

  • Ritme cerita tidak konsisten dan terasa seperti lebih fokus ke spin-off sehingga mengurangi dampak emosional akhir cerita.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

The Boys jadi serial bertema superhero yang brutal dan kelam unggulan Prime Video. Serial ini baru saja merampungkan musim terakhirnya pada Rabu (20/5/2026) kemarin. The Boys Season 5 lantas menjadi akhir perseteruan Billy Butcher (Karl Urban) dan Homelander (Antony Starr) yang sudah berjalan sejak 2019 lalu.

Namun, musim kelima ini mendapatkan respons yang beragam. Banyak yang menganggap ia sudah memberikan penutup yang baik, tetapi tidak sedikit yang mengkritik kalau eksekusi musim kelima ini terasa kurang. Lantas, apa kelebihan dan kekurangan The Boys Season 5? Yuk, simak ulasan dari penulis di bawah ini!

1. Sebagai cerita penutup, alur ceritanya berantakan, bahkan dibikin jadi promosi spin-off

cuplikan adegan episode The Boys yang terasa seperti promosi spin-off Vought Rising (dok. Prime Video/The Boys)

Melanjutkan dari musim keempat, Billy Butcher bersama The Boys menjalankan rencana mereka untuk membunuh Homelander. Kalau kamu berharap sebuah cerita klimaks yang epik, kamu bakal kecewa. Pasalnya, The Boys Season 5 malah gagal membangun momentum dan hype yang biasanya terasa dalam musim terakhir serial fiksi.

Sebenarnya, alur cerita utamanya cukup sederhana. The Boys harus mencari cara untuk bisa membunuh Homelander dengan virus yang mereka ciptakan. Sayangnya, alurnya malah ngalor ngidul karena banyaknya subplot tidak penting. Subplot pencarian serum V1 bahkan memakan tiga episode. Pengenalan banyak karakter baru, seperti Bombsight (Mason Dye) dan Oh Father (Daveed Diggs), juga sebenarnya tidak penting serta malah membuat cerita makin ribet.

2. Semua karakter utama memang mendapatkan akhir yang solid

Homelander berhalusinasi mendapatkan ilham untuk jadi Mesias. (dok. Prime Video/The Boys)

Satu hal yang patut diapresiasi dari musim kelima ini ialah bagaimana setiap karakter dapat mengalami perkembangan yang solid. Bahkan, beberapa episode didedikasikan untuk karakter pendukung sebagai fokus utama. The Boys Season 5 mendalami motivasi, resolusi, dan peran mereka dalam cerita.

Ada Frenchie (Tomar Capone) yang gak hanya jadi peracik virus, tetapi juga menjadi si peredam tim ketika The Boys saling bersitegang. Lalu, Starlight (Erin Moriarty) berhasil berdamai dengan diri sendiri, keluarga, dan kekasihnya sehingga menemukan kekuatan untuk melawan rezim Homelander. Bahkan, karakter baru seperti Bombsight juga diberikan cerita yang solid.

Sementara itu, penokohan sang penjahat utama, Homelander, juga dieksekusi dengan baik. Ia tidak digambarkan serbaangkuh dan dingin seperti pada beberapa musim sebelumnya. Musim kelima memperlihatkan sisi rapuh dari Homelander. The Boys Season 5 memperlihatkan berbagai gangguan mental yang akhirnya membuatnya mengalami God Complex.

3. The Boys Season 5 kekurangan adegan aksi megah dan brutal

pertarungan akhir Billy Butcher vs. Homelander (dok. Prime Video/The Boys)

Apa yang kamu bayangkan ketika mendengar tentang musim terakhir dari serial fiksi bertema superhero? Biasanya, orang-orang akan membayangkan pertarungan epik dan destruktif, kan? Sayangnya, The Boys Season 5 juga gagal mempresentasikannya. Pertarungan akhir melawan Homelander terjadi di ruang presiden dengan kerusakan minim. Padahal, ada beberapa manusia berkekuatan super sedang bertarung mati-matian.

Satu-satunya adegan aksi dengan efek keren dalam musim kelima ini terjadi pada episode pertama, saat Homelander kejar-kejaran dengan A-Train (Jessie T Usher). Setelah itu, tidak ada efek-efek CGI yang mewah. Yang ada hanyalah pertarungan kecil dan dialog. Bahkan, adegan-adegan brutal juga berkurang secara signifikan.

4. Desain audio dieksekusi dengan baik

The Boys siap beraksi. (dok. Prime Video/The Boys)

Dari segi tata suara atau desain audio, The Boys Season 5 dieksekusi dengan baik. Pertama, musik pengiring berhasil membuat berbagai adegan lebih imersif dengan berbagai musik yang artistik, contohnya saat momen Homelander menunjukkan kegilaannya. The Boys Season 5 banyak diiringi musik frantic yang menciptakan ketegangan untuk penonton.

Selain musik pengiring, pemberian suara latar dan efek sangat baik, misalnya saat Homelander terbang dan mendarat atau adanya suara menggelegar seperti pesawat jet. Contoh lainnya saat pertarungan tangan kosong. Kamu bisa merasakan beban pukulan lewat pemberian efek yang baik.

5. Eric Kripke seolah membuang pembangunan cerita selama empat musim untuk cerita akhir yang lemah

Homelander (dok. Prime Video/The Boys)

Secara keseluruhan, The Boys Season 5 ini menjadi penutup yang lemah untuk serial The Boys yang awalnya cukup menjanjikan. Momentum yang dibangun selama empat musim seolah dibuang begitu saja dan digantikan dengan cerita yang ala kadarnya. Masalah utamanya adalah ritme cerita yang tidak konsisten. Dua musim spin-off Gen V juga tidak berdampak signifikan dan malah terasa sia-sia.

The Boys Season 5 terasa lambat dan banyak sekali adegan yang tidak penting, mulai dari episode pertama hingga penultimate. Namun, episode terakhir malah diburu-buru karena harus menyelesaikan dua plot utama yang harusnya bisa dicicil mulai tiga episode sebelumnya. Ini membuat ceritanya antiklimaks. Apalagi, eksekusi pertempuran akhirnya juga terlalu biasa. Tidak ada perasaan emosional yang didapatkan. Semua berakhir terlalu cepat dan mulus.

Ngomong-ngomong, Eric Kripke juga secara terang-terangan menggunakan musim final ini sebagai promosi untuk spin-off terbaru bertajuk Vought Rising. Kemunculan Bombsight, subplot V1, dan kembalinya Soldier Boy (Jensen Ackles), semuanya ternyata hanya untuk promosi. Ini membuat fokus serialnya jadi terganggu.

Demikian ulasan penulis untuk serial andalan Prime Video ini. Sebagai penutup serial sebesar The Boys, musim kelima terasa kurang mampu memberikan ledakan emosional yang benar-benar membekas. Ritme cerita tidak konsisten, adegan aksinya berkurang drastis, adanya agenda promosi, dan pertarungan akhir yang antiklimaks. Terlepas dari banyaknya masalah pada musim terakhir ini, Eric Kripke setidaknya berhasil menutup ceritanya dengan baik. Para karakter The Boys mendapatkan happy ending mereka dan memulai kehidupan yang lebih damai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎