Taylor Swif best nine di 2016 (Instagram.com/taylorswift)
Bukan semata-mata mengenang 10 tahun yang lalu, sentimen dan bahasan tentang 2016 awalnya berasal dari media dan netizen Amerika Serikat. Suasana satu dekade yang lalu dianggap jauh berbeda dari masa kini.
Harpers Bazaar bahkan mencetuskan 2016 sebagai The Last Good Year atau 'tahun baik terakhir yang pernah ada.' Pasalnya, di Amerika Serikat iklim politik masih cenderung adem. Pada 2016, Donald Trump baru terpilih sehingga ia belum menjabat dan mencetuskan kebijakan-kebijakan yang dianggap memicu krisis ekonomi, sosial, dan politik yang mempengaruhi banyak aspek kehidupan dan berdampak besar hingga 2026
Pen Pineapple Apple Pen (YouTube.com/Ultra Records)
Pada 2016, meski media sosial sudah mulai marak, tapi lini masa tiap orang belum terlalu dikendalikan oleh algoritma dan terasa otentik. Banyak tren-tren bagus yang bermunculan, tapi diikuti oleh netizen murni untuk bersenang-senang. Bukan sarana meningkatkan engagement dan meraup uang seperti sekarang. Kamu masih ingat dengan tren PPAP (Pen Pineapple Apple Pen), kan? Pernah ngikutin gerakannya?
Bisa dibilang, perasaan-perasaan ini juga dihadapi oleh Millenial dan Gen Z di negara lain, termasuk Indonesia. Pasalnya usai 10 tahun berlalu, mereka kini sudah dihadapkan dengan quarter life crisis, kerasnya dunia pekerjaan, tantangan ekonomi, hingga diskursus politik.
Bagi saya yang kala itu baru berusia 20 tahun, 2016 terasa lebih menyenangkan, penuh tantangan, tapi tetap guyub. Tahun 2016 semakin menyenangkan, karena orang-orang di sekitar saya tidak fokus mencari validasi di media sosial dan lebih banyak berbaur di dunia nyata. Segalanya terasa lebih simple and fun!