Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Cast Baru Snape di Serial HBO Harry Potter Tuai Reaksi Keras?
potret Paapa Essiedu sebagai Snape (Instagram.com/harrypotter)
  • Trailer serial Harry Potter dari HBO memicu perdebatan karena penampilan Paapa Essiedu sebagai Snape dianggap berbeda dari deskripsi buku, terutama soal warna kulit dan interpretasi karakter.
  • Sebagian penggemar khawatir perubahan ras Snape dapat mengubah makna konflik dengan tokoh lain, bahkan menimbulkan kesan isu rasisme dalam adegan tertentu yang sensitif.
  • Perubahan ras Snape juga dinilai berisiko memperkuat stereotip negatif terhadap keturunan Afrika, meski sebagian fans mendukung keputusan casting karena kemampuan akting Paapa Essiedu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sejak dirilis pada Rabu (25/3/2026), trailer Harry Potter series HBO langsung mencuri perhatian. Meski singkat, penampilan Paapa Essiedu sebagai Professor Severus Snape, tak lepas dari sorotan dan memicu perbincangan sengit di media sosial.

Banyak penggemar yang memuji pemilihan aktor tersebut sebagai langkah berani, namun tak sedikit juga yang melempar protes. Kenapa? Apa penyebabnya? Yuk, mari kita bahas!

1. Penampilan Snape yang diperankan oleh Paapa Essiedu dinilai melenceng dari deskripsi buku

Paapa Essiedu sebagai Severus Snape dalam serial Harry Potter and the Philosopher's Stone (dok. HBO Max/Harry Potter and the Philosopher's Stone)

Salah satu alasan kuat beberapa penggemar memprotes pemilihan Paapa Essiedu adalah karena penampilannya sebagai Professor Severus Snape dianggap berbeda dari deskripsi karakter yang digambarkan di buku karya J. K. Rowling. Dalam novel, Snape digambarkan "berkulit pucat, berambut hitam panjang berminyak, serta memiliki hidung yang melengkung dan aura dingin yang khas." Namun, di trailer HBO, penampilan Paapa Essiedu dinilai tidak akurat, terutama jika dilihat dari warna kulit.

Meski begitu, tak sedikit juga penggemar yang membela bahwa buku tidak pernah secara eksplisit menyebut ras Snape sebagai putih. Oleh karena itu, menurut mereka, aktor mana pun berhak untuk memerankan karakter tersebut selama mampu menghadirkan akting yang layak.

Gak cuma soal visual, perdebatan tentang pemilihan Essiedu juga meluas karena dianggap sebagai bentuk woke culture yang memaksakan keberagaman. Hal ini pun kemudian menimbulkan ketegangan antara penggemar yang ingin setia pada buku dan mereka yang terbuka terhadap reinterpretasi modern.

2. Adanya perubahan ras yang dikhawatirkan mempengaruhi konflik cerita

Paapa Essiedu dikabarkan perankan Severus Snape (dok. Urban Myth Films/The Lazarus Project | dok. Warner Bros/Harry Potter Film Series)

Menurut beberapa penggemar, perubahan ras karakter Snape ini juga dikhawatirkan dapat mempengaruhi persepsi penonton terhadap konflik dan nuansa cerita. Snape dikenal sebagai karakter yang memiliki dinamika konflik dengan tokoh lain, terutama Harry Potter dan ayahnya, James. Oleh Karena itu, jika Snape ditampilkan dengan kulit hitam, sebagian penggemar merasa khawatir jika konflik yang awalnya merupakan permusuhan personal malah terkesan membawa isu rasisme.

Apalagi akan ada adegan James Potter menggantung Snape di pohon saat mereka masih jadi murid Hogwarts. Banyak fans, terutama asal Amerika Serikat, yang khawatir jika ras Snape berubah, adegan ini akan menyerupai tindak kejahatan lynching yang bermotif rasisme. Sebagai informasi, sebelum masa Gerakan Hak-Hak Sipil di Amerika Serikat, banyak orang keturunan Afrika yang menjadi korban kejahatan tersebut oleh para ekstremis supremasi kulit putih. Tindakan ini meliputi pengeroyokan dan menggantung korban keturunan Afrika di pohon.

3. Perubahan ras Snape dianggap berisiko memperkuat stereotip negatif terhadap orang keturunan Afrika

potret Paapa Essiedu sebagai Snape (Instagram.com/harrypotter)

Perubahan ras karakter Snape ini juga dinilai berisiko memperkuat stereotip negatif terhadap orang keturunan Afrika oleh beberapa fans. Dalam sebagian cerita Harry Potter, Snape digambarkan sebagai karakter antagonis. Ia kerap bersikap kejam kepada Harry, menegur muridnya dengan keras, dan bahkan pernah menjadi Pelahap Maut alias antek-antek Voldemort.

Karena penggambaran sifat antagonisnya yang kontroversial, beberapa penggemar khawatir karakter Snape yang mengalami perubahan ras, bisa secara tidak sengaja dianggap menimbulkan stereotip negatif terhadap orang keturunan Afrika. Padahal, dalam buku asli, sifat antagonis Snape tidak ada hubungannya dengan ras.

Kini penggemar pun terpecah menjadi dua bagian. Meskipun sebagian penggemar menolak perubahan ras karakter Snape, di sisi lain tak sedikit juga yang membela bahwa pemilihan Paapa Essiedu merupakan keputusan yang tepat karena aktingnya yang memang sudah terbukti. Gimana menurutmu?

Editorial Team